Kamis, 06 Agu 2020

Renungan Buddha Dhamma

YAKIN, BUKAN SEKEDAR PERCAYA

Oleh: Upasaka Pandita Rudiyanto Tanwijaya
Redaksisib Sabtu, 29 Februari 2020 12:44 WIB
wordpress.com

Ilustrasi

Pernah ada seorang wanita berkeluh kesah. Ia mengaku sebagai Umat Buddha dan selama ini percaya pada Buddha, namun entah mengapa, ia merasa hidupnya hampa dan tak bermakna. Ia merasa belum menemukan kebahagiaan dari ajaran Buddha yang dia percayai. Apa yang salah, demikian ia bertanya.

Tentu saja menjadi umat Buddha harus percaya akan Buddha. Namun percaya saja tidak cukup, tetapi juga dibutuhkan keyakinan. Seorang Guru Besar Mahayana, Yang Ariya Asanga, menyatakan untuk yakin kepada Buddha ada 3 unsur yang membentuknya, yaitu, pertama Kepercayaan yang kuat pada obyek, dalam hal ini tentu saja Guru Agung Junjungan kita, Buddha Sakyamuni. Jadi bukan hanya percaya begitu saja, namun kita benar - benar mengenal siapa itu Buddha, apa yang telah dilakukan-Nya untuk kita. Dengan keyakinan seperti ini, Buddha dengan kita menjadi tak berjarak. Selama ini, kita meyakini Buddha sebagai "sosok yang disana" dengan kita yang "disini".

Kedua, kita bergembira karena kepercayaan itu. Artinya, tak mungkin keyakinan karena terpaksa bisa meresapi kegembiraan. Bahkan seorang penggemar seorang artis pun akan merasa sangat gembira bilamana ia menjumpai sosok idolanya itu, meski hanya melalui selembar foto. Nah, adakah kegembiraan dengan nuansa seperti itu kita rasakan bila kita mengingat atau berjumpa Buddha (walau hanya dalam bentuk ornament)?

Ketiga, ada harapan untuk memperoleh sesuatu di kemudian hari. Adalah naïf jika kita mengatakan bahwa dalam memilih Buddha Sakyamuni sebagai guru, kita tidak mengharapkan apa pun. Bukankah kebahagiaan juga merupakan sebuah harapan? Apalagi dalam ajaran Buddha kita mengenal apa yang disebut "Hukum Karma" atau Hukum Tuai Hasil. Maka jika ingin hasil yang baik, tanamlah yang baik, sebaliknya jika kita menanam benih tidak baik, maka hasilnya akan tidak memuaskan pula. Harapan tidak akan membuahkan hasil jika tidak dibarengi daya upaya.

Ada sebuah kisah, seorang wanita bersama suaminya sedang melintasi sebuah jalan. Tiba-tiba mata wanita itu melihat tetangganya sedang keluar dari sebuah hotel bersama seorang perempuan tak dikenal. Matanya melihat jelas kejadian tersebut. Maka ia kemudian mengadu kepada suaminya, bahwa tetangganya sedang berselingkuh di sebuah hotel. Suaminya bertanya, mengapa ia bisa mengatakan demikian. Sang isteri itu menjawab karena ia melihatnya. Karena itu penglihatan isterinya, sang suami percaya saja.

Ternyata setelah diselidiki, wanita itu adalah keponakan tetangganya tersebut yang baru datang dari luar negeri dan minta dijemput. Lokasi penjemputan memang di sebuah hotel. Hal inilah yang tidak diketahui oleh wanita tersebut. Karena kurangnya pengetahuan ini, maka ia juga tidak memahami apa sebab tetangganya tersebut berjalan bersama dengan perempuan yang bukan isterinya.
Coba dibayangkan betapa bahayanya jika kita hanya mengandalkan apa yang kita lihat saja. Melihat saja tidak cukup, perlu sekali untuk memahami, karena apa yang kita lihat belum tentu dibarengi dengan pemahaman. Pemahaman terbentuk karena kita benar-benar mengetahui secara riel akar persoalan atau akar kejadian.

Inilah yang sebenarnya akar dari semangat ehipassiko, yang sering disebutkan oleh Guru Buddha. Bahwa kita bukan hanya melihat tapi juga membuktikan. Dan pembuktian bukan datang begitu saja, tapi harus memiliki pondasi pemahaman. Pemahaman yang baik akan membuahkan kebijaksanaan.

Proses keyakinan dilalui dengan latihan, bukan hanya sekedar diucapkan saja. Yang Ariya Sariputra, salah satu siswa terkemuka Guru Buddha Sakyamuni, pernah berbagi tips, bagaimana beliau memiliki keyakinan yang sempurna kepada Buddha. Yaitu yang utama adalah dengan senantiasa mengendalikan indra-Nya.

Yang Ariya Sariputra mengaku bahwa selama ini, Ia hanya mendengar ajaran Buddha, namun kemudian ia berlatih untuk mempraktikkan sehingga tumbuh semangat, kesadaran, konsentrasi dan akhirnya kebijaksanaan yang terus berkembang, sampai Ia mencapai penembusan tertinggi (Samyutta Nikaya V, 226).

Oleh sebab itu, selalulah ingat bahwa yakin bukan hanya percaya begitu saja. Namun harus benar-benar menjiwai apa yang diyakini, memetik kegembiraan dan juga paham pada tujuan yang ingin dicapai.

Dengan demikian, keyakinan kita pada Buddha tak akan tergoyahkan sampai kapan pun. (c)
T#gs
Berita Terkait
Komentar
Komentar
Silakan Login untuk memberikan komentar.
FB Comments