Kamis, 19 Sep 2019

Spirit Idul Fitri dalam Menciptakan Kerukunan Nasional

Oleh : Mukti Ali Harahap MSi (Sekretaris PC NU Deliserdang
admin Jumat, 14 Juni 2019 17:33 WIB
Sebagai negara demokrasi dengan penduduk muslim terbesari di dunia, Indonesia telah membuktikan bahwa Islam dan demokrasi merupakan dua padanan yang bisa berjalan secara bersamaan. Pemilihan umum legislatif dan pilpres yang baru saja berlalu adalah buktinya. Pesta akbar dan terkompleks di dunia tersebut telah dilalui tanpa gangguan keamanan yang berarti hingga pada pengumuman oleh KPU pada tanggal 21 Mei 2019. Keberhasilan tersebut di samping karena komitmen dan upaya yang baik dari penyelenggara pemilu tentu disebabkan, pertama: Pemahaman yang baik dari masyarakat tentang ajaran Islam terutama tentang siyasah yang lebih mengedepankan nilai-nilai keadilan dan kesejahteraan sebagai tujuan politik Islam ketimbang prosesnya. Oleh karenanya demokrasi Indonesia sangat akomodatif terhadap ruh Islam dan kultur masyarakat negeri ini.

Kedua, pesta demokrasi kali ini bertepatan dengan bulan Sa'ban dan pengumumannya di bulan suci Ramadan 1440 H. Meski secara kebetulan namun pada kenyataannya mempunyai implikasi tersendiri terhadap proses dan substansi pemilu itu sendiri. Betapa tidak, pemilu sebelumnya masih diwarnai intrik-intrik antar kelompok pendukung dan tidak jarang bermuara pada terjadinya bentrokan pada sebagian masyarakat. Namun kali ini hal-hal yang bersifat destruktif, anarkis tidak dijumpai. Kalaupun terjadi friksi, lebih pada di dunia maya di antara masing-masing pendukung dan simpatisan ketimbang di dunia nyata, kecuali bentrokan yang dilakukan perusuh pada tanggal 21-22 Mei 2019. Situasi yang relatife kondusif tersebut bisa terjadi salah satunya disebabkan keberkahan bulan mulia tersebut.

Puasa Ramadan telah mengajarkan kepada umat Islam untuk selalu mampu menahan, mengendalikan nafsu amarah, nafsu lawwamah sehingga dengan mengendalikan nafsu tersebut akan mempersempit jalan syaitan dan iblis untuk menggoda manusia. Dengan berbagai amalan yang dilaksanakan dalam bulan mulia ini baik siang maupun malam hari seperti tarawih, witr, tahajjud, tadarus, sadaqah, i'tikaf, zakat dll maupun nilai pahala yang diraih sangat tinggi, maka hampir dapat dipastikan umat Islam Indonesia akan membingkai perjalanan demokrasi dengan spirit puasa yaitu, kedisiplinan, kebeningan dan kesabaran hati, anti kekerasan, ikhlas serta lapang dada.

Meskipun pemilu telah berlalu namun ke depan negeri ini masih menanti dua proses demokrasi selanjutnya. Yakni pengumuman gugatan terhadap hasil keputusan KPU tentang pemenang pilpres, pileg dan pelantikan Presiden dan Wakil Presiden Indonesia tanggal 20 Oktober 2019 nanti. Akankah kedua agenda politik tersebut mampu dilalui tanpa masalah? Tentu belum ada yang bisa menjawabnya secara pasti, akan tetapi apabila berkaca pada perhelatan demokrasi sebelumnya dan bangsa Indonesia yang masih berada pada suasana Idul fitri atau lebaran, maka seharusnya kedua peristiwa penentuan nasib bangsa ini akan berlangsung dengan baik. Persoalannya, apakah dengan semakin berlalunya bulan Ramadan dan Syawal maka ruh puasa dan kesucian tersebut masih terpatri di hati masyarakat Indonesia? Sejauh mana predikat taqwa sebagai tujuan puasa mampu bertahan di dalam diri setiap mukmin?

Makna Idul Fitri
Idul fitri berasal dari kata 'id dan fithr. 'Id merupakan akar kata dari kembali ke tempat atau keadaan semula. Sedangkan fitri berarti asal kejadian, agama yang benar, maupun kesucian. Dengan demikian idul fitri mempunyai makna kembalinya manusia kepada keadaan sucinya, atau keterbebasannya dari segala noda dan dosa, sehingga berada pada kesucian.

