Rabu, 18 Sep 2019

Kemerdekaan Kalimat Tauhid dan Misi Sebuah Bangsa

* Oleh Islahuddin Panggabean SPd Staf Media Centre Gerakan Islam Pengawal NKRI (GIP-NKRI)
admin Jumat, 06 September 2019 20:21 WIB
Muhammad Imaduddin Abdulrahim dalam Kuliah Tawhid (1979) menjelaskan bahwa nilai kemanusiaan yang paling utama adalah kemerdekaan. Sebab kemerdekaanlah satu-satunya nilai memberikan manusia dengan makhluk yang lain. Tanpa kemerdekaan manusia sebenarnya tidak mungkin menjalani hidup sebagai manusia. Harga diri setiap manusia justru diukur dengan derajat kemerdekaan yang bisa dipakai dan dipertahankan manusia itu.

Secara individu, setiap manusia dilahirkan merdeka. Namun, dalam mempertahankan hidupnya pada tingkat awal dari kehidupannya itu terpaksa tergantung pada manusia lain yakni ibunya, atau orangtua. Akan tetapi setiap ibu dianugerahi rasa kasih sayang (rahmah) dari Allah yang ditujukan pada anaknya secara murni (ikhlas) tanpa pamrih. Nilai kemerdekaan si anak tidak tercemar oleh sifat ketergantungan kepada orangtuanya. Wajarlah jika durhaka pada kedua orangtua khususnya ibu jadi dosa terberat setelah syirik dan tak akan diampuni selagi ibu tak mengampuni.

Oleh karena itu, kehidupan antar sesama manusia ialah proses memberi dan menerima (give and take) secara langgeng dan seimbang. Kondisi ketidakseimbangan sering jadi tantangan menentukan nilai kemerdekaan yang akan sebanding dengan nilai diri.
Bisa saja, ada yang mengorbankan nilai kemanusiaannya seperti jadi tergantung sama orang lain. Harga dirinya pun jatuh. Begitupula, ada juga pihak yang merampas kemerdekaan orang. Ia jadi penindas dan penjajah. Keduanya dicela Allah.

Dapat dipastikan pula bahwa adanya kelas-kelas di masyarakat disebabkan oleh mengalahnya kemanusiaan terhadap rencana iblis yang suka menganggap diri lebih baik dan mulia dari yang lain. Adanya hak-hak istimewa kelompok tertentu, maupun kekaguman, penghormatan, ketergantungan kerap menjadikan manusia terseleweng nilai tauhidnya.

Dan Kalimat tauhid 'Laa ilaaha illa Allah' sejatinya merupakan deklarasi kemerdekaan yang paling tinggi (the ultimate declaration of independence), tapi masih mungkin dicapai oleh setiap manusia. Deklarasi inilah yang membebaskan setiap manusia, yang mampu menghayatinya secara konsisten, dari segala macam perbudakan dan penjajahan, termasuk penjajahan hawa nafsunya sendiri.

Dengan bertuhan hanya kepada Allah SWT yang kekuasaan-Nya memang mutlak dan benar-benar nyata, manusia mampu menikmati tingkat kemerdekaan yang paling tinggi, yang mungkin tercapai oleh manusia. Setiap muslim ialah manusia yang paling bebas dari segala bentuk keterikatan, kecuali keterikatan yang datang dari Allah.

Seorang muslim akan menghargai kemerdekaan itu dengan tinggi tanpa ragu, jika perlu, ia siap mengorbankan hidup demi mempertahankan kemerdekaan itu. Bahkan kalau seseorang itu mati dalam mempertahankan kemerdekaan maka ia hakikatnya mempertahankan nilai kemanusiaannya yang sempurna. Apalah arti kehidupan jasmani melulu, jika nilai kemanusiaannya tiada. Pepatah bangsa mengatakan, 'lebih baik mati terbelakang tanah daripada hidup bercermin bangkai'.

Terkait dengan itulah, sosok Nabi Ibrahim merupakan tokoh yang tepat menggambarkan kualitas kemanusiaan yang sempurna. Ibrahim rela dibakar hidup-hidup karena kalimat "Laa ilaaha Illa Allah". Diusir dari tanah airnya, dipindahkan ke tanah gersang, rela dipisahkan dengan anaknya Ismail dan istrinya Siti Hadir, serta rela menyembelih anaknya Ismail.

