Rabu, 20 Nov 2019
  • Home
  • Olahraga
  • Fenomena Transformasi Posisi Gelandang Serang di Sepakbola Indonesia

Fenomena Transformasi Posisi Gelandang Serang di Sepakbola Indonesia

Minggu, 15 Januari 2017 14:34 WIB
Apa yang ada di benak Anda ketika muncul pertanyaan mengenai ciri khas dari para pesepakbola Indonesia? Sebagian besar tentu akan menjawab Indonesia terkenal dengan para pelari yang memiliki kaki-kaki lincah. Sebuah pandangan yang tidak salah. Karena nyatanya Indonesia dari generasi ke tiap generasi selalu melahirkan para pemain hebat yang mampu menyisir pertahanan lawan melalui kecepatannya.

Tapi pernahkah terpikir oleh Anda apakah Indonesia memiliki, atau sempat memiliki, pemain di posisi gelandang serang? Yang menjadi pokok pembicaraan ini bukan second striker atau penyerang lubang. Bukan pula playmaker yang posisi bermainnya di area yang lebih dalam atau tepat di depan para pemain belakang. Tetapi posisi yang area kerjanya lebih banyak di sepertiga akhir bagian penyerangan. Posisi ini yang sering para penggemar game sepakbola menyebutnya sebagai attacking mildfielder atau AMF. Contoh pemain generasi terkini yang popular tentunya ada dalam sosok pemain internasional Jerman, Mesut Ozil.
Mereka-mereka yang Berpindah Posisi

Jika pertanyaan selanjutnya adalah apakah posisi gelandang serang populasinya sempat ada di Indonesia atau tidak, jawabanya ya. Tapi kebanyakan dari mereka kemudian berpindah posisi karena satu dan lain hal. Biasanya para gelandang serang ini akan berpindah posisi ke area gelandang yang lebih dalam, atau melebar dan kemudian menjadi pemain sayap.

Kebanyakan dari para gelandang serang tersebut kemudian berpindah posisi ketika mereka sudah mulai menjajaki karier sepakbola professional atau sudah menembus tim senior.

Salah satu yang paling awal dari tipe pemain gelandang serang di era sepakbola Indonesia terkini adalah Firman Utina. Mantan kapten Timnas tersebut sebenarnya memiliki jalur perpindahan posisi yang bias dibilang unik. Awalnya pemain asal Manado ini berposisi sebagai penyerang. Namun ketika mengikuti mentor sepakbolanya Benny Dollo, dari Persma Manado, Persita Tangerang, lalu ke Arema. Firman kemudian berpindah posisi sebagai gelandang serang. Tentu salah satu hal yang diingat dari Firman ketika bermain di posisi tersebut adalah gol solo run yang melengkapi hattrick yang ia bukukan pada final Copa Indonesia tahun 2005.

Setelahnya, lama kelamaan Firman berpindah posisi ke area yang lebih dalam. Baik di Sriwijaya FC, Pelita Jaya, maupun Persib Bandung, Firman lebih banyak beroperasi di sektor gelandang tengah. Meskipun demikian, visi dan akurasi operannya tetap dalam kualitas kelas satu. Bahkan operan terobosan dari zona yang lebih dalam menuju pertahanan lawan menjadi ciri khas Firman hingga di usianya senja saat ini.

Di era yang lebih kekinian pun terjadi fenomena yang hampir serupa. Fandi Eko Utomo, putra pemain legendaris Persebaya, Yusuf Ekodono, pada awal kariernya di kompetisi usia dini di Jawa Timur, terkenal sebagai gelandang serang yang berbakat. Namun lama kelamaan Fandi justru lebih sering dipasang melebar di posisi sayap kanan. Termasuk ketika ia membela Timnas Indonesia U-23 di Asian Games tahun 2014 lalu. Hingga kini jika anda membuka laman internet dan mengetikan nama Fandi, yang muncul adalah bahwa ia merupakan seorang pemain yang berposisi sebagai sayap kanan.

Hal tersebut juga terjadi kepada wonderkid asal Semarang, Septian David Maulana. Septian bahkan hingga di tim usia muda Mitra Kukar ia masih bermain sebagai gelandang serang. Namun begitu dipromosikan ke tim senior, ia justru lebih banyak bermain sebagai penyerang sayap kiri atau kanan. Ketika Mitra Kukar menjadi juara di Piala Jenderal Sudirman tahun lalu pun, Septian bermain penuh sepanjang turnamen di posisi sayap dan menjadi kunci tim asal Kalimantan Timur tersebut untuk merengkuh gelar juara.

Kasus perpindahan ini juga terjadi ke beberapa pemain lain. Misalnya, duo Papua, Manu Wanggai dan David Laly awalnya berada di posisi gelandang serang.
Namun kemudian Manu bermain lebih dalam, sementara David kemudian lebih dikenal sebagai pemain sayap yang punya teknik yang baik. Pemain asal Bali, I Nyoman Sukarja juga mengalami kasus demikian. Ia bahkan sempat dimainkan sebagai penyerang tengah ketika ia bermain di PSIS Semarang. Atau Ichsan Kurniawan yang asalnya penyerang, lalu ke gelandang serang, dan terus bermain lebih dalam hingga ke gelandang bertahan. Dan masih banyak pemain lain yang awalnya gelandang serang kemudian berpindah posisi.

