Kamis, 21 Nov 2019

PBWI Upayakan Wushu Tradisional Masuk PON

Admin Minggu, 23 Desember 2018 18:11 WIB
Nusa Dua (SIB) -Pengurus Besar Wushu Indonesia (PBWI) berupaya untuk memasukkan wushu tradisional sebagai salah satu nomor pertandingan di Pekan Olahraga Nasional.

"Saya sedang memperjuangkan untuk bisa masuk ke dalam Pekan Olahraga Nasional dulu, nanti baru kita masukkan ke ajang berikutnya," kata Wakil Ketua Umum III PBWI Bambang Supriyanto ketika ditemui Nusa Dua, Bali, Kamis (20/12).

Setelah masuk di level Pekan Olahraga Nasional, bukan tidak mungkin nomor wushu tradisional bisa dipertandingkan di multievent yang lebih tinggi seperti SEA Games atau Asian Games, ungkap Bambang.

Bambang mengungkapkan, wushu itu ada tiga kategori, yaitu taolu, sanda dan tradisional. Sebenarnya ketiganya melekat, tidak bisa dipisahkan. Olahraga wushu berdiri pertama kali di Indonesia sejak 1992 dan setelah itu sudah berjalan dari masa ke masa.

Namun dengan modernisasi, saat ini nilai jual yang tinggi adalah wushu taolu, yang melibatkan gerakan-gerakan seni beladiri dan teknik yang menjadi objek penilaian juri.

Saat ini bukan hanya PBWI, namun juga federasi wushu internasional IWUF sedang melakukan standarisasi terhadap nomor wushu tradisional. Standarisasi internasional wushu tradisional IWUF itu sudah masuk empat nomor pertandingan yaitu pa kua, xingyi, swang tao dan swang chien.

Untuk mendukung upaya tersebut, PBWI sudah mulai bergerak untuk mengangkat citra wushu tradisional dengan menggelar berbagai ajang prestasi seperti yang saat ini sedang berlangsung adalah Bali Internasional Kungfu Championship yang pertama di Nusa Dua, Bali pada 17-22 Desember.

Pada awalnya, wushu diperkenalkan untuk menampilkan seni bela diri yang sifatnya mengarah kepada keindahan karena cabang olahraga ini adalah seni. "Sementara kalau bicara soal wushu tradisional itu lebih mengarah ke aplikasi. Kalau aplikasi itu kita bicara body contact, sedangkan wushu ini kan tidak bersifat body contact," kata Bambang.

Standarisasi yang dilakukan bertujuan supaya wushu tradisional, atau lebih populer dikenal dengan nama kungfu, tidak berkesan menjadi nomor bertarung, tapi sebagai seni, ungkap Bambang.

"Secara keseluruhan saya sangat yakin pengprov sudah mempersiapkan atlet-atlet wushu tradisionalnya untuk masuk ke dalam ajang pertandingan yang lebih bergengsi dan lebih berkelas dan dengan persiapan yang mereka lakukan pun mereka terlihat sangat antusias sekali mengikuti ajang Bali Internasional Kungfu Championship ini," kata Bambang.

Sementara di Indonesia wushu tradisional baru mulai menggeliat, di luar negeri wushu tradisional atau lebih dikenal dengan kungfu sudah banyak dipertandingkan di kejuaraan yang bersifat internasional.

PBWI pun sudah mulai mengirimkan sejumlah atlet nasional untuk berlaga di sejumlah kompetisi kungfu internasional seperti kejuaraan kungfu shaolin di Henan, China pada Oktober lalu.

Sedangkan di dalam negeri sendiri, kejuaraan yang digelar sebagai wadah pertandingan wushu tradisional pertama kali digelar pada 2015 lewat kejuaraan wushu terbuka Inti Bayangan di Jakarta.

Kemudian pada 2017 ada kejuaraan nasional wushu di Sport Mall Britama, Kelapa Gading, Jakarta yang digunakan sebagai test event Asian Games 2018.

Sementara itu, kejurnas senior dan junior yang diselenggarakan awal tahun ini di Yogyakarta dijadikan eksebisi ajang wushu tradisional yang mengacu kepada standarisasi federasi wushu internasional. (Ant/q)
Editor: Admin

T#gs
Komentar
Komentar
Silakan Login untuk memberikan komentar.
FB Comments