Selasa, 15 Okt 2019
  • Home
  • Opini
  • Konferensi Tahunan Gereja Methodist Indonesia, Merevitalisasi Nilai Methodist dalam Kemajemukan

Konferensi Tahunan Gereja Methodist Indonesia, Merevitalisasi Nilai Methodist dalam Kemajemukan

Oleh Bishop Kristi Wilson Sinurat STh MPd (Pimpinan Gereja Methodist Indonesia Wilayah I)
admin Jumat, 14 Juni 2019 17:37 WIB
Salah satu pergulatan teologis terbesar dunia pada abad ini, selain menyangkut pada upaya memperbaiki alam ciptaan Tuhan, juga menyangkut pergulatan kemajemukan agama, sekte, suku, etnis, bangsa, preferensi politik dan seterusnya. Dunia pada faktanya ditandai dengan konflik berdarah akibat dari realitas pluralitas kemajemukan itu sendiri. Gereja-gereja juga sedang menghadapi pergulatan pemahaman yang menyangkut pada aspek doctrinal, aspek kelembagaan, aspek suku, etnis dan bahasa.

Maka dalam realitas demikianlah, Gereja Methodist Indonesia pada pelaksanaan Konferensi Tahunan (Annual Conference) yang berlangsung Kamis-Minggu, 13-16 Juni 2019 di Hotel Danau Toba Internasional Medan, menetapkan Tema: Hidup Bersama Dalam Keteraturan (Filipi 2:5) dan Sub Tema: Melayani Dalam Sinergitas dan Integritas Guna Mewujudkan Revitalisasi Pelayanan Gereja Methodist Indonesia yang Memberkati Semua Ciptaan. Sebuah konferensi yang oleh John Wesley, sang pendiri gerakan Methodist, maknai sebagai bagian dari wujud "means of grace", saluran anugerah.

Kesadaran pada realitas konteks historis serta dorongan nilai utama dari makna konferensi itu sendiri, maka Konferensi ini bukan hanya dimaknai sebagai rutinitas tahunan kegiatan Gereja Methodist Indonesia. Konferensi ini mempunyai peran fundamental guna mewujudkan panggilan tugasnya dalam merevitalisasi seluruh aspek, komponen materi dan rohani demi pertumbuhan gereja yang sudah melayani di bumi Nusantara ini sejak tahun 1905.

Di sisi lain, sebagai gereja yang meyakini peran penting dari warga gereja dalam system episcopal koneksional, maka Konferensi Tahunan ini akan dihadiri para Pendeta, utusan warga gereja dan undangan. Untuk itu saya, Bishop Kristi Wilson Sinurat STh MPd selaku Pimpinan Gereja Methodist Indonesia Wilayah I, dalam doa dan sukacita serta hati terbuka, menyambut semua peserta Konferensi Tahunan yang berbahagia ini sambil berdoa agar pelaksanaan event tahunan ini dapat berjalan dengan penuh keteraturan, damai sejahtera dari Tuhan.

Sehingga kehadiran para Pendeta dan utusan warga gereja dari berbagai latar belakang suku, etnis dan budaya akan menjadi jawaban terhadap seruan Rasul Paulus sebagaimana tema konferensi ini serta menjadi spirit nilai yang sangat kuat guna mewujudkan panggilan pelayanan dalam realitas kemajemukan di Gereja Methodist Indonesia. Dengan demikian, konferensi ini, akan melihat karya Tuhan melalui perkembangan Gereja Methodist Indonesia sebagaimana dilaporkan oleh para Pimpinan Distrik dan badan-badan terkait. Sehingga melalui Konferensi Tahunan ini, Gereja Methodist Indonesia akan semakin meneguhkan panggilan visinya sebagaimana telah teruji pada adanya transformasi rohani dan sosial.

Revitalisasi Warisan Historis
John Wesley sejak dari awal pergerakan pelayanannya sangat ketat menjalankan fungsi pengawasan organisasi dan rohani kumpulan Methodist. Adanya konsistensi sistim pengawasan demikian, menjadi faktor terpenting dalam pertumbuhan Methodist sehingga berpengaruh positif dalam peradaban di Inggris maupun sejarah politik Amerika. Bagi John Wesley sang pendiri gerakan Methodist, Konferensi Tahunan bertumpu pada adanya evaluasi guna melihat, mengukur, mengatasi tantangan dan menyuburkan keinginan agar gereja terus mengerjakan panggilan pelayanannya sebagaimana dikehendaki Yesus Kristus, Kepala Gereja, Gembala Agung yang setia.

