Senin, 28 Sep 2020
  • Home
  • Opini
  • Evaluasi Mudik Natal dan Tahun Baru di Sumut

Evaluasi Mudik Natal dan Tahun Baru di Sumut

redaksi Minggu, 05 Januari 2020 12:09 WIB
inews.id
Ilustrasi
Mudik Natal dan Tahun Baru sudah menjadi agenda tahunan. Harusnya semua instansi yang terlibat dari pusat ke daerah sudah memiliki pengalaman yang panjang. Antisipasi dan persiapan mestinya lebih matang dari sebelumnya.

Persoalan yang dihadapi selalu sama setiap tahun. Mungkin yang berbeda adalah volumenya yang makin meningkat seiring perkembangan zaman. Semua pemudik menginginkan akses ke tujuan semuanya lancar.

Pemerintah pusat sebenarnya sudah berbuat untuk memperlancar akses. Lihatlah pesatnya pembangunan infrastruktur di era Presiden Jokowi yang berlanjut hingga sekarang. Jalan tol, bandara, pelabuhan dan jembatan dibangun di mana-mana.

Sumatera Utara termasuk yang mendapat perhatian besar dari pemerintah pusat. Jalan tol yang sebelumnya hanya dari Belawan ke Tanjungmorawa, kini sudah tembus hingga Tebingtinggi dan akan dilanjutkan tahun depan ke Pematangsiantar. Silangit telah menjadi bandara internasional dengan penerbangan rutin setiap hari.

Sayangnya dalam catatan beberapa hari ini, menjelang dan setelah tahun baru, kemacetan masih terjadi di mana-mana. Kemacetan memang telah bergeser dulu selalu terjadi di Perbaungan dan Sei Rampah. Kini macet terjadi di jalan Siantar-Parapat, Medan-Berastagi, dan Porsea-Balige.

Persoalan yang terjadi masih klasik. Penunjuk jalan alternatif masih minim, bahkan tidak ada. Petugas memang tidak harus bertugas 24 jam di lapangan tapi paling tidak ada sosialisasi dan arahan agar mudik bisa lancar.

Kondisi macet makin diperparah dengan sikap mental pengemudi yang sangat rendah. Bukan hanya bus umum saja, mobil penumpang ada yang berani menerobos dari kanan, sehingga macet makin horor. Sayangnya nyaris tidak ada tindakan tegas dari petugas di lapangan terhadap pembuat kemacetan tersebut.

Penyeberangan Ajibata ke Samosir masih belum berubah dari sebelumnya. Antrean panjang hingga 12 jam baru bisa masuk ferry. Pemerintah pusat yang menambah kapal penyeberangan ternyata belum membantu. Padahal sudah ada KMP Ihan Batak dan Pora-pora, ditambah titik penyeberangan di Tigaras dan Muara.

Setelah mudik ini berakhir, diharapkan aparat dari lintas instansi duduk bersama melakukan evaluasi. Buka ke publik beberapa persoalan sehingga menjadi pelajaran ke depan. Jika tidak masalah ini akan terulang dari tahun ke tahun. (**)

T#gs
Berita Terkait
Komentar
Komentar
Silakan Login untuk memberikan komentar.
FB Comments