Dalam keyakinan Islam manusia lahir kedunia ini dalam keadaan suci, namun karena orang tua, lingkungan dan pendidikan maka kondisi kesucian tersebut menjadi sesuatu yang fluktuatif, hal ini tergantung dari nilai keimanan yang dimilikinya. Tidak bisa dipungkiri bahwa alienasi dari jalan lurus, agama hanif tersebut bisa saja terjadi. Manusia menjauh dari ajaran Allah, terlena dengan nafsu dan bujuk rayu syaitan dan godaan duniawi lainnya. Oleh karena itu puasa, fitri adalah siklus (id) yang datang setiap tahun untuk diraih manusia agar kembali mendekat dengan Allah juga kepada sesama manusia melalui tali agama Islam.

Relasi sesama manusia juga merupakan masalah fundamental, ketaqwaan seseorang tidak saja dengan indikator ke'abidan kepada Allah semata tetapi bagaimana mampu menjalin hubungan yang harmonis dengan keluarga, tetangga dan masyarakat sekitarnya. Keharmonisan sesungguhnya sesuatu yang melekat dengan manusia itu sendiri. Sebab manusia berasal dari kata "al-insan" yang berarti senang atau harmonis. Apabila melakukan dosa terhadap sesama, maka hubungan tersebut menjadi terganggu sehingga kurang harmonis lagi. Kesadaran akan kesalahan dan berusaha mendekat kepada orang yang pernah ia lukai hatinya akan mengantarkannya kembali kepada kondisi semula yaitu keharmonisan. Momentum tersebut bisa dijumpai tatkala seseorang melaksanakan puasa dengan baik sehingga mendapatkan kemenangan di dalam idul fitri.

Idul Fitri dan Kerukunan Nasional
Idul fitri / lebaran yang ditindaklanjuti dengan kegiatan halal bi halal dalam berbagai bentuk seperti face to face atau secara berkelompok seperti instansi, kelompok kekerabatan, mitra kerja, sejatinya bukanlah sekedar seremoni belaka yang berlalu begitu saja dan tidak mempunyai bekas. Halal bihalal adalah kelanjutan dari taubat dan kesucian seseorang di hadapan Allah kemudian ditindaklanjuti dengan meminta maaf, saling terbuka, saling menyayangi, sehingga akan tercipta suasana rukun dan harmonis sesama manusia. Meminta ampun kepada Allah SWT jauh lebih mudah daripada meminta maaf kepada sesama manusia, untuk itulah dianjurkan berlomba-lomba dalam kebaikan salah satunya dengan mendahului meminta maaf. Sungguh hal tersebut adalah sifat yang sangat mulia.

Maqom saling memaafkan dan rukun seharusnya tetap melekat pada diri seorang muslim, tidak mengenal waktu dan tempat, apalagi hanya pada saat lebaran semata. Halal bi halal adalah momentum untuk memulai sesuatu yang baru dengan landasan agamawi dalam rangka menjalin hubungan ajeg dengan sesama. Dan akan terbina seterusnya hingga pada saat idul fitri berikutnya tiba.
Apabila suasana seperti itu dapat terjaga dengan baik alangkah indahnya bangsa ini yang hidup dengan semangat keberagamaan yang tinggi, menjalin kasih sesama, empati, mengedepankan persatuan, menjauhi sifat dan sikap-sikap yang destruktif, anti kekerasan dan permusuhan, sopan, santun, khusnuz dzan, kritis yang rasional. Oleh karenanya tantangan bangsa ini kedepan seperti tahapan demokrasi yang akan dihadapi niscaya akan bisa diselesaikan dengan baik dengan tetap berpedoman pada ketaatan pada hukum sesuai dengan hikmah puasa yakni sabar dan disiplin, serta konsensus bersama untuk memajukan tanah air tercinta agar setara dengan bangsa-bangsa maju lainnya di permukaan bumi ini.

Penutup
Dalam momentum idul fitri kali ini hendaknya berimplikasi pada lahirnya niat tulus, legowo, menghilangkan rasa benci, dengki, iri, dendam, sombong, egoisme. Sifat-sifat negatif itu seharusnya diganti dengan saling asih dan keharmonisan serta terwujudnya kerukunan nasional sesama anak bangsa tidak saja dalam konteks sektoral melainkan secara nasional. Konsekwensinya, hati harus terbuka, wajah yang senyum ulurkan tangan untuk saling bermaafan. Kita buka lembaran baru yang masih blank dan mengisinya dengan penuh kebaikan. Sudah saatnya tanah air, ibu pertiwi ini untuk melewati era stigma negatif dimata bangsa lain. Dan dengan spirit Idul Fitri ini adalah tonggak awal untuk memulai perbaikan mental, meningkatkan pembangunan demi mencapai tujuan pendirian negara Indonesia tercinta. (c)
T#gs
Berita Terkait
Komentar
Komentar
Silakan Login untuk memberikan komentar.
FB Comments