Kamis, 19 Sep 2019

60 Persen Calon Jemaah Haji Berisiko Tinggi Sakit

* Jumlah Petugas akan Ditambah
admin Jumat, 14 Juni 2019 17:35 WIB
Ilustrasi
Jakarta (SIB) -Calon jemaah haji Indonesia yang berisiko tinggi (risti) sakit saat ini mencapai 60 persen dari keseluruhan yang akan berangkat ke Arab Saudi sebanyak 221 ribu jemaah. Karena itu, sangat penting dilakukan promosi kesehatan kepada para jemaah agar tidak mengalami kesakitan selama proses ibadah haji.

"Promosi kesehatan penting sekali, ini yang pertama kita lakukan. Petugas Panitia Penyelenggaraan Ibadah Haji (PPIH) dan Tim Kesehatan Haji Indonesia (TKHI) harus selalu berikan informasi, jelaskan pada mereka," kata Menteri Kesehatan, Nila Moeloek, saat membuka Seminar Pelayanan Kesehatan Haji di Kementerian Kesehatan Jakarta, Rabu (12/6).

Selain itu, lanjut Menkes, petugas haji mesti melakukan pencegahan ketika ada jemaah yang kondisi kesehatannya mulai memburuk, agar segera diobati agar tidak jadi lebih parah.

Ia berharap pelayanan kesehatan penerbangan haji tahun ini dapat berjalan lebih baik. Para petugas TKHI diharapkan akan mampu untuk memberikan pelayanan kesehatan yang optimal, baik sebelum keberangkatan, selama penerbangan, saat di Arab maupun setelah kembali ke Tanah Air.

Saat ini, jumlah TKHI sebanyak 1.521 orang dan 306 PPIH bidang kesehatan. Dengan adanya rencana penambahan 10 ribu kuota haji niscaya akan membutuhkan penambahan personel.

Mereka (PPIH dan TKHI) diharapkan dapat melakukan sosialisasi dalam bentuk promotif dan preventif kepada jemaah di tingkat kabupaten-kota pada tahap awal dan selama masa tunggu. Jemaah diharapkan bisa mendapatkan konseling kesehatan untuk mengendalikan faktor risiko kesehatan berdasarkan hasil pemeriksaan di Tanah Air maupun di Tanah Suci.

Menkes menambahkan, perjalanan haji yang lama di pesawat atau sekitar sembilan hingga 12 jam juga akan mempengaruhi kondisi kesehatan jemaah karena beberapa keadaan yang sakit dapat timbul dan memperberat kondisi penyakit sebelumnya.

"Selama penerbangan kondisi lingkungan udara berbeda dengan kondisi lingkungan daratan. Bertambahnya ketinggian dan berkurangnya kadar oksigen dan dapat menyebabkan sakit atau rasa tidak nyaman pada tubuh jemaah selama perjalanan seperti gangguan pernapasan, Deep Vein Thrombosis, dehidrasi, jet lag, dan mabuk udara," kata Menkes.

Data tahun 2018, sebanyak 2.366 jemaah haji mengalami sakit saat tiba di Arab Saudi dan beberapa di antaranya dirujuk ke Rumah Sakit Arab Saudi.

Demikian pula pada masa pemulangan, faktor kondisi lingkungan di pesawat menjadi pertimbangan pemulangan jemaah haji sakit. Hal ini terlihat pada tahun 2018 sebanyak 54 orang masih tertinggal di Rumah Sakit Arab Saudi pascaoperasional karena kondisi kesehatan yang belum laik terbang.

Nila juga memberi penekanan pada para petugas haji agar bisa memberikan informasi kepada jemaah dengan baik saat pelayanan dalam pesawat. Menurut dia, tidak sedikit jemaah yang berangkat ibadah haji baru pertama kali naik pesawat sehingga membutuhkan informasi lebih.

TAMBAHAN PETUGAS
Dalam kesempatan yang sama, Kepala Pusat Kesehatan Haji (Puskeshaj) Kemenkes, Eka Jusuf Singka, mengatakan, saat ini terdapat sebanyak 1.827 petugas kesehatan. Jumlah tersebut merupakan gabungan dari TKHI sebanyak 1.521 orang dan 306 PPIH bidang kesehatan. (KJ/d)
T#gs
Berita Terkait
Komentar
Komentar
Silakan Login untuk memberikan komentar.
FB Comments