Kamis, 20 Jun 2019
  • Home
  • Opini
  • Imam Besar Al-Azhar - Paus Fransiskus Merajut Persudaraan Universal

Imam Besar Al-Azhar - Paus Fransiskus Merajut Persudaraan Universal

* Oleh Pastor Moses Elias Situmorang OFMCap (Direktur Rumah Pembinaan Fransiskan Nagahuta, Sumut)
admin Selasa, 12 Februari 2019 15:35 WIB
Sheik Ahmed al-Tayed imam besar Al Azhar menyambut hangat kehadiran Paus Fransiskus di Abu Dhabi. Penyambutan ini menghidupkan kembali kenangan 800 tahun lalu tepatnya tanggal 29 Agustus 1219 saat Fransiskus dari Asisi menjumpai Sultan al Malik al-Kamil di Mesir dengan senjata kasih, damai dan persaudaraan. Sultan al Malik al-Kamil menyambut kehadiran Fransiskus dengan hangat penuh kasih persaudaraan. Saat itu perang salib yakni perang antara pasukan Kristen dan pasukan Muslim untuk memperebutkan Tanah Suci - Jerusalem sedang berkecamuk (Cletus Groenen OFM, Riwayat Hidup Fransiskus dari Asisi, Sekafi, 1997).

Selasa (5/2), Paus Fransiskus sebagai pemimpin Gereja Katolik Roma dan kepala negara Vatikan bersama Imam Besar Al-Azhar Sheikh Ahmed al-Tayeb menandatangani dokumen bersejarah tentang persaudaraan manusia untuk perdamaian dunia dan hidup berdampingan guna menangkal radikalisme serta terorisme. Penandatanganan dokumen tersebut dihadiri 400 tokoh agama dan budaya dari mancanegara. Kedua pemimpin sama-sama melihat bahwa tujuan utama hidup di dunia adalah untuk menikmati kedamaian dalam suasana rajutan tali kasih persaudaraan universal. Penandatanganan dokumen yang dinamai Dokumen Abu Dhabi menjadi ajakan bagi seluruh pemimpin dunia ini agar senantiasa membangun tali kasih persaudaraan bukan seperti Presiden Donald Trump yang terus berambisi membangun tembok pemisah di perbatasan Amerika Serikat dengan Meksiko. Dokumen Abu Dhabi merupakan dokumen persaudaraan manusia yang merupakan dokumen terpenting dalam sejarah hubungan Al-Azhar dan Vatikan, serta hubungan antara Islam dan Kristen.

Persaudaraan Universal
Cinta kasih merupakan salah satu keutamaan paling mendasar dalam diri setiap orang. Cinta kasih patut disadari sebagai perwujudan dari keutamaan-keutamaan lain yang mampu mempersatukan dan melampaui segala batas suku, ras, golongan, agama, adat-istiadat, dan bangsa tanpa menghilangkan otonomi pribadi. Falsafah cinta kasih berasal dari kata Yunani yakni agapan-agape. Kata kerja agapan dalam bahasa Latin diterjemahkan dengan deligere yang mempunyai arti memilih, mencintai dan menyambut dengan baik. Sedangkan kata benda agape diterjemahkan dengan delectio atau charitas yang berarti cinta kasih yang tidak mencari kepentingan sendiri, kasih yang tidak berdasarkan penghargaan, kebaikan hati, kemurahan hati dan kerahiman.

Tampilan Paus Fransiskus yang dalam sejarah Gereja Katolik menjadi paus pertama yang memilih nama Fransiskus menjadi fenomenal karena sikap dan kepeduliaannya kepada kaum miskin dan solidaritas yang tinggi kepada kaum papa serta perhatiannya yang luas akan rajutan tali kasih persaudaraan universal. Dalam sejarah kepausan, pemilihan nama paus selalu mempunyai tanda, simbol, dan makna bahwa paus baru yang terpilih ingin menjadi manusia baru pula sesuai dengan semangat nama yang dipilihnya. Dengan memilih nama Fransiskus, jelas bahwa Jorge Bergoglio nama asli Paus Fransiskus mau menjadikan Santo Fransiskus dari Asisi Italia sebagai teladan dan menghidupkan kembali semangat Santo Fransiskus Asisi yang hidup dina, pecinta perdamaian dan mencintai semua ciptaan (lingkungan hidup).

