Jumat, 15 Nov 2019
  • Home
  • Olahraga
  • Olah Raga Sumut Memprihatinkan Tanpa Ketua Umum

Olah Raga Sumut Memprihatinkan Tanpa Ketua Umum

Kamis, 23 Januari 2014 13:20 WIB
Medan(SIB)- Bagai “bernafas dalam lumpur”. Kondisi inilah yang terkesan melanda Pengurus Provinsi Persatuan Gulat Seluruh Indonesia Sumatera Utara (Pengprov  PGSI Sumut).

Betapa tidak,  sejak Tahun 2012, induk organisasi olahraga ini  praktis tidak memiliki ketua umum menyusul berakhirnya kepengurusan priode 2008-2012 pimpinan Benny Basri.

Namun, talenta gulat yang bagai mengakar pada masyarakat Sumut, menjadikan kondisi sulit itu tidak membuat pretasi gulat provinsi ini mandek. Buktinya, pada SEA Games XXVII/2013 di Nay Pyi Taw Myanmar, pengulat putri asal Sumut Heka Mayasari asal Tanah Karo menyumbangkan medali perak dari Kelas 51 Kg awal Desember lalu.

Terakhir, dua pegulat putra  yang dikirim di Kejurnas Gulat Piala  Presiden 17- 20 Desember 2013,  di Jember juga sukses menorehkan prestasi.Mereka adalah Sumurung Siregar asal Tapsel, meraih emas kelas 84 Kg Gaya Grego, dan Roy Brema Ginting dari  Tanah Karo merebut perunggu Kelas 84 Kg Gaya Bebas.

Tiga senioren gulat Sumut Drs Yusrianto, Drs Josua Sinurat MM dan Drs Daslan Gultom ketika ditemui di Medan, Rabu (22/1) sama memanjatkan rasa syukur, di tengah vakumnya kepengurusan, pegulat - pegulat Sumut masih mampu menorehkan prestasi.

“Alhamdulillah  gulat Sumut bisa menorehkan prestasi walau kepengurusan sesungguhnya memang vakum. Hal ini tidak terlepas dari semangat insan gulat seperti Josua Sinurat, Daslan Gultom,  Mangasi Simangungsong, Anggi Muda Siregar yang tetap turun melatih talenta-talenta gulat di daerah ini.Selain itu kita juga terbantu dengan adanya pembinaan gulat di PPLP dan PPLM,”  jelas Yusrianto.

Yusrianto yang sebelumnya menjabat sebagai Sekum di Kepengurusan PGSI Sumut pimpinan Benny Basri, mengaku sedih jika melihat kondisi gulat Sumut saat ini.

”Bayangkan, untuk Kejurnas Piala Presiden 2013 di Jember Desember lalu, dampak dari sulitnya pendanaan,  Sumut hanya mengirim dua atlet. Syukur mereka berhasil memboyong medali,” kata Yusrianto, mantan pegulat  tahun 1980-an ini.

Baik Yusrianto, Josua dan Daslan sama berharap, kondisi sulit ini bisa berganti ke arah lebih baik.

“PGSI Sumut butuh figur pemimpin yang bisa membawa organisasi  lebih baik, khususnya menyelamatkan dan mengembangkan potensi talenta-telenta  gulat daerah ini yang sangat potensial,” kata Yusrianto.

Berbicara soal potensi, gulat Sumut memang sangat potensial.Buktinya, cabor olahraga ini nantinya turut dipertandingkan di Prowilsu 2014 karena organisasinya ada di 21 kota dan kabupaten di Sumut.

“Sebelumnya gulat  hanya dipertandingkan di Kejurda, tapi tahun ini sudah bisa ikut Porwilsu. Ini artinya, perkembangan gulat cukup positif, dan pengembangannya ke depan juga sangat menjanjikan,” ujar Daslan.

“Saya percaya, jika nanti PGSI dimenej dengan baik, kejayaan gulat Sumut bisa terulang kembali. Gulat tetap menjadi penyumbang medali bagi Sumut di PON,” tambah Josua Sinurat.

Sebagai penyumbang enam medali emas di empat pelaksanaan PON  (1989, 1993, 1996 dan 2000), Josua juga mengaku sedih, sejak PON Jatim Tahun 2000, gulat Sumut gagal menyumbang medali emas.

“PON 2000 gulat  masih  menyumbang 3 medali emas, 1 medali perak, dan 2 medali  perunggu.Sementara di  PON XVI / 2004 di Palembang dan PON  XVII/2008 di  Kaltim, Gulat Sumut hanya memperoleh 2 medali perunggu, PON XVIII/2012 di  Pekanbaru - Riau  hanya memperoleh 1 medali perak dan 2 medali perunggu,” jelasnya.

Josua percaya, torehan medali emas di PON bisa diulangi gulat Sumut termasuk di PON XIX/2016 di Jabar, dengan syarat pembinaan memang harus intensif sejak dini.

“Karena itulah PGSI Sumut memang butuh figur pemimpin. Kasihan potensi-potensi gulat kita,” ujarnya mengakhiri keterangan.(R8/w)
T#gs
Komentar
Komentar
Silakan Login untuk memberikan komentar.
FB Comments