Semua itu sebab penghayatan beliau terhadap kalimat tauhid. Ibrahim telah mendapat kehormatan tertinggi. Ialah Bapak Kemerdekaan atau Bapak Kemanusiaan yang pertama paling utama bagi seluruh manusia. Hal itu pula yang akan dijumpai pada keturunan-keturunannya khususnya yang menjadi Nabi terakhir bagi kemanusiaan yakni Nabi Muhammad Saw.

Misi Kebangsaan
Ajaran Nabi Muhammad SAW dapat dikatakan sebagai lanjutan ajaran Ibrahim (Millata Ibrahim). Pokok ajaran Ibrahim merupakan missi utama Muhammad SAW. Muhammad SAW ialah keturunan Ibrahim yakni dari bangsa Quraisy merupakan Nabi terakhir bagi kemanusiaan.

Bangsa Quraisy tersebut dalam Al-Quran yaitu surah Al-quraisy. Dalam surat itu juga tercatat apa yang menjadi salah satu misi besar sebuah kemanusiaan tepatnya sebuah bangsa yakni bebas dari Lapar dan takut. (Qs 106: 3-4).

Itulah akhirnya yang mulai dislogankan oleh bangsa-bangsa di dunia pada 1776 bahwa tujuan perjuangan sebagai bangsa yakni kemerdekaan ekonomi dan kemerdekaan berpolitik. Amerika Serikat menyatakan perjuangan mereka dengan menegakkan 'Freedom from want and freedom from fear". Sejarah bangsa-bangsa lain juga membuktikan bahwa kedua macam kemerdekaan ini yang jadi tolak ukur kemajuan suatu bangsa.

Apabila suatu negara kedua macam kemerdekaan ini terjamin, maka bangsa itu akan maju dan makmur. Sebaliknya jika kedua kemerdekaan itu tertekan maka negara akan mundur. Sejarah Mesir dengan kezaliman Firaun, bangsa 'Ad dan Tsamud, bangsa Babylonia yang telah melahirkan Nabi Ibrahim dan beberapa contoh lain merupakan bukti bahwa kemerdekaan ekonomi dan politik merupakan misi utama sebuah bangsa jika tidak ingin negara hancur. Kemerdekaan ekonomi dan politik juga akan tegak berdiri utuh jika kalimat Tauhid sudah berkibar.

Ide inilah yang kemudian dihimpun Anis Matta dalam ide Arah Baru Indonesia, dengan memadukan Islam, Nasionalisme, Demokrasi dan Kesejahteraan. Jika di orde lama, situasi politik cenderung nyaman, namun kesejahteraan kurang. Sebaliknya, orde baru kesejahteraan relatif ada, namun nilai demokrasi diberangus. Maka, sekarang saatnya semuanya berjalan dengan baik.

"Ketegangan" antara Islam (atau agama) dengan kemodernan dan keindonesiaan juga harus tidak ada lagi. Konsensus dan hubungan yang lebih konstruktif antara agama dan negara akan membuat makna keindonesiaan makin hidup. Keindonesiaan bukan untuk dipertentangkan dengan keIslaman; begitu juga keislaman tidak untuk dipertentangkan dengan kemodernan. Kemodernan merupakan hasil dan sekaligus pemicu perkembangan pengetahuan yang menjadi alat untuk menghasilkan kesejahteraan. Hidup yang sejahtera adalah salah satu tujuan dan cita-cita Indonesia Merdeka.

Agama, dalam hal ini Islam, memberi orientasi berdasarkan nilai fundamental perdamaian dan keselamatan. Individu tidak perlu merasa terasing dari akar eksistensinya karena ada agama yang akan memberikan arah. Agama menjadi sebab percepatan kemajuan, bukan penghambat. Karena adanya nilai-nilai Universal tentang kewajiban menuntut ilmu, berkolaborasi dan mengusahakan kesejahteraan.

Penutup
Kemerdekaan adalah nilai kemanusiaan yang tertinggi. Nilai manusia tergantung dimana seberapa merdeka ia. Sebagai sebuah bangsa, ada dua macam kemerdekaan yang harus diraih adalah kemerdekaan ekonomi dan politik. Dua kemerdekaan itu pun bisa diraih dengan kalimat tauhid. Wallahua'lam. (q)
T#gs
Berita Terkait
Komentar
Komentar
Silakan Login untuk memberikan komentar.
FB Comments