Minggu, 22 Sep 2019
  • Home
  • Opini
  • Dikala 19 Gunung Api Berstatus Waspada

Dikala 19 Gunung Api Berstatus Waspada

Oleh : Wuryanti Puspitasari
Selasa, 04 Februari 2014 13:47 WIB
Jakarta (SIB)- Indonesia tengah berduka, baru saja memasuki bulan kedua di tahun 2014 rentetan bencana alam sudah terjadi di sejumlah daerah.
Korban jiwa, korban luka serta kerugian harta benda berjatuhan dan hanya menyisakan air mata.

Mulai dari banjir bandang di Sulawesi Utara, banjir di Ibu kota Jakarta dan sejumlah wilayah lainnya hingga erupsi Gunung Sinabung di Sumatera Utara.
Rentetan bencana alam yang terjadi di awal tahun 2014 ini bukan kali pertama, karena ditahun-tahun sebelumnya bencana alam silih berganti mewarnai negeri ini.

Pemerintah selalu mengatakan,  wilayah Indonesia terletak di antara benua Asia dan Australia dan Lautan Hindia dan Pasifik memiliki 127 gunung api aktif, atau dikenal dengan "ring of fire".

Indonesia juga terletak berada pada pertemuan tiga lempeng tektonik aktif dunia yakni Lempeng Indo-Australia, Eurasia, dan Pasifik.

Ring of fire dan berada di pertemuan tiga lempeng tektonik menempatkan negara kepulauan ini berpotensi terhadap ancaman bencana alam.

Di sisi lain, posisi Indonesia yang berada di wilayah tropis serta kondisi hidrologis memicu terjadinya bencana alam lainnya, seperti angin puting beliung, hujan ekstrim, banjir, tanah longsor, dan kekeringan.

Tidak hanya bencana alam sebagai ancaman, tetapi juga bencana nonalam sering melanda Tanah Air seperti kebakaran hutan dan lahan, konflik sosial, maupun kegagalan teknologi.

Akibatnya, masyarakat harus meningkatkan kesiapsiagaan dalam menghadapi bencana alam.

Ditambah lagi, Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) menyatakan bahwa 19 gunung api di sejumlah penjuru di Tanah Air tengah menggeliat dan berstatus waspada.

Berstatus Waspada

Kepala Pusat Data Humas dan Informasi BNPB Sutopo Purwo Nugroho mengatakan pada saat ini dari 127 gunungapi aktif di Indonesia, ada satu gunung berstatus Awas (level IV) yaitu Gunung Sinabung sejak 24 April 2013.

Selain itu, ada tiga gunung berstatus Siaga (level III) yaitu Karangetang, Lokon dan Rokatenda. Ditambah lagi, ada 19 gunung status Waspada (level II) yaitu Kelud, Raung, Ibu, Lewotobi Perempuan, Ijen, Gamkonora, Soputan, Sangeangapi, Papandayan, Dieng, Seulewah Agam, Gamalama, Bromo, Semeru, Talang, Anak Krakatau, Marapi, Dukono, dan Kerinci.

Sementara itu gunung api lainnya masih berstatus normal terkait peningkatan aktivitas vulkanik Gunung Kelud, tambah dia, maka pemerintah menaikkan statusnya menjadi Waspada (level II) pada Minggu (2/2).

"Masyarakat diimbau tidak panik dan cemas dengan hal ini. Pemberitaan media yang intensif dan berlebihan mengenai peningkatan aktivitas gunungapi seringkali justru mengakibatkan dampak negatif di masyarakat," katanya.

Obyek-obyek wisata, hotel, pertanian dan aktivitas ekonomi yang berada di luar daerah berbahaya, tambah dia, menjadi sepi.

Hal ini terjadi di Gunung Bromo, Ijen, Dieng, Tangkubanprahu, Papandayan, dan lainnya.

Bahkan aktivitas wisata dan hotel-hotel di Kabanjahe saat ini pun sepi pengunjung karena masyarakat jadi takut berkunjung padahal lokasinya jauh dan aman dari Gunung Sinabung.

Padahal, tambah dia, gunung api bersifat "slow in set". Artinya tidak akan tiba-tiba meletus.

"Ada tanda-tandanya sehingga status gunung punya tahapan yaitu dari normal kemudian menjadi waspada, siaga, dan awas sesuai ancamannya," katanya.

Makna dari status Waspada, tambah dia, adalah ada kenaikan aktivitas di atas level normal, apapun jenis gejala diperhitungkan.

"Status waspada tidak kritis, yang diperlukan adalah sosialisasi, kajian bahaya, pengecekan sarana, dan piket terbatas," katanya.

Sedangkan makna status Siaga adalah semua data menunjukkan bahwa aktivitas dapat segera berlanjut ke letusan atau menuju pada keadaan yang dapat menimbulkan bencana. Kondisinya kritis sehingga perlu sosialisasi di wilayah terancam, penyiapan sarana darurat, koordinasi harian dan piket penuh.

Jangan Panik

Sementara itu, Menteri Koordinator bidang Kesejahteraan Rakyat Agung Laksono menambahkan, masyarakat jangan panik dengan pengumuman dari instansi terkait soal peningkatan aktivitas gunung berapi.

"Masyarakat jangan panik, sosialisasi yang dilakukan membuktikan bahwa seluruh instansi terkait bekerja dan mengawasi perkembangan sejak dini, agar dapat menemukan dan melakukan langkah-langkah antisipatif," katanya.

Setiap kemungkinan bencana, kata Agung, memang perlu disosialisasikan kepada masyarakat agar semua pihak bisa waspada dan ikut mencegah dan meminimalisasikan dampak yang bisa ditimbulkan dari suatu bencana alam.

Yang terpenting, tambah Agung, masyarakat harus mengikuti petunjuk yang dikeluarkan oleh pemerintah.

"Contohnya jika ada wilayah dengan radius sekian kilometer yang dilarang untuk dimasuki, dan masyarakat diharuskan mengungsi dan diperlukan langkah evakuasi, maka masyarakat harus mengikuti pentujuk tersebut," katanya.

Dengan mengikuti pentunjuk, tambah Agung, jatuhnya korban jiwa pada suatu bencana, khususnya gunung meletus, bisa dihindari. (Ant/x)

T#gs
Komentar
Komentar
Silakan Login untuk memberikan komentar.
FB Comments