Selasa, 18 Jun 2019
  • Home
  • Opini
  • Larang Tarif Promo Taksi Online, Menhub: Kasihan Sopirnya

Larang Tarif Promo Taksi Online, Menhub: Kasihan Sopirnya

admin Senin, 31 Desember 2018 10:39 WIB
Jakarta (SIB)- Pemerintah lewat Kementerian Perhubungan (Kemenhub) melarang taksi online memberikan tarif promo. Kebijakan itu tercantum dalam Peraturan Menteri Perhubungan (Permenhub) Nomor PM 118 Tahun 2018. Pada Pasal 27 ditulis perusahaan aplikasi dilarang menetapkan tarif dan memberikan promosi tarif di bawah tarif batas bawah.

Menteri Perhubungan Budi Karya Sumadi pun buka suara soal aturan baru ini. Budi Karya mengatakan, ketentuan itu lahir karena rasa kasihan pada sopir taksi online, sebab tarif promo membuat komponen pembentuk tarif taksi online dikorbankan. Salah satunya pendapatan sopir.

Alhasil, sopir pun bekerja lebih lama untuk mengejar pendapatan. Dari yang biasanya 8 jam sehari menjadi 12 jam sehari.

Tarif Taksi Online Sudah Dihitung
Menteri Perhubungan menerangkan, larangan tarif promo diterapkan agar tidak ada komponen tarif taksi online dikorbankan, termasuk pendapatan sopir. Dia bilang, pemerintah sendiri sudah menghitung tarif untuk taksi online.

"Jadi gini, kan tarif itu sudah kita hitung dengan komponen-komponen yang harus dipenuhi oleh satu industri, yaitu ada komponen penyusutan artinya kalau dia rusak nanti mesti beli lagi, komponen bensin, komponen perawatan, bagian untuk sopir sudah dipas gitu lho. Ada komponen untung operator gitu lho," katanya di Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian, Jakarta Pusat, Jumat (28/12).

Dia mengatakan, dengan adanya promo maka ada komponen yang dikorbankan salah satunya pendapatan sopir. Tak heran, saat ini banyak sopir yang bekerja hingga 12 jam.

"Kalau sekarang ini mereka nggak cukup uangnya, mereka bekerja lebih lama, tadinya 8 jam sekarang 12 jam bahkan lebih dari itu," katanya.

"Berarti untuk mencukupi dirinya sendirinya nggak cukup tuh bagian dia, belum lagi perawatan yang lain, ganti ban nggak ada. Kalau diskon-diskon berkaitan dengan pendapatan pengemudi maka level of service dan safety akan turun," ungkapnya.

Oleh karena itu, Mantan Bos Angkasa Pura II ini meyakini pendapatan sopir berkurang karena adanya tarif promo. Hal itu juga terlihat dari kondisi kendaraan yang dipakai.

"Naturaly begitu, coba lihat taksi online waktu zaman pertama keluar kan lain, tidak dirawat, lebih dekil, pengemudinya juga lusuh-lusuh karena kerja lebih panjang. Saya lihat udah lah, dengan harga gitu aja, kalau mau kasih bonus itu korporasi yang kasih terserah, tapi jangan korbankan pengemudi," terangnya. (detikfinance/h)
Editor: admin

T#gs
Komentar
Komentar
Silakan Login untuk memberikan komentar.
FB Comments