Rabu, 16 Okt 2019

Kebodohan dan Sikap Bersegera dalam Taubat

* Oleh Islahuddin Panggabean SPd (Staf Media Centre Gerakan Islam Pengawal NKRI)
admin Jumat, 12 Juli 2019 18:20 WIB
Bodoh dalam bahasa Arab sering disebut jahil atau jahl. Jahl adalah lawan kata 'ilm. Jahl secara bahasa berarti kasar tabiatnya, bersikap tidak ramah, berpaling dari, dan dungu, tolol dan naik darah. Sinonim dari kata jahl adalah al-khiffatu (kurang berfikir), istakhaffahu (meremehkan/menganggap ringan), fasakha (bodoh/lemah akalnya), Dhafuta (bodoh/dungu), safaha (merendahkan/bodoh/tolol/jelek akhlaknya), ghalaza(kasar dalam perangai).

Ar-Raghib al-Ashfahaniy menjelaskan bahwa makna kata al-jahl dibedakan menjadi tiga tingkatan, yakni kosongnya jiwa dari ilmu, dan ini merupakan makna asal. Kedua, meyakini sesuatu yang tidak sesuai dengan kenyataan (tidak layak dipercayai). Ketiga, melakukan sesuatu yang salah (tidak sesuai dengan kebenaran), baik mengerjakannya itu dengan keyakinan bahwa pekerjaan itu benar atau meyakini bahwa perbuatannya itu memang salah.

Dengan kebodohan itulah, manusia melakukan kesalahan, maksiat dan dosa. Karena memang maksiat kepada Allah itu pada hakikatnya merupakan kebodohan. Sebagaimana ungkapan para sahabat, "Kullu man asha Allah fahuwa jahil. (Siapa saja yang bermaksiat kepada Allah maka ia adalah orang jahil/bodoh). Begitupula ungkapan dari Ibnu Abbas ra. "Barangsiapa yang melakukan keburukan/maksiat maka ia adalah orang jahil, karena kebodohannya maka ia melakukan kemaksiatan."

Kebodohan itu terjadi akibat manusia itu sering mengikuti 'ke-aku-annya' atau mengikuti hawa nafsunya. Abu Hayyan Al-Andalusi menjelaskan bahwa Tidaklah ia menjadi demikian dungunya kecuali tatkala ia dikuasai oleh hawa nafsu dan syahwatnya sehingga akal pikirannya dikendalikan oleh syahwatnya. Jadilah ia dungu dan bodoh tidak berakal bahkan menjadi budak syahwat dan nafsunya.

Namun di dalam kebodohan dan bergelimangnya manusia dalam kemaksiatan itu, terdapat ayat-ayat dari-Nya yang indah berupa janji ampunan. Bahwa taubat memang disediakan buat orang-orang yang bodoh. Sesungguhnya taubat di sisi Allah hanyalah taubat bagi orang-orang yang mengerjakan kejahatan lantaran kejahilan, yang kemudian mereka bertaubat dengan segera, Maka mereka Itulah yang diterima Allah taubatnya; dan Allah Maha mengetahui lagi Maha Bijaksana. (QS An-Nisaa : 17).

Dalam ayat lain, "Bahwasanya barang siapa di antara kalian yang berbuat keburukan dengan kejahilan, kemudian ia bertaubat setelah mengerjakannya dan Mengadakan perbaikan, Maka Sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang." (QS Al-An'aam ; 54). "Kemudian, Sesungguhnya Tuhanmu (mengampuni) bagi orang-orang yang mengerjakan kesalahan dengan kebodohannya, kemudian mereka bertaubat sesudah itu dan memperbaiki (dirinya), Sesungguhnya Tuhanmu sesudah itu benar-benar Maha Pengampun lagi Maha Penyayang." (QS An-Nahl : 119)

Menilik ayat-ayat tersebut, manusia pun dilarang berputus asa untuk bertobat. Sebab manusia memang ditakdirkan bersalah dan sebaik manusia itu ialah yang segera memohon ampunan dan memperbaiki diri. Bersegera dalam taubat inilah yang menjadi keharusan bagi setiap manusia yang ingin selamat dunia akhirat.

Imam An Nawawi berkata, "Para ulama telah sepakat, bahwa bertaubat dari seluruh perbuatan maksiat adalah wajib; wajib dilakukan dengan segera dan tidak boleh ditunda, apakah itu dosa kecil atau dosa besar." Imam Ibnul Qayyim berkata, "Sesungguhnya segera bertaubat kepada Allah dari perbuatan dosa hukumnya adalah wajib dilakukan dengan segera dan tidak boleh ditunda."

Taubat dengan segala derivasinya disebut dalam al-Quran setidaknya lebih kurang 107 kali. Kata taubat yang terbanyak terdapat pada surat at-Taubah (17), surat al-Baqarah (13), Surat an-Nisa (12), surat Hud (6), surat al-Maidah (5), Surat Ali-Imran (3) dan 1 kali di dalam surat-surat lain.

Di dalam al-Quran, at-taubah menjadi nama salah satu surat. Keistimewaan surat Taubah di antaranya tidak diawali dengan Basmalah. Di antara mufasir menyebutkan bahwa di dalam surat ini banyak bicara mengenai orang munafik, musyrik dan kafir serta membongkar skandal yang pernah mereka lakukan. Oleh karena itulah Surat Taubah sering disebut juga al-Fadhiah (pembuka skandal) dan al-kasyifah (penyingkap).

Orang-orang yang berkarakter sebagaimana banyak dijelaskan dalam surat ini tidak pantas mendapat kasih sayang Allah, kecuali jika mereka mau bertaubat. Allah tetap saja membuka pintu taubat seluas-luasnya bagi mereka. "Jika mereka bertaubat, maka itu lebih baik buat mereka," "Jika kamu bertaubat itu akan lebih baik bagimu." Demikian bunyi banyak ayat dalam surat at-Taubah.

Memang ada rumusan taubat yang disusun ulama yakni mohon ampun, menyesal dan berjanji tidak mengulangi lagi perbuatan salah. Namun sejatinya dalam Islam tidak ada rumusan yang sangat prosedural dan seremonial untuk bertaubat. Pemahaman taubat dalam Islam sangat sederhana dan bersifat personal bukan seremonial. Oleh karena itu, bersegeralah bertaubat.

Penutup
Kemaksiatan yang dilakukan manusia pada hakikatnya terjadi akibat kebodohan. Kebodohan timbul akibat tiada ilmu ataupun terlalu mengikuti hawa nafsu meskipun orang tersebut tahu akan hal itu. Allah senantiasa membuka lebar pintu taubat bagi hamba-Nya. Bersegera melakukan taubat adalah keniscayaan sebab taubat adalah jalan yang mudah dan mempermudah jalan menuju kemuliaan. Momentum Ramadhan adalah salah satu saat yang tepat. Wallahu'alam. (f)
T#gs
Berita Terkait
Komentar
Komentar
Silakan Login untuk memberikan komentar.
FB Comments