Peran penting dari konferensi demikianlah yang mendorong John Wesley dan saudaranya Charles Wesley, pada 25-29 Juni 1744 mengadakan pertemuan bersejarah dan menjadi sejarah lahirnya pemahaman akan konferensi. Sebab pada pertemuan rohani demikian, John Wesley mengingatkan akan peran penting dari konferensi sebagai "means of grace" saluran anugerah bagi setiap orang dalam komunitas maupun kelembagaannya. Itulah sebabnya, ketika kita membaca dokumen notulen Konferensi Tahunan yang pertama pada 1744, kita mendapat catatan penting mengenai fungsi penting dari konferensi itu sendiri. Berikut ini ini petikannya, bahwa:

"Yang kita kehendaki dalam setiap pertemuan Konferensi Tahunan kita adalah bahwa setiap hal haruslah diperbincangkan dan dipertimbangkan dalam hadirat Tuhan. Bahwa kita bertemu dan berkumpul dengan sangat akrab. Kita bagaikan seorang anak kecil, yang selalu ingin belajar segala sesuatu; Setiap hal yang diusulkan seharusnya dipelajari sampai kepada landasan pokoknya….Yang penting dalam setiap pembicaraan, kita selalu menempatkan Tuhan sebagai pusat pembicaraan kita."

Pada pertemuan bersejarah itu, John Wesley mengundang lima orang Pendeta Anglikan dan empat orang Pengkhotbah Awam (Lay Speaker) sebagai utusan warga yang sudah bergabung dengan gerakan Methodist. Mereka berkumpul untuk membuat upaya-upaya strategis demi kemajuan persekutuan Gerakan Methodist yang dikemudian hari disebut Gereja Methodist. Adanya nilai teologis dari konferensi itulah maka makna pertemuan bersejarah itu menjadi warisan iman yang terus diyakini oleh Gereja Methodist di dunia termasuk di Indonesia dan dimaknai pada setiap pelaksanaan Konferensi Tahunan.

Dan di dalam perkembangan sejarah gerakan (Gereja) Methodist, pertemuan rohani demikian menjadi melembaga yang disebut sebagai konferensi Tahunan dan menjadi sebuah institusi para Pendeta. Sebab pada Konferensi Tahunan-lah nama-nama Pendeta didaftarkan sebagai members, anggota konferensi. Sehingga pada saat berlangsungnya Konferensi Tahunan, nama-nama Pendeta disebutkan. Maka, persekutuan pelayan Tuhan di Konta bukan hanya sekedar pertemuan biasa, bukan hanya "temu kangen".

Itu juga berarti bahwa Konferensi Tahunan bukanlah persekutuan kelompok-kelompok kepentingan tetapi suatu persekutuan yang terikat oleh adanya satu tugas mulia sebagai hamba Tuhan yang bersatu hati melayani dalam keteraturan guna pertumbuhan Gereja. Itulah sebabnya pada konferensi ini, ada pertemuan khusus yang disebut "Pertemuan Kaum Rohaniawan". Sebab, pada pertemuan inilah makna kerendahan hati, kemauan untuk memaafkan guna mendewasakan diri, menjadi bagian penting dari asosiasi para Pendeta itu sendiri.

Karena itu, disemangati oleh tema konferensi tahunan ini, saya mengajak kita agar bersedia menjadi imitatio Yesus Kristus, yang bersedia merendahkan hati, mengosongkan diri, sebagai cursus pudorum bahkan berkorban demi kesatuan dan kemajuan gereja. Harap disadari, dengan mengacu pada kitab Filipi 2 sebagai dasar tema konferensi ini, bahwa kesediaan untuk merendahkan hati bukan berarti kita tidak mendapat kemuliaan. Pemahaman imitatio Kristus bukan berhenti pada penderitaan tetapi juga sampai pada dibangkitkan dan dimuliakan oleh Allah dan akan membuka mata rohani kita bahwa cursus pudorum yang dijalani oleh Yesus Kristus dalam penderitaan dan kematian-Nya tidak menghalangi-Nya untuk mendapatkan cursus honorum dari Allah Bapa, yaitu kemuliaan yang telah dimiliki Kristus sejak kekal.

Dimensi Revitalisasi
Walaupun pelaksanaan Konferensi Tahunan sepertinya selalu berulang setiap tahunnya, tetapi sesungguhnya, pada peristiwa yang mulia demikianlah menjadi kesempatan bagi Gereja Methodist Indonesia untuk semakin meningkatkan peran penting, merevitalisasi dan mewujudkan nilai-nilai Methodist sebagaimana teruji dan terbukti dalam menyelamatkan Inggris Raya dari pertumpahan darah akibat dari revolusi rakya sebagaimana terjadi pada Revolusi berdarah di Prancis.

Untuk itu, melalui Konferensi Tahunan ini diharapkan adanya upaya-upaya strategis dan fundamental guna peningkatan kualitas pelayanan Gereja Methodist Indonesia dengan peningkatan kualitas spiritual demi peningkatan pertumbuhan gereja dan lembaganya. Sebab, wujud keberhasilan realitas panggilan rohani demikianlah menjadi indikator penting dalam mewujudkan program revitalisasi Methodist itu sendiri.

