Senin, 13 Jul 2020

Renungan Buddha Dhamma

Timbunan Kebajikan Untuk Masa Depan

Oleh Upa. Madyamiko Gunarko Hartoyo
redaksisib Sabtu, 06 Juni 2020 12:47 WIB
cetyatathagata.com

Ilustrasi

Di muka bumi ini, hanya ada satu kekayaan yang dapat dipertahankan, yakni timbunan kebajikan. Timbunan pahala kebajikan adalah harta kekayaan yang tidak dapat dicuri oleh siapapun. Tidak dapat dirampok, tidak dapat didevaluasi, dan yang paling penting adalah dapat dibawa melintasi gerbang kematian. Lebih jauh lagi, tidak hanya sekedar dapat dibawa melintasi kematian menuju kehidupan yang akan datang, tetapi pahala kebajikan juga merupakan investasi untuk kehidupan berikutnya.

Cerita kehidupan masa lampau pada Siri Jataka memberikan pemahaman bagi kita bagaimana harta seseorang tidak dapat dipindahkan. Kala itu hiduplah seorang ahli dalam melihat keberuntungan, dan mencari tahu bagaimana Anathapindika yang sebelumnya miskin, tetapi sekarang dia menjadi kaya dan terkenal serta timbul niatnya seolah-olah datang untuk berkunjung ke rumahnya dan mencuri keberuntungannya.

Maka dia pun berkunjung dan disambut dengan hangat Anathapindika. Ahli keberuntungan tersebut mencari tahu di mana keberuntungannya itu berada dan sampai akhirnya tertuju pada seekor ayam jantan putih, seputih kerang yang dipelihara di dalam sebuah kandang emas dan melihat di jambul ayam jantan inilah keberuntungan Anathapindika berada.

Dia pun meminta ayam tersebut dengan alasan karena kesulitan dirinya mengajarkan ayat-ayat suci kepada lima ratus brahmana muda. Masalah yang dihadapinya adalah dikarenakan seekor ayam jantan yang berkokok tidak pada waktunya dan meminta ayam jantan milik Anathapindika tersebut karena pastinya berkokok tepat pada waktunya.

Persis pada saat Anathapindika menyetujui memberikan ayam jantannya, keberuntungannya tersebut berpindah dari jambul ayam jantan ke sebuah permata yang ada di bantal. Ia pun memerhatikannya, dan kemudian meminta bantal itu juga.

Begitu Anathapindika setuju untuk memberikan bantal yang diminta kepadanya, keberuntungan tersebut pergi dari permata itu dan berdiam di sebuah tongkat yang digunakan sebagai alat pertahanan diri yang berada di atas bantal. Ahli keberuntungan tersebut melihatnya dan kembali meminta tongkat itu juga. "Ambillah, dan pulanglah," kata sang pemilik. Persis pada saat itu juga, keberuntungan itu berpindah dari tongkat tersebut dan pindah ke kepala istri sang saudagar.

Setelah melihat kejadian berpindah tempat keberuntungan pada istri saudagar tersebut, ahli keberuntungan yang berniat mencuri keberuntungan itu memahami bahwa hal tersebut adalah sesuatu yang tidak mungkin diminta. Akhirnya ahli keberuntungan itupun mengakui kepada saudagar besar itu bahwa awalnya dirinya datang ke rumah Anathapindika untuk mencuri keberuntungannya. Ia pun menjelaskan keberuntungan tersebut awalnya berada di jambul ayam jantan, tetapi ketika Anathapindika memberikannya kepada dirinya, keberuntungan itu berpindah ke permata. Ketika Anathapindika memberikan permata kepadanya, keberuntungan kemudian berpindah ke tongkat tersebut. Ketika Anathapindika memberikan tongkat itu kepada dirinya, dia keluar darinya dan berpindah ke kepala istrinya. Sudah tentu ini tidak bisa diminta, dan akhirnya dirinya memahami bahwa dirinya tidak akan pernah bisa mendapatkannya.

Setelah bangkit dari duduknya, dia pun pulang. Anathapindika memutuskan untuk memberitahukan ini kepada Sang Guru, maka dia pun pergi ke wihara. Setelah memberikan salam penuh hormat kepada-Nya, dia duduk di satu sisi dan memberitahukan semuanya kepada Sang Buddha. Sang Guru mendengarkannya dan kemudian berkata, "Perumah Tangga yang Baik, kali ini keberuntungan dari seseorang tidak bisa diambil oleh orang lain. Akan tetapi, di masa lampau, keberuntungan milik orang yang yang tidak memiliki jasa-jasa kebajikan berpindah kepada orang yang memiliki jasa-jasa kebajikan."

Setelah cerita masa lampau diuraikan, dalam kebijaksanaan-Nya yang sempurna, Sang Guru mengucapkan dua bait kalimat berikut: "Kekayaan apa pun yang berusaha didapatkan oleh mereka, tanpa bantuan keberuntungan, tidak akan pernah diperolehnya. Semuanya itu, dengan bantuan dari keberuntungan, mereka dapatkan, baik yang memiliki keahlian maupun tidak."

Kemudian beliau membabarkan khotbah Dhamma: "Inilah timbunan yang dapat memuaskan segala keinginan dewa atau manusia; Tak peduli apa pun yang ingin mereka miliki: Semua itu diperoleh dengan buah dari jasa kebajikan. Wajah yang rupawan, suara yang merdu, tubuh yang indah, bentuk yang elok, kekuasaan dan pengikut. Semua itu diperoleh dengan buah dari jasa kebajikan. Pada setiap kejayaan manusia, kebahagiaan apa pun di alam surga, bahkan kejayaan dari nibbana, semua itu diperoleh dengan buah dari jasa kebajikan.

Kemudian Sang Buddha menguraikan lagi bahwa seseorang memiliki sahabat-sahabat mulia; berpedoman pada pengertian benar, mendapatkan kebijaksanaan tertinggi dan pembebasan diperoleh dengan buah dari jasa kebajikan. Kemampuan membeda-bedakan, pembebasan, dan kesempurnaan para siswa, dan segala jenis pencerahan juga semuanya diperoleh dengan buah dari jasa kebajikan.

Sebagaimana yang diajarkan Sang Buddha dalam Mangala Sutta, disebutkan salah satu berkah utama dalam kehidupan ini adalah menimbun jasa kebajikan. Jasa kebajikan di kehidupan yang lampau merupakan bagian dari berkah utama (mangala), karena timbunan pahala kebajikan dalam kehidupan lampau akan menjadi penentu dari kehidupan kini, sebagaimana perbuatan pada kehidupan saat ini menjadi penentu bagi kehidupan yang akan datang. Karenanya menimbun kebajikan adalah berkah untuk kebahagiaan, sesuatu yang dialami saat ini dapat kita kendalikan di masa sebelumnya dan kebahagiaan di masa mendatang dapat diwujudkan melalui kebajikan yang ditanamkan saat ini. (f)
T#gs Renungan Buddha DhammaUpa. Madyamiko Gunarko Hartoyomimbar agama buddha
Komentar
Komentar
Silakan Login untuk memberikan komentar.
FB Comments