Jumat, 13 Des 2019

Memerangi Hoax

Oleh : Islahuddin Panggabean, SPd
admin Jumat, 12 April 2019 17:32 WIB
Hoax atau berita bohong serta ujaran-ujaran kebencian dalam sejarah Islam sudah dikenal sejak lama, dari semenjak Nabi diutus banyak hoax tersebar yang ingin membunuh karakter Rasul yang mulia.

Begitu juga di era sahabat yakni para khulafaurrasyidin, tabi'in dan era selanjutnya. Orang-orang yang telah termakan oleh hoax akan mengganggap diri benar dan paling benar dalam bersikap menanggapi berita tersebut.

Pada umumnya pemantik utamanya tersebarnya hoax adalah soal kekuasaan dan politik. Nabi Muhammad Saw yang membawa Islam mengganggu 'nyamannya' kekuasaan kaum kafir di Mekkah maupun kaum munafik di Madinah sehingga muncullah upaya menghadang dengan hoax.

Salah satu sejarah yang tercatat tentang hoax yakni Khalifah Islam ketiga Ustman Bin Affan, sahabat Nabi yang paling dermawan dan santun terbunuh karena hoax. Sahabat yang jelas-jelas dipuji Nabi atas sifat jujur, dermawan dan serta dijamin masuk surga dituduh sebagai orang yang dzalim, nepotisme, bahkan lebih keji lagi ada yang menuduhnya sebagai seorang pemimpin umat memerintah tidak berdasarkan syariat.

Latar belakang munculnya hoax di zaman Khalifah Ustman bin Affan RA pemantik utamanya adalah soal politik. Dari mulai tahun ke tujuh hingga tahun ke dua belas pemerintahan Khalifah Ustman, para pembencinya melakukan gerakan-gerakan pembangkangan melalui jalan menyebarkan hoax.

Beberapa orang politikus terkenal dari Propinsi Kuffah saat itu al Aytsar an Nakho'i, Kumail bin Ziyad, Amr bin al Hamiq al Khuza'i dan Sho'soah bin Shouhan, melakukan demonstrasi menuntut Gubernur Kuffah mundur. Sebelumnya, mereka menyebarkan berita ke masyarakat ramai bahwa Gubernur Kuffah yakni Said bin al Ash sebagai Gubernur Korup, serta tidak becus dalam memerintah.
Hasutan dari kelima politukus itu, kemudian dipercayai masyarakat Kuffah. Gubernur Kuffah kemudian diusir oleh rakyatnya. Diturunkan secara paksa dari jabatannya sebagai Gubernur Kuffah.

Khalifah Ustman bertindak cepat, beliau pun kemudian bermusyawarah dengan rakyat. Karena rakyat sudah terlanjur benci dengan Gubernur sebelumnya, maka diangkatlah Gubernur Kuffah baru yakni Abu Musa al Asyari.

Setelah peristiwa itu, berita hoax pun kemudian makin berkembang, rakyat yang semula hanya menyalahkan gubernur kini berlanjut menyalakan khalifah. Ustman bin Affan dianggap tidak becus dalam merintah, buktinya khalifah mengangkat para gubernur yang tidak kompeten.

Setelah mengetahui dalang hoax tersebut, Utsman pun mengusir provokator dan pembuat hoax dari Kuffah. Ternyata hoax atau berita-berita palsu tidak berhenti untuk mendeskriditkan kepemimpinan sang khalifah.

Muncul lagi guncangan dari Mesir. Rakyat Mesir merasa muak dengan Gubernur Mesir pada waktu itu adalah Abdullah bin Abi Sarah. Khalifah Utsman bertindak cepat atas aduan itu. Beliau mengirimkan surat pemecatan yang ditujukan kepada gubernur. Tapi tentunya isi surat tersebut tiada yang mengetahui selain Gubernur Mesir.

Karena memang watak Gubernur Mesir ini buruk, surat pemecatan dari Khalifah yang didasarkan pada laporan rakyat itu ditanggapi dingin oleh gubernur. Gubernur justru kemudian berlaku buruk terhadap pelapor. Bahkan ia membunuh salah satu pelapor.