Santo Fransiskus nama aslinya Francesco Giovannie lahir di Asisi Italia tahun 1182. Ia adalah seorang anak saudagar kaya. Masa mudanya dilewatkan dengan berfoya-foya. Sejak awal ia bercita-cita menjadi kesatria pemimpin perang. Ketika meletus pertempuran di tempat antara Asisi dan Perugia pada 1202, ia ikut tertawan. Selama menjadi tawanan di Perugia, Fransiskus menderita sakit keras yang kemudian menuntunnya pada pertobatan. Sekembali dari tawanan ia menjadi perawat orang sakit secara khusus bagi penderita kusta yang saat itu disingkirkan dari tengah masyarakat. Nafas perdamaian, cinta kasih, pengampunan dan persaudaraan dengan sekalian ciptaan mengisi syair-syairnya. Fransiskus Asisi penuh empati terhadap penderitaan sesama, khususnya mereka yang papa dan hina-dina. Fransiskus memandang semua makhluk ciptaan sebagai "saudara" dan dalam diri "saudara" dia mengalami kehadiran dan kebesaran Sang Pencipta, walaupun Sang Pencipta tak pernah terkurung dalam makhluk ciptaan (bukan pantheisme).

Paus Fransiskus mengobarkan kembali semangat Santo Fransiskus Asisi dengan membawa terang baru dalam gereja Katolik yakni "roh kemiskinan", membela yang miskin dan papa, mengingatkan yang kaya untuk berbelarasa pada mereka yang menderita dan menjalin persudaraan universal. Dan sesuai dengan pengalamannya di Amerika Latin, Paus Fransiskus dengan beberapa sikap yang dia tunjukkan mengajak setiap orang untuk memperjuangkan keadilan, membawa terang baru agar manusia mampu melawan kelobaan, kerakusan, egoisme dan korupsi yang sudah merajalela dan menyengsarakan jutaan manusia di planet bumi ini. Paus Fransiskus yang merupakan paus ke- 266 dalam Gereja Katolik Roma adalah orang yang memberi perhatian kepada kaum miskin dan pentingnya nilai persaudaraan dengan sekalian ciptaan. Kepeduliaan Paus Fransiskus nampak dari eksiklikya Laudato Si.

Paus Fransiskus adalah pribadi yang hangat, penuh atensi, hormat dan kasih kepada siapa saja. Dia amat taat asas dan juga taat pada kepatutan-kepatutan yang bijak berdasarkan usia, kedudukan, latar belakang dan budaya. Common sensenya tajam, minat kemanusiaannya tinggi. Pokok-pokok yang amat mendalam dihayatinya adalah persaudaraan, persamaan hak setiap orang, doa, kerakyatan, kesejahteraan umum, keadilan dan kejujuran, toleransi antar umat beragama di seluruh dunia.

Paus Fransiskus yang berasal dari Ordo Serikat Jesuit dengan berani mengusik posisi aman dalam lingkungan Gereja. Satu yang tak biasa adalah bahwa beliau memilih tinggal di wisma Vatikan dan bukan di istana kepausan. Para pejabat bank Vatikan ketar-ketir dan bahkan beberapa diganti karena terbukti terlibat dalam pencucian uang. Pemandangan yang sangat menyejukkan hati terjadi lima tahun silam tepatnya pada hari Kamis 31 Okotber 2013 saat itu Paus Fransiskus berpidato di depan ratusan ribu orang, memperlihatkan sikap hangatnya pada Carlos, seorang anak yatim piatu yang tiba-tiba datang memeluknya. Ibu angkat Carlos dalam jejaring sosialnya menulis, "kehangatan dan berkat yang diterima anak kami untuk seluruh anak-anak yang terlantar di seluruh dunia". Paus Fransiskus selalu membuka sapaan dengan siapa saja dengan kata damai. Beliau adalah khotbah yang hidup yang senantiasa mampu menginspirasi hidup orang yang berjumpa dengannya.

