Sabtu, 19 Sep 2020

Jangan Terlalu Sedih dan Gembira

Oleh Islahuddin Panggabean SPd (Staf Media Centre Gerakan Islam Pengawal NKRI)
Jumat, 14 Februari 2020 21:06 WIB
Foto: SIB/Dok

Islahuddin Panggabean SPd 

Tiada suatu bencanapun yang menimpa di bumi dan (tidak pula) pada dirimu sendiri melainkan telah tertulis dalam kitab (Lauhul Mahfuzh) sebelum Kami menciptakannya. Sesungguhnya yang demikian itu adalah mudah bagi Allah. (Kami jelaskan yang demikian itu) supaya kamu jangan berduka cita terhadap apa yang luput dari kamu, dan supaya kamu jangan terlalu gembira terhadap apa yang diberikan-Nya kepadamu. Dan Allah tidak menyukai setiap orang yang sombong lagi membanggakan diri, (QS Al-Hadid : 22-23)
Setiap orang pernah mengalami kesedihan ketika kehilangan orang yang dicintai, barang yang dicintai ataupun saat mengalami suatu kegagalan. Sebaliknya, setiap orang merasakan kegembiraan ketika berhasil atau mendapatkan sesuatu yang diinginkan.

Kesedihan dan kegembiraan adalah bagian dari dua sisi jiwa manusia. Keduanya selalu mewarnai kehidupan dan dapat datang silih berganti dalam tempo singkat, bahkan keduanya dapat berbaur dalam satu waktu.

Kesedihan dan kegembiraan pada dasarnya pilihan dalam hidup. Misalnya ketika kita kehilangan harta, kita dapat memilih untuk bersedih atau tidak. Bila ia memilih bersedih, sejatinya kesedihan tersebut tidak lantas menyebabkan harta yang hilang kembali, malah akan menambah beban hidup.

Al-Quran menyebutkan bahwa sedih dan gembira adalah bagian dari sifat manusia. Namun, keduanya adalah menjadi ujian hidup, apakah manusia tetap bersyukur ketika diuji dengan keduanya dan tetap menjadi hamba Allah yang ikhlas?
Dalam Tafsir Maraghi dijelaskan bahwa ayat di atas menginformasikan kepada manusia bahwa segala yang menimpa manusia semuanya telah tercatat dalam ummul Kitab sebelum alam diciptakan. Allah Mengetahui apa yang telah terjadi, akan terjadi dan takkan terjadi.

Penegasan Allah bahwa Dia telah mengetahui sesuatu sebelum terjadi dan mencatatnya sebelum terjadi agar manusia tidak terlalu bersedih atas sesuatu yang hilang maupun terlalu bergembira atas segala yang datang. Sehingga, Ayat ke 22-23 di atas setidaknya memberikan rambu-rambu dalam mengelola kesedihan dan kegembiraan.

Pertama, mudah dan terlalu sedih termasuk dilarang karena ia dapat menyebabkan beberapa hal antara lain, berlaru-larut dalam kesedihan disebabkan kesalahan dalam merespon suatu masalah. Selain itu, hidupnya tidah bergairah, karena memandang kehidupan secara sempit.

Ia juga dapat terjangkiti sifat rendah diri dan lemah, karena merasa terus berduka dan memandang orang lain seolah lebih beruntung. Alamat bahaya lagi jika ia putus asa, berputus asa dari rahmat Allah dan seolah tidak percaya kepada qada dan qadar (taqdir).

Padahal Allah telah melarang keras manusia itu berputus asa meski ia penuh dosa. Allah berfirman, ”Katakanlah: "Hai hamba-hamba-Ku yang malampaui batas terhadap diri mereka sendiri, janganlah kamu berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya Allah mengampuni dosa-dosa semuanya. Sesungguhnya Dia-lah Yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (QS Az-Zumar : 53)
Agar terhindar dari sikap mudah bersedih, manusia perlu membiasakan diri berpandangan positif terhadap segala musibah dengan bersabar. Ia harus senantiasa mengingat firman Allah, “Dan sungguh akan Kami berikan cobaan kepadamu, dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa dan buah-buahan. Dan berikanlah berita gembira kepada orang-orang yang sabar.” (QS Al-Baqarah : 155).

Manusia juga harus yakin bahwa di balik musibah yang ada terdapat kemudahan dan kebaikan (Qs 35:34). Selebihnya, manusia harus selalu hidup dalam optimistis dan selalu bersandar kepada Allah. “Janganlah kamu bersikap lemah, dan janganlah (pula) kamu bersedih hati, padahal kamulah orang-orang yang paling tinggi (derajatnya), jika kamu orang-orang yang beriman.” (QS Ali-Imran: 139). Sikap inilah yang akan membuat hati lapang, tidak sempit menjalani cobaan serta tak mudah putus asa.

Kedua, terlalu gembira juga termasuk hal yang dilarang. Terlalu gembira dapat dimaknai sebagai kegembiraan yang berlebihan. Larangan tersebut disebabkan terlalu gembira dapat kurang waspada (kontrol) terhadap kesalahan, lalai terhadap kebaikan, menyebabkan kesombongan, lupa diri bahwa kebahagiaan adalah ujian dari Allah dan paling akhir dapat menyebabkan seseorang melupakan Allah.

Beberapa solusi untuk menghindari sifat terlalu gembira ialah. Pertama, membiasakan diri menahan diri untuk mengekspresikan kegembiraan pada situasi yang tepat. Misalnya, tidak menunjukkan kegembiraan kala orang lain berduka. Kedua, membiasakan diri untuk tidak terlalu ekspresif. Terakhir, sadar bahwa keberhasilan ialah berkat pertolongan Allah dan melalui bantuan orang lain.
Mengenai kesedihan dan kegembiraan, Ikrimah berkata, ”Jangan terlalu larut dalam kesedihan atau kegembiraan. Akan tetapi, jadikanlah kegembiraan sebagai kesyukuran dan kesedihan sebagai kesabaran.”

Hakim berkata, ”Kesabaran itu akan mengeluarkan (seseorang) dari kecelakaan. Tidak ada kebahagiaan kecuali dengan kesabaran. Seseorang tidak sampai kepada kesempurnaan akhlaknya, baik berkenaan dengan harta, anak, kekuatan maupun ilmu, melainkan dengan kesabaran. Ia tidak bangga dan takjub saat berhasil mendapatkan sesuatu, serta tidak bersedih kehilangan sesuatu.”

Penutup
Sedih dan gembira adalah dua hal yang tidak bisa hilang dari kehidupan. Kesedihan yang tercela adalah yang menyebabkan hilangnya kesabaran, kepasraan pada-Nya dan harapan mendapatkan ganjaran-Nya. Sedangkan kegembiraan yang terlarang adalah yang membuat pelakunya melampaui batas dan lalai dari kesyukuran. Wallahua’lam. (f)

T#gs
Berita Terkait
Komentar
Komentar
Silakan Login untuk memberikan komentar.
FB Comments