Sabtu, 15 Agu 2020

Belajar Media Berekspresi

Meifa Ivana Simamora Senin, 02 Maret 2020 12:04 WIB
monitor.co.id

Ilustrasi: siswa belajar di kelas

Oleh: Meifa Ivana Simamora
Siswa SMA Swasta RK Serdang Murni Lubukpakam
Pemenang Favorit 3 Lomba Menulis Biro Redaksi SIB Tebing Deli

Belakangan ini semenjak terpilihnya menteri pendidikan baru bagi Indonesia telah menarik perhatian banyak kalangan terkhususnya mereka yang berkecimpung di dunia pendidikan ataupun memiliki konsen khusus pada perkembangan pendidikan. Nadiem Makarim, ya beliau lah sosok di balik munculnya wajah baru dunia pendidikan.

Belum lama menjabat, mantan bos salah satu raksasa unicorn itu telah memunculkan suatu pandangan baru dalam dunia pendidikan Tanah Air. “Merdeka Belajar” begitulah konsep baru itu diusung, yang disampaikan dalam rangka memperingati hari guru nasional yang jatuh pada 25 November 2019 lalu. Dalam isi teks pidato tersebut dipaparkan bagaimana sebenarnya kondisi pendidikan Indonesia dan bagaiamana sebenarnya dunia pendidikan yang dicita-citakan oleh para guru maupun insan penerus bangsa Indonesia.

Kita melihat pada kenyataanya pendidikan di Indonesia memberi beban pada guru maupun murid. Masalah yang berkesinambungan ini menghadirkan batasan dalam berkarya dan berekspresi dalam dunia pendidikan, menciptakan tembok-tembok tinggi menghalang lahirnya kebebasan memperoleh pendidikan yang menyenangkan. Kita melihat bahwa sekolah merupakan tempat yang paling dihindari siswa/i karena merasa enggan untuk bertemu dengan guru dan sekelumit pelajaran yang hadir setiap harinya.

Bagaimana ingin belajar? Bila melihat sekolah saja sudah enggan, bosan, dan tak jarang juga ngeri. Inilah konsen terbesar masalah pendidikan. Bagaimana menciptakan ruang kelas yang nyaman dan menyenangkan?
Menurut Survei Political And Economic Risk Consultan (PERC), kualitas pendidikan di Indonesia berada pada urutan ke-12 dari 12 negara di Asia. Posisi Indonesia berada di bawah Vietnam. Data yang dilaporkan The World Economic Forum Swedia (2000),Indonesia memiliki daya saing yang rendah, yaitu hanya menduduki urutan ke-37 dari 57 negara yang disurvei di dunia.
Begitu sedihnya melihat nasib bangsa kita, bila melihat fakta di atas. Pada dasarnya siswa/i di Indonesia memiliki rasa terpaksa dalam melakukan segala hal terkait bidang pendidikan itu sendiri. Mereka menganggap bahwa belajar adalah tekanan, menerapkan semua rumus-rumus, menghapal suatu teori yang mungkin saja terlupakan dalam hitungan hari. Yang perlu dipelajari adalah bagaimana meningkatkan kesejahteraan siswa/i melalui metode belajar yang aktif dan menyenangkan. Dipaparkan juga pada teks pidato Nadiem Makarim perlunya interaksi dengan lingkungan sekitar mengajak siswa untuk belajar di luar ruang kelas. Tapi pada nyatanya guru terhalang oleh kurikulum yang begitu padat.

Dapat juga dilihat bahwa kesejahteraan guru dan kecakapan guru merupakan pintu menuju pendidikan yang maju. Mengapa demikian? Guru sebagai tonggak dalam mendidik siswa/i, maka kesejahteraan guru merupakan jendela untuk meraih kesejahteraan siswa/i. Komponen ini merupakan yang terpenting dan tak boleh dialihkan. Guru dituntut untuk menghadirkan suasana kelas yang menyenangkan, namun faktanya timbunan administrasi yang memaksa mereka untuk membagi waktu dan tugas sebagai guru dan sebagai masyarakat yang taat terhadap aturan pemerintah dengan tidak melalaikan administrasi yang ada. Hal ini sesungguhnya hanya menjadi beban bagi mereka ditambah dengan kurikulum yang harus sesuai dengan aturan yang sudah ada.

Dilansir laman Gotomalls.com (Minggu, 7/7/2019), beberapa pakar pengamat pendidikan menyebutkan bahwa kualitas pendidikan di Indonesia semakin menurun, dibuktikan dengan data peringkat Indeks Pengembangan Manusia (Human Development Index) dari UNESCO (2000). Yang ditandai dengan tinggi angka buta huruf dan rendahnya tingkat literasi di Indonesia. Fakta ini sangat jauh berbanding terbalik dari apa yang diharapkan.

Metode kejar-kejaran dalam mengajar pun tak jarang terjadi. Membuat guru sulit membagikan ilmu secara merata bagi siswa. Karena seperti yang kita tahu bahwa daya tangkap setiap individu adalah berbeda. Namun dengan tuntutan yang ada materi kian terus bergulir pada setiap siswa/i di kelas.

Profesor Erno August Lehtinen, guru besar pendidikan dari Universitas Turku, Finlandia, sebagaimana diberitakan Detik.com pada (8/10/2016) memaparkan yang terpenting dalam suatu pendidikan adalah kualitas pengajarannya, bukan lamanya pembelajaran. Jika dikomparasikan dengan pendidikan di Indonesia akan tampak jelas perbedaannya. Pembelajaran dengan durasi yang lama di Indonesia membuat hasil belajar tidak maksimal. Terlebih lagi, masih ada PR yang harus dikerjakan, belum lagi ikut les di Lembaga Bimbingan Belajar (LBB). Dengan demikian maka porsi belajar akan terlalu banyak dan dengan banyaknya beban akan menghambat tumbuh kembang siswa.

Dengan wajah baru dalam dunia pendidikan Indonesia diharapkan adanya peningkatan kualitas atau taraf pendidikan. Dengan konsep “Merdeka Belajar” yang diusung BNadiem Makarim tersurat secara gamblang bagaimana yang seharusnya terjadi dalam pendidikan Indonesia. Kini semuanya sedang berproses menuju pendidikan maju. Pendidikan yang berpusat pada kesejahteraan orang-orang yang berperan didalamnya, bukan berpusat pada cara administrasi dan kurikulum yang menyekat banyak waktu dan menguras tenaga.

Indonesia pada masa yang akan datang akan berada pada mereka yang sekarang tengah duduk di bangku sekolah maka sudah layak dan patutnya lah pendidikan yang maju dan terorganisir menjadi asupan bagi anak bangsa. Sebagai penerus cita-cita dan tujuan nasional bangsa kita. bangsa Indonesia.(*)


Editor: Bantors

T#gs
Berita Terkait
Komentar
Komentar
Silakan Login untuk memberikan komentar.
FB Comments