Pada masa kacau seperti itu, pembenci khalifah mendapat angin semakin memanas-manasi dengan menyebarkan hoax. Terhembus isu menuduh Utsman tidak berlaku adil dalam pengangkatan para pejabatnya karena ia mengutamakan keluarganya dan mencopot jabatan sebagian sahabat senior.

Beliau juga dituduh telah membuat perkara baru yang tidak ada contoh sebelumnya seperti pengumpulan ayat-ayat Alquran dalam sebuah mushaf, beliau tidak meng-qashar shalat tatkala di Mina, dan beliau menambahkan adzan menjadi dua kali pada hari Jumat.
Singkat cerita, Khalifah Utsman terbunuh. Berita hoax juga kembali menghantui umat Islam di masa Khalifah Ali bin Abi Thalib hingga kaum muslimin saling perang bahkan Ummul Mukminin Aisyah dan para sahabat nabi yang mulia terbawa-bawa dalam peperangan.
Begitulah bila hoax serta ujaran kebencian dibiarkan dan disebarluaskan. Permusuhan dan perpecahan bahkan bisa sampai saling bunuh terjadi kalangan kaum muslimin. Sebab itu, hoax harus bersama diperangi. Hoax mengakibatkan perpecahan.

Masa menjelang Pemilu khususnya Pilpres, kondisi masyarakat perlu diingatkan tentang bahaya hoax. Apalagi hoax tersebut sudah menyentuh pribadi presiden maupun calon presiden yang notabene akan menjadi pemimpin bangsa dan negara. Jelang Pilpres, hoax tersebut kembali menyeruak. Hal tersebut haruslah diluruskan demi meminimalisir potensi kegaduhan dan perpecahan.

Sebagai contoh nyata, banyaknya hoax yang menyerang Presiden Joko Widodo. Selama 4,5 tahun terakhir bahkan sebelumnya, pribadi Presiden selalu diterpa isu. Mulai dari anak komunis- PKI, antek asing, tidak Islami dan kriminalisasi ulama dan sebagainya. Intinya Presiden Jokowi anti Islam. Parahnya pendukungnya ada yang dicap kafir atau munafik.

Padahal, Jokowi sejatinya tidak seperti itu. Pilpres ini menggandeng Ketua Majelis Ulama Indonesia KH Ma'ruf Amin sebagai cawapres. Sejauh pemerintahannya, kebijakan-kebijakannya - selain tentu masih belum sempurna- cukup banyak yang mengandung maslahat bagi umat.

Terlahir dari keluarga muslim. Pribadi Jokowi juga Islami. Itu setidaknya dapat diterima dari kesaksian Ustadz Yusuf Mansur baru-baru ini. The Royal Islamic Strategy Studies Center di Amman, Yordania baru baru ini memasukkan Presiden Jokowi dalam daftar 500 Muslim Dunia Paling Berpengaruh Tahun 2019.

Jika sebagian kaum muslimin mendukung Prabowo Subianto- Sandiaga Uno dengan alasan Ijtima Ulama, sejatinya Jokowi-Maruf Amin juga didukung ulama dan ormas Islam. Musyawarah Nasional (Munas) Alim Ulama menetapkan ijtihad politik dan fatwa untuk mendukung pasangan Joko Widodo (Jokowi)-KH Ma'ruf Amin dalam Pilpres 2019 pada 16 Februari lalu. Secara daerah, Front Aliansi Ormas Islam Sumut juga menetapkan mendukung Jokowi.

Begitu pula, dengan sosok Prabowo Subianto, tidaklah baik menyerang pribadi dengan isu-isu hoax seperti tidak pandai mengaji dan sebagainya. Harusnya Pilpres jadi ajang pertarungan ide dan program yang mengandung maslahat untuk masyarakat. Selayaknya Indonesia setelah Pilpres dapat bersatu tanpa melihat siapa saja pendukung Calon Presiden pilihannya.

Penutup
Dalam sejarah, hoax menggoreskan luka. Hoax biasanya timbul karena ada unsur politik. Hoax apalagi membawa-bawa isu agama di dalamnya sangat rawan dalam menimbulkan kekisruhan dan permusuhan bahkan di kalangan kaum muslimin sendiri. Pilpres 2019 harus dimenangkan oleh persatuandengan cara berperang melawan hoax. Mari Bersatu! (l)
T#gs
Berita Terkait
Komentar
Komentar
Silakan Login untuk memberikan komentar.
FB Comments