Memandang, mengasihi sesama manusia seperti diri sendiri dan merajut tali kasih persaudaraan mesti diakui bukanlah semudah membalikkan telapak tangan. Dewasa ini fenomena sikap individualistis sangat dominan mewarnai kehidupan manusia. Banyak orang, bangsa, negara atau kelompok tertentu yang berusaha keras untuk mewujudkan kepentingan dan keinginan mereka sendiri dengan beragam cara dari yang paling halus sampai yang paling kasar. Bahkan demi kedudukan dan kepentingan ini, sering kali orang, negara atau kelompok tertentu menginjak, menindas dan membunuh orang lain yang dianggap sebagai penghalang. Tindakan menindas akan menimbulkan perlawanan dari yang ditindas. Bangsa atau kelompok yang lebih lemah tentu akan menanggung penderitaan yang lebih berat.

Satu Ciptaan
Dasar membangun dan merajut tali kasih persaudaraan universal adalah menyadari bahwa setiap orang berasal dari Pencipta yang sama dan satu yakni Tuhan Yang Maha Esa. Kesadaran itu akan mendorong setiap orang membangun keakraban dalam hidup bersama. Keakraban dan keharmonisan hubungan kasih persaudaraan manusia di dunia nampak ketika manusia hidup dalam masyarakat tradisionil dalam satu lingkup daerah tertentu. Saat itu yang menjadi acuan nilai bersama bersumber pada nilai cinta kasih persaudaraan, kekeluargaan dan kekerabatan yang dihayati sebagai perekat utama yang mampu menomor-duakan nilai-nilai lain. Namun ketika manusia mulai menjalin relasi yang lebih luas dengan sesamanya dari luar lingkungannya, nilai perekat bukan lagi didasarkan pada persaudaraan akan tetapi sudah bergeser dan bahkan cenderung jatuh pada nilai fungsional yang berharga menurut kegunaan dan fungsi dalam klasifikasi nilai.

Harus diakui bahwa hubungan antar suku dan bangsa telah menumbuhkan kesadaran akan kesatuan dan ketergantungan satu sama lain. Dunia sudah semacam kampung besar dengan segala keberagaman dan keunikan penghuninya. Bangsa yang satu dengan yang lain saling membutuhkan hampir dalam segala hal. Rasa ketergantungan ini pada hakikatnya menuntut pentingnya solidaritas, saling mengerti, belajar memahami, dan kesediaan berdialog antara bangsa yang satu dengan yang lainnya. Namun fakta menunjukkan manusia cenderung gampang terpecah dan bahkan terjerembab karena pergulatan hebat antara kekuatan-kekuatan yang saling bertentangan seperti sengketa politik, sosial, ekonomi, rasial dan ideologi yang sering bermuara pada perang yang menghancurkan segala sesuatunya dan berimbas pada krisis kemanusiaan. Pada titik ini manusia disadarkan kembali akan pentingnya menanamkan kembali keutamaan cinta kasih kepada sesama manusia sebagai saudara. Semoga dengan adanya dokumen Abu Dhabi dari Paus Fransiskus dan Imam Besar Al-Azhar Sheikh Ahmed al-Tayyed krisis kemanusiaan di muka bumi ini semakin berkurang dan senjata dan pelurunya dilebur menjadi besi yang dapat digunakan tiang fondasi pembangunan jembatan dan rumah layak huni, kendaraan dan alat pertanian untuk membantu kehidupan yang lebih baik dan bermartabat. (h)
T#gs
Berita Terkait
Komentar
Komentar
Silakan Login untuk memberikan komentar.
FB Comments