Transfer Taktik dan Penggunaan Pemain Asing
Tentu menjadi sebuah pertanyaan besar mengapa banyak pemain yang awalnya berposisi sebagai gelandang serang. Padahal Indonesia pada masa-masa klasik sempat memiliki gelandang serang yang mumpuni. Misalnya saja Ramlan yang satu angkatan dengan "Si Kuda Terbang" Aang Witarsa. Namun di era-era selanjutnya populasi pemain berjenis tersebut seakan punah. Layaknya teori evolusi milik Darwin, beberapa selamat dengan mengubah diri ke posisi lain.

Apa sebab hingga terjadi fenomena demikian? Mengapa pada akhirnya para gelandang serang tersebut kemudian beralih posisi? Setidaknya ada beberapa kemungkinan yang menyebabkan hal tersebut.

Dalam tulisannya "Menelaah Taktik Sepakbola Indonesia" Aqwam F Hanifan menyebutkan bahwa taktik yang ada di sepakbola Indonesia kebanyakan dibawa oleh orang asing yang kemudian diterapkanlah pengaruhnya di sini. Sistem khas Eropa Tengah, sistem WM, sistem MM dan seterusnya. Kemudian dipakai dan menjadi populer di antara pelatih-pelatih di Indonesia.

Namun kemudian rasanya ada transfer ilmu yang agak terhambat dalam beberapa tahun terakhir. Skema taktik dalam sepakbola Indonesia cenderung monoton.
Beberapa pelatih nampaknya memakai skema sekenanya saja, tanpa ada filosofi bermain atau memang berdasarkan komposisi tim yang dimilikinya. Sebagai contoh di Indonesia Soccer Championship, kompetisi penuh terakhir pasca Indonesia selesai menerima hukuman dari FIFA. Setidaknya dari 18 tim, setidaknya 14 sampai 15 kesebelasan menggunakan skema yang serupa yaitu 4231. Perubahan pun bukan hanya sekadar perubahan skema dari 4-2-3-1 yaitu 4-3-3 atau 4-4-2. Dengan kata lain, tidak ada skema yang benar-benar berbeda.

Kemonotonan ini bisa jadi menjelaskan beberapa hal. Antara pemain gelandang serang begitu sulit difungsikan atau memang banyak pelatih di Indonesia memang belum mengerti skema lain. Ini bisa saja berarti bahwa banyak pelatih di level usia muda memiliki kesulitan serupa.

Kesulitan-kesulitan ini juga diperparah terkait posisi dari legiun asing. Demi memenuhi hasrat kualitas pertandingan yang menarik dan kemenangan tentunya. Sudah menjadi pakem bahwa paket pemain asing akan ditempatkan di posisi penyerang tengah, bek tengah, dan gelandang serang. Poin ini bisa jadi adalah penyebab utama yang kemudian membuat para pemain lokal Indonesia emngubah pos bermainnya ke posisi lain dari gelandang serang.

Sebuah cara untuk bertahan hidup istilahnya. Daripada tergerus, mau tidak mau harus menyesuaikan diri. Salah satu fenomena ekstrem pun terjadi pada gelaran ISC lalu, Persib Bandung misalnya. Dalam laga-laga terakhirnya mereka memainkan dua pemain asing di posisi gelandang serang sekaligus dalam skema mereka. Tino Pugliara dan Marcos Flores dalam beberapa kesempatan di paruh kedua kompetisi cukup sering dimainkan bersamaan. Padahal Persib sendiri sebenarnya memiliki pemain lokal lain yang beroperasi di sektor gelandang serang seperti Kim Kurniawan atau Rachmad Hidayat.
***

Fenomena transformasi ini terlihat tidak begitu menjadi masalah terlebih para pemain tersebut bisa beradaptasi dan bermain di posisi lain. Memang para alumnus gelandang serang akan memiliki visi yang lebih multidimensional ketika mereka bermain di posisi lain. Gerakan memotong ke tengah yang memiliki penempatan waktu yang baik biasanya dimiliki oleh para pemain sayap yang sempat bermain di posisi gelandang serang. Karena mereka terbiasa melihat lapangan dari sudut yang berbeda. Yang bermain lebih dalam pun menjadi sangat baik karena ia bisa bermain lebih menekan ketimbang para gelandang biasanya.

Tapi apabila terus dibiarkan ini juga akan menghambat perkembangan sepakbola Indonesia, karena akan semakin ketergantungan dengan para pemain asing yang berposisi sebagai gelandang serang. Contoh teranyar adalah bagaiman posisi gelandang serang pada Piala AFF tahun lalu diberikan kepada Stefano Lilipaly, seorang naturalisasi yang notabene tidak mengecap pendidikan sepakbola di Indonesia melainkan di Eropa. Menjadi urgen karena nampaknya cukup banyak pula generasi-generasi terbaru sepakbola Indonesia yang berposisi sebagai gelandang serang. Gian Zola Nasrullah, misalnya.

Penulis beredar di media sosial dengan akun @aunrrahman. Pernah bersama Pandit Football Indonesia dan Labbola Sport Science & Data Management. Pernah magang juga di federasi sepakbola negeri ini. Sedang menempuh pendidikan magister di bidang Psikologi Olahraga. Bermimpi Indonesia Raya berkumandang di Piala Dunia. (detiksport/ r)
T#gs
Komentar
Komentar
Silakan Login untuk memberikan komentar.
FB Comments