Dengan demikian, wujud dari program revitalisasi itu sendiri berdimensi pada adanya kemauan untuk menggali ulang nilai fundamental nilai-nilai Methodist. Di dalamnya terkandung pada gagasan pokok mengenai system kepemimpinan yang episcopal koneksional, revitalisasi terhadap makna Kelompok Sel, ibadah yang menghangatkan hati, pentingnya kesadaran terhadap peningkatan kualitas lembaga pendidikan, adanya tindakan nyata dalam pelayanan sosial, peningkatan peran rumah sakit serta adanya sumber daya manusia yang mampu dan bersedia untuk mengorbankan dirinya pada tantangan pelayanan ke depan.

Kandungan nilai demikian juga bertautan pada adanya kesadaran dan kemauan dalam pemberdayaan, memperlengkapi sumber daya manusia secara khusus para pendeta dalam memimpin, menggembalakan jemaat di setiap gereja lokal. Pemberdayaan demikian juga berdampak pada adanya revitalisasi peran warga gereja, revitalisasi sumber daya manusia, potensi harta benda guna memperlengkapi pembangunan dan pertumbuhan tubuh Kristus. Sebab revitalisasi dimaksud bukan hanya sebatas pada konsep tetapi perlunya upaya yang jelas, tindakan nyata dan terukur guna mewujudkannya dalam praktek bergereja kita.

Bangkit Dalam Pengharapan
Sadar akan nilai fundamental warisan Wesley itu sendiri, maka Konferensi Tahunan Gereja Methodist Indonesia akan membuat langkah-langkah strategis guna menghadapi realitas konteksnya yang menghadapi ancaman perpecahan, teroris di Indonesia. Itu juga berarti kehadiran Gereja Methodist Indonesia harus menjadi berkat melalui program pelayanan sosial, pelayanan rohani. Justru keragaman suku, etnis, budaya dan bahasa itu menjadi kekuatan dan kekayaan bagi Gereja Methodist Indonesia pada bangunan kebersamaan, untuk hidup bersama dalam keteraturan sehingga berkontribusi positif bagi pergulatan kemajemukan bangsa Indonesia atas dasar Pancasila dan UUD 1945.

Di sisi lain, kita juga sedang menghadapi dinamika internal sebagai makna yang lebih luas dari kemajemukan berorganisasi. Justru dengan adanya dinamika pergumulan yang dihadapi GMI saat ini dan di masa akan datang, maka pada pertemuan yang dianugerahi oleh Tuhan inilah setiap persoalan akan dipergumulkan dan diselesaikan secara rohani. Sebab pada titik itulah panggilan mulia daripada gereja yaitu menyelesaikan masalah, pergumulan dengan terang iman, karunia anugerah dan damai sejahtera Tuhan. Jika tidak, maka sesungguhnya, gereja sedang kehilangan identitas utamanya sebagai tubuh Kristus.

Maka, dengan memohon rahmat Tuhan sebagai Gembala Agung yang Setia, marilah kita memanjatkan doa dan rasa syukur bahwa Konferensi Tahunan ini menjadi sarana anugerah. Sehingga seluruh agenda Konferensi Tahunan berlangsung dengan damai sejahtera. Termasuk salah satu agenda penting yaitu agenda appointment, saat Bishop menetapkan Pimpinan Distrik (DS) dan membacakan penetapan dan penempatan para Pendeta di gereja lokal atau lembaga GMI.

Agenda ini dianggap penting, sebab dalam catatan sejarah appointment oleh John Wesley bahwa para Pendeta berdiri dan berkeliling untuk mendengar penempatannya lalu meresponi, "God is good" atau "Good God, Bishop". Lalu peserta pulang dengan sukacita karena kekuatan dari Tuhan dengan meyakini doa John Wesley yaitu:

"Kami mempersembahkan diri kami kepada kuk ketaatan. Kami bukan milik kami lagi, tetapi milik-Mu. Tempatkanlah kami kemana Engkau mau. Golongkanlah kami dengan siapa saja Engkau mau. Buatlah kami bekerja. Buatlah kami menderita. Biarkanlah kami dipakai untuk Tuhan atau disingkirkan untuk Tuhan. Ditinggikan untuk Tuhan atau direndahkan untuk Tuhan. Biarlah kami kenyang. Biarlah kami lapar. Biarlah kami memiliki semuanya. Biarlah kami tidak memiliki apa-apa. Kami dengan bebas dan dengan rela menyerahkan segala sesuatu untuk melayani-Mu dan menyenangkan-Mu (Doa John Wesley)". (q)
T#gs
Berita Terkait
Komentar
Komentar
Silakan Login untuk memberikan komentar.
FB Comments