Selasa, 15 Okt 2019
  • Home
  • Opini
  • Independensi Pengawas Internal Mutlak Diperlukan Mencegah Terjadinya Korupsi di Pemda

Independensi Pengawas Internal Mutlak Diperlukan Mencegah Terjadinya Korupsi di Pemda

Oleh Dr Maju Siregar (Auditor Ahli Madya Inspektorat Provsu)
admin Sabtu, 08 Juni 2019 20:40 WIB
Dr Maju Siregar
Korupsi sangat merugikan negara dan rakyat. Korupsi telah merajalela mulai dari pemerintah pusat sampai pemerintah daerah. Seolah korupsi sudah membudaya dan lumrah dilakukan di Indonesia. Bahkan persepsi sebagian masyarakat telah memandang korupsi sebagai budaya.

Korupsi sendiri merupakan hasil monopoli kekuatan oleh pimpinan (monopoly of power) ditambah dengan tingginya kekuasaan yang dimiliki seseorang (discretion of official) tanpa adanya pengawasan yang memadai dari aparat pengawas (minus accountability). Dengan pengawasan yang rendah akan memudahkan para penguasa untuk melakukan tindakan korupsi.

Pasca reformasi, Indonesia melakukan perubahan sistem menjadi desentralisasi lewat otonomi daerah sehingga menggeser korupsi bukan hanya di pemerintah pusat melainkan merambah ke pemerintah daerah, seiring kekuasaan yang dimiliki oleh raja-raja kecil di daerah. Maraknya kasus korupsi di pemerintahan daerah memberikan kesan bahwa fungsi pengawasan internal tidak berjalan dengan baik. Hal inilah yang menjadi grand design pemikiran pada tulisan ini. Tulisan ini akan memfokuskan pada kinerja Inspektorat sebagai pengawas internal yang melekat pada pamerintah daerah.

Korupsi bukanlah kegiatan yang berdiri sendiri, melainkan cenderung merupakan pergerakan berjamaah. Di sinilah ujian bagi Inspektorat, selain harus patuh pada pimpinan, juga harus melaksanakan tugasnya sesuai tupoksinya dan melaporkan permasalahan-permasalahan yang ada di pemerintah daerah itu sendiri.

Korupsi disebabkan oleh banyak faktor, di antaranya penegakan hukum tidak konsisten, penyalahgunaan kekuasaan/ wewenang, langkanya lingkungan yang anti korup, rendahnya pendapatan penyelenggara pemerintah daerah. Penegakan hukum yang tidak konsisten dan kurang beraninya pengawas internal menimbulkan kesempatan lebar untuk seorang penguasa melakukan tindakan korupsi.

Selain itu, Inspektorat sebagai pengawas internal tidak independen. Soalnya Inspektorat merupakan jabatan yang dipilih oleh kepala daerah itu sendiri, sehingga secara organisasi harus bertanggungjawab kepada Kepala Daerah. Akibatnya pengawas internal ini menurunkan upaya kontrolnya terhadap terjadinya korupsi para pejabat di pemerintahan daerah. Justru upaya kontrol dan pengawasan tersebut dijadikan tameng khusus sebelum adanya pemeriksaan eksternal seperti BPK misalnya dengan pemeriksaan yang dilakukan Inspektorat ketika mendapatkan suatu permasalahan. Hal ini menjadi perbaikan terhadap laporan-laporan yang mengalami banyak kesalahan. Ini dapat terjadi karena adanya kerja sama antara kepala daerah dengan Inspektorat, sebab Kepala Inspektorat merupakan jabatan yang dipilih oleh pimpinan daerah, sehingga ketika mendapatkan masalah maka Kepala Inspektorat yang takut jabatannya lengser terpaksa harus tunduk terhadap pimpinan daerah tersebut.

Seperti yang dibicarakan sebelumnya korupsi bukanlah kegiatan yang berdiri sendiri melainkan berjamaah. Untuk menyelesaikan ini dibutuhkan seorang pimpinan yang jujur. Tetapi dengan mental yang buruk dan nafsu yang tinggi akan kekayaan, korupsi dimaksud sulit dicegah dan diberantas, sebab kekuasaan itu sendirilah yang menimbulkan korupsi.

Banyak pendapat yang mengatakan bahwa gaji kepala daerah tergolong kecil, tetapi pada kenyataannya mampu memiliki kekayaan di luar imajinasi . Hal ini bukan hanya terjadi di kepala daerah saja, melainkan para pejabat daerah pun ikut dalam lingkaran setan ini. Namun bawahan yang bersikap profesional dan jujur tentu hanya menjadi penonton.

Berdasarkan uraian di atas, yang perlu dilakukan adalah perlunya memperkuat pengawas internal dengan pembentukan pengawas internal independen sehingga tidak mendapatkan intervensi dalam membuat suatu keputusan, sehingga mampu bekerja dengan baik tanpa membohongi hati nuraninya. (c)
T#gs
Berita Terkait
Komentar
Komentar
Silakan Login untuk memberikan komentar.
FB Comments