Rabu, 23 Sep 2020

Sejarah Kairo Sebagai Titik Penting Peradaban Islam

redaksisib Jumat, 17 Januari 2020 21:43 WIB
Republika/Agung Supriyanto
Suasana kota mati atau bangunan kuburan yang terletak di Kota Kairo, Mesir, Selasa (9/9).
Kairo (SIB)
Sebagai sebuah negeri, Mesir memiliki sejarah panjang. Mulai dari masa Fir'aun, khalifah, hingga masa republik. Sejak zaman kuno (4.000 SM), Mesir telah memiliki peradaban yang tinggi. Peninggalan kejayaan Mesir kuno masih berdiri kukuh hingga saat ini, sebut saja misalnya piramid serta spinx (patung singa berkepala manusia).

Peradabannya yang tinggi, disertai potensi geografis dan budaya yang dimilikinya, membuat Mesir segera 'bersinar' ketika Islam masuk ke sana. Mesir segera menjadi negeri yang berperan penting dalam sejarah perkembangan Islam.

Islam masuk ke Mesir pada abad 7 ketika Khalifah Umar bin Khatab memerintahkan Amr bin As membawa pasukan tentara Islam untuk mendudukinya. Setelah menduduki Mesir, Amr bin As menjadi amir (gubernur) di sana (632-660) dan menjadikan Fustat (dekat Kairo) sebagai pusat pemerintahan.

Pada masa-masa selanjutnya, Mesir berada di bawah pemerintahan dinasti seperti Umayah, Abbasiyah, Tulun (868-905), Ikhsyid (935-969), Fatimiah (909-1171), Ayubiyah (1174-1250) yang ditandai dengan Perang Salib (1096-1273), dan Mamluk (1250-1517). Pada masa sesudahnya, Mesir menjadi bagian dari Kerajaan Turki Ottoman. Dalam rentang penguasaan pemerintahan dinasti itu, masa jaya Islam di Mesir terjadi pada masa Dinasti Fatimiah ketika ibu kota pindah ke Kairo dan Universitas Al Azhar didirikan.

Keberadaan Al Qahira atau Kairo bermula ketika Mu'izz Lidinillah, khalifah Fatimiah, berniat melakukan ekspansi ke Mesir. Ia pun mengutus panglima perangnya, Jauhar al Katib as Siqilli, untuk menaklukkan Mesir. Jauhar berhasil membangun sebuah kota baru yang diberi nama Al Qahira (Kairo) pada tahun 969. Pada 973, Khalifah Mu'izz hijrah ke Mesir dan menjadikan Kairo sebagai pusat pemerintahan.

James E Lindsay dalam Daily Life in the Medieval Islamic World bercerita tentang Al Qahira atau Kairo ini. Ibu kota baru ini, tulis Lindsay, dibangun dengan sangat baik. Sebuah masjid megah, yakni Masjid Al Azhar, dibangun di sana. Istana kerajaan ada di jantung kota. Dari sisi pertahanan, Jauhar membangun benteng tangguh yang melingkupi Kairo. Di beberapa bagian benteng itu, ada gerbang berpelat besi. Lewat gerbang inilah, warga setempat bisa bepergian ke Suriah dan Fustat.

Selain masjid, dibangun pula mushala. Berbeda dengan masjid yang ada di pusat kota, mushala lebih banyak berlokasi di pinggiran kota. Penguasa Mesir saat itu juga menyediakan lahan pemakaman untuk warga.

Di bawah Dinasti Fatimiah, Kairo mencapai kejayaan sebagai pusat pemerintahan. Dinasti ini menorehkan kegemilangan selama 200 tahun. Wilayahnya mencakup Afrika Utara, Sisilia, pesisir Laut Merah Afrika, Palestina, Suriah, Yaman, dan Hijaz. Kairo pun tumbuh sebagai pusat perdagangan di kawasan Laut Tengah dan Samudera Hindia. Sementara ibu kota Mesir sebelumnya, Fustat, menjadi bagian dari wilayah administratifnya.

Saingi Baghdad dan Cordoba
Pada era itu pula, Kairo menjelma menjadi pusat intelektual dan kegiatan ilmiah baru. Bahkan, seperti tertulis dalam Ensiklopedia Islam untuk Pelajar, pada masa pemerintahan Abu Mansur Nizar al Aziz (975-996), Kairo mampu bersaing dengan dua ibu kota Dinasti Islam lainnya, yakni Baghdad di bawah Dinasti Abbasiyah dan Cordoba sebagai pusat pemerintahan Dinasti Umayyah di Spanyol

Seperti halnya Dinasti Abbasiyah dan Umayyah yang mampu membangun istana, Dinasti Fatimiah pun mampu mendirikannya. Tak hanya istana, ketiga dinasti yang berada di tiga benua berbeda itu pun 'berlomba' membangun masjid. Dinasti Abbasiyah di Baghdad bangga memiliki Masjid Samarra, Dinasti Umayyah membangun Masjid Cordoba, dan Fatimiah memiliki Masjid Al Azhar.

Di bidang administrasi negara, Fatimiah pun menorehkan sesuatu yang patut ditiru oleh para penguasa di era berikutnya, termasuk di era modern saat ini. Dalam merekrut pegawai, misalnya, pemerintahan Fatimiah mengutamakan kecakapan dibandingkan pertalian keluarga. Artinya mereka menjauhi praktik yang disebut masyarakat modern sebagai nepotisme. Semangat toleransi pun dikembangkan. Penganut Sunni dan Syiah memiliki peluang yang sama untuk menduduki suatu jabatan.

Pada akhir masa kejayaan Fatimiah, Kairo hampir saja jatuh di bawah penguasaan tentara Perang Salib. Beruntung, panglima perang Salahudin Al Ayubi berhasil menghalaunya. Sejak itu, Salahudin mendeklarasikan kekuasaannya di bawah bendera Dinasti Ayubiyah, yang hanya bertahan 75 tahun. Kairo kemudian diambil alih Dinasti Mamluk. Sekitar tiga abad lamanya, Mamluk menjadikan Kairo sebagai pusat pemerintahan. (Rep/c)


T#gs
Berita Terkait
Komentar
Komentar
Silakan Login untuk memberikan komentar.
FB Comments