Kamis, 17 Okt 2019

M u s i b a h K a b u t

* Oleh Islahuddin Panggabean SPd (Staf Media Centre Gerakan Islam Pengawal NKRI)
admin Jumat, 20 September 2019 18:14 WIB
Provinsi Riau dinyatakan siaga darurat asap karena kebakaran hutan dan lahan (Karhutla). Untuk memohon diturunkannya hujan guna menghilangkan kabut asap, Presiden Joko Widodo (Jokowi) pada 17/9/2019 melaksanakan salat istisqa.

Sementara itu, kualitas udara di wilayah Riau masih belum membaik sepenuhnya akibat asap pekat kebakaran hutan dan lahan. Jarak pandang yang terganggu dan kualitas udara yang buruk masih menyelimuti wilayah Riau.

Merujuk catatan BNPB per Sabtu (14/9), indeks standar pencemar udara (ISPU) tertinggi di wilayah Pekanbaru 269, Dumai 170, Rokan Hilir 141, Siak 125, Bengkalis 121, dan Kampar 113. Sedangkan Kualitas udara yang diukur dengan ISPU memiliki kategori baik (0 - 50), sedang (51 - 100), tidak sehat (101 - 199), sangat tidak sehat (200 - 299), dan berbahaya (lebih dari 300).

Fenomena kabut asap ini sudah pantas disebut musibah. Kata "musibah" berasal dari bahasa Arab yang berarti setiap kejadian yang tidak disukai. Dalam kamus besar bahasa Indonesia disebutkan bahwa musibah ialah kejadian/ peristiwa menyedihkan yang menimpa.

Kata "musibah" di dalam Al-Qur'an disebut secara eksplisit sebanyak sepuluh kali. Sedangkan secara implisit sangat banyak sekali. Dalam hadits riwayat Bukhari dan Muslim dinyatakan sabda Rasulullah SAW yang menyebutkan sejumlah jenis musibah, antara lain : rasa lelah, sakit, resah, sedih, derita, galau, hingga tertusuk sebuah duri sekali pun tergolong musibah.

Hakikat Musibah setidaknya ada tiga macam, yaitu : Pertama, Musibah sebagai Ujian, yaitu musibah yang menimpa orang-orang beriman yang soleh. Musibah tersebut ujian keimanan dan keyakinannya kepada Allah SWT. Jika dia hadapi tetap dengan Syukur dan Sabar, maka ujian tersebut akan menjadi pensuci diri dan pengangkat derajatnya di sisi Allah SWT.

Kedua, musibah sebagai Peringatan, yaitu musibah yang menimpa orang-orang yang sering lalai. Maka musibah tersebut sebagai peringatan agar dia tidak lagi lalai, sehingga kembali ke jalan yang semestinya. Ini yang difirmankan Allah SWT dalam QS.30.Ar-Ruum : 41 "... supaya Allah merasakan kepada mereka sebahagian dari (akibat) perbuatan mereka, agar mereka kembali (ke jalan yang benar)."

Sebab pada umumnya musibah terjadi bisa dipandang dari dua sudut. Pertama, sudut rasional. Sebagaimana kabut asap yang terjadi akibat perbuatan sebagian manusia yang tidak bertanggung jawab. Hal ini dijelaskan dalam QS ar-Rum 41, "Telah nampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan karena perbuatan tangan manusia,.." Kedua, sudut ruhani. Sebab macam ini seperti musibah yang datang akibat merajalelanya kemungkaran, kedurhakaan, kezaliman, ketidakadilan, kesewenangan, dan aneka perbuatan ma'siat lainnya. Musibah adalah peringatan kepada manusia untuk memperbaiki baik yang bersifat teknis lebih-lebih keimanan dan ketaqwaan kepada Allah.

Ketiga, Musibah sebagai Azab, yaitu musibah yang menimpa orang-orang durhaka seperti orang kafir, musyrik, murtad, fasiq, munafiq, zalim dan Ahli Ma'siat. Musibah tersebut adalah siksa yang didahulukan di dunia, dan azab akhirat yang disiapkan jauh lebih pedih lagi.

Mengenai kabut atau asap, di dalam Al-Quran terdapat sebuah surat yang bernama ad-Dukhan. Ad-Dukhan menurut para ulama adalah kabut asap yang menimpa negeri Makkah dan sekitarnya. Sebagian ulama mengatakan bahwa kabut asap ini dalam makna yang sebenarnya.

Sedangkan sebagian lagi berpendapat bahwa kabut itu seolah-olah terlihat di mata kaum Quraisy disebabkan kelaparan atau kesulitan hidup yang mereka alami. Kaum musyrikin Quraisy ditimpa kelaparan dan pilek. Kabut asap telah mematikan tetanaman sayur mayor, bibit gandum dan kurma. Ada juga di antara mereka mati.

Imam Ath-Thabari menyebutkan bahwa kabut asap yang menimpa orang-orang kafir Quraisy karena mereka menolak agama Islam dan mengusir Nabi Muhammad saw. Mereka ditimpa kelaparan. Sejumlah orang yang terkenal kaya raya pun jatuh miskin seperti Abu Lahab, Abu Sufyan bin Harb, Wailid bin Mughirah, Umayyah bin Khalaf dll.

Karena penderitaan yang luar biasa, lapar dan dahaga, maka mereka berdoa : Ya Tuhan kami, lenyapkan azab ini dari kami, Sungguh kami akan beriman. (QS Ad-Dukhan :12). Mereka berjanji akan beriman. Padahal bagaimana sikap mereka pada Rasulullah? Menuduh gila, penyihir bahkan mengucilkan dan mengusir beliau.

Mereka pun menemui Nabi agar beliau berdoa pada Allah agar turun hujan. Nabi pun mendoakan. Kabut dihilangkan oleh Allah, hujan menumbuhkan bibit buah. Mekkah kembali cukup makanan, namun orang kafir malah semakin ingkar. Raungan dan tobat mereka hanya permainan. Mereka mencoba menipu Allah padahal mereka hanya menipu diri sendiri. Mereka tidak mau beriman.
Kemudian Allah menghantam mereka dengan hantaman yang sangat keras, balasan kekafiran mereka (QS Ad-Dukhan : 16).
Imam Ibnu Katsir menjelaskan bahwa hantaman yang sangat keras adalah perang Badar dimana pada peristiwa tersebut kebanyakan orang Kafir tewas. Begitupula hantaman itu akan terjadi di Hari Kiamat.

Musibah Kabut Asap yang menimpa kita setidaknya bisa menjadi bahan perenungan untuk memperbaiki diri. Baik berupa upaya preventif (pencegahan) maupun aksi cepat pemerintah untuk pemulihan sebagaimana janji Gubernur dan Wakil Gubernur Riau, Syamsuar-Edy Natar dalam janji 100 Hari kerja Syamsuar yang mana poin pertama berbunyi, "sosialisasi pencegahan kebakaran hutan dan lahan (Karhutla) terhadap pemerintah daerah". Begitupula memperbaharui tingkat keimanan dan ketaqwaan kepada Allah.
Jangan sampai pula tatkala musibah kabut asap telah berlalu kita tidak bersyukur pada-Nya malah bertambah kufur. Wallahua'lam. (f)
T#gs
Berita Terkait
Komentar
Komentar
Silakan Login untuk memberikan komentar.
FB Comments