Rabu, 19 Jun 2019

Tidak Takut Memilih

Oleh : Madyamiko Gunarko Hartoto
admin Sabtu, 13 April 2019 15:06 WIB
Empat hari lagi, kita akan memilih calon pemimpin yang akan memimpin negara ini selama lima tahun ke depan dalam pesta demokrasi yaitu pemilihan umum (pemilu) yang sepatutnya disambut dengan gembira. Banyak di antara kita yang menyatakan seorang pemimpin yang baik harus bersikap adil, bijaksana, bersih, tidak korupsi, mau membela rakyat. Sebaliknya sebagian masyarakat menginginkan pemimpin yang mau mendukung kebijakan-kebijakan ekonomi yang mendukung pertumbuhan jangka panjang.

Dengan banyaknya penjelasan tentang apa itu pemimpin dan bagaimana pemimpin yang baik kemudian Buddhisme memiliki uraian tersendiri tentang kepemimpinan. Berikut gambaran pemimpin yang layak dipilih berdasarkan pada teks-teks agama Buddha. Dalam Cakkavattis Sihanada Sutta diungkapkan adalah sosok pemimpin yang ideal yakni pemimpin yang lurus atau yang dalam bahasa Buddhis disebut sebagai Dhammiko Dhammaraja yakni raja atau pemimpin sebuah negara yang menjadikan kebenaran sebagai lambangnya (dhammaddhajo), sebagai benderanya (dhammaketu) dan otoritasnya (dhammadhipateyyo). Dia adalah pemimpin yang menaklukkan bumi berserta lautannya dengan tanpa tongkat, tanpa senjata, tapi dengan kebenaran. Pemimpin yang baik harus menjadikan dirinya sendiri lurus berdasarkan aturan, dia juga harus menyediakan pengawasan yang benar dan perlindungan untuk semua penduduknya (dhammikan rakkhavaranagutti). Perlindungan harus diberikan kepada seluruh masyarakat tanpa tebang pilih, baik para pejabatnya, para pemimpin agama yang mengajarkan kemoralan dan kebenaran, para penduduk kota dan desa baik kaya maupun miskin. Semuanya berhak mendapat keadilan yang sama. Dia juga adalah pemimpin yang harusnya mencegah kejahatan dan tidak terlibat dalam tindakan kejahatan.

Berikutnya dalam Lokasutta (Ittivutaka 122), Sang Buddha menguraikan bahwa pemimpin yang kredibel adalah ia yang melaksanakan apa yang ia ajarkan. Seorang pemimpin yang memiliki integritas dapat dipercaya dan akan dikagumi karena berpegang pada nilai-nilai yang kuat. Pemimpin yang baik akan melakukan apa yang mereka katakan dan mengatakan apa yang mereka lakukan.

Sementara itu dalam Kutadanta Sutta diuraikan seorang pemimpin harus punya misi menyejahterakan rakyatnya. Bagi yang bertani dan berternak harus didukung dengan memberikan bibit dan makanan ternak. Bagi yang berdagang didukung dengan memberikan modal. Bagi yang bekerja di pelayanan pemerintahan, dibantu dengan pemberian upah yang cukup.

Lebih terinci dalam Khuddaka Nikaya - Jataka Pali V. 378 diungkapkan Dasa-Raja Dhamma, yaitu sepuluh macam Dhamma untuk seorang raja atau pemimpin. Kesepuluh hal tersebut dapat dijadikan kriteria atau tolak ukur bagi seorang pemimpin, baik itu untuk menjadi pemimpin maupun untuk memilih pemimpin. Kesepuluh hal tersebut adalah:

1. Dna (Kemurahan Hati)
Sebagai pemimpin harus memiliki sifat murah hati, mau memberi dan menolong.

2. Sila (Memiliki Moral Atau Melaksanakan Sila)
Memiliki moral yang baik, sehingga dapat menjadikan dirinya sebagai teladan atau panutan. Dapat dilakukan dengan menjalankan sila (mengindari pembunuhan, pencurian, asusila, berkata tidak benar dan minum minuman keras).

3. Pariccaga (Rela Berkorban)
Seorang pemimpin harus mau mengorbankan kesenangan pribadi untuk kepentingan orang banyak, artinya tidak mementingkan diri sendiri dan mengedepankan ego. Mau berkorban disini adalah mau berkorban materi, tenaga, pikiran dan terutama waktu.

4. Ajjava (Ketulusan Hati)
Ketulusan hati disini berarti seorang pemimpin harus memiliki kejujuran berusaha menghindari ucapan tidak benar, bohong atau menipu (musavada), dalam hal ini termaksud korupsi dan pencitraan diri agar dipandang baik.

5. Maddava (Ramah Tamah)
Seorang pemimpin harus mampu bersikap ramah, dalam arti ia mau diajak untuk berunding dan bertukar pikiran, terlebih lagi ia mau menerima pendapat orang lain.

6. Tapa (Kesederhanaan)
Memiliki kesederhanaan baik dalam ucapan atau perbuatan jasmani (tingkah laku).

7. Akkodha (Tidak Pemarah)
Bebas dari kebencian dan tidak menyimpan dendam, hendaknya seorang pemimpin membangun sifat demikian sehingga ia akan menciptakan kedamaian, baik bagi dirinya dan lingkungannya.

8. Avihimsa (Tidak Melakukan Kekerasan)
Seorang pemimpin harus memimpin dengan tanpa kekerasan, baik itu melalui jasmani atau ucapan dan berusaha tidak menghancurkan anggotanya.

9. Khanti (Kesabaran)
Seorang pemimpin dalam kepemimpinannya harus diiringi dengan sikap sabar dan telaten dalam memimpin dan dalam setiap permasalahan yang ada dalam kepemimpinannya.

10. Avirodhana (Tidak Bertentangan Dengan Kebenaran)
Artinya seorang pemimpin harus mampu melaksanakan aturan-aturan yang ada pada tempat ia memimpin, yang dimana aturan-aturan tersebut menjadi dasar kebenaran dalam ruang lingkup kepemimpinannya.

Kesepuluh hal tersebut juga saling berkaitan satu dengan yang lainnya. Artinya ketika seorang pemimpin memiliki sifat murah hati, ia tentu akan memiliki moral yang baik. Moral yang baik tentu mendorong ia untuk rela berkorban, rela berkorban yang ia miliki karena moral yang baik akan tentu didasari oleh ketulusan. Dari ketulusan yang ia miliki di setiap pekerjaannya tentu membangun keramahan sikap. Orang yang ramah tentu membangun kesederhanaan, orang yang memiliki moral, tulus, murah hati tentu akan menghindari sifat marah dan kekerasan dalam kehidupannya. Sabar jelas ada di dalamnya dan apapun yang dilakukan pasti sesuai dengan dasar kebenaran yang ada.

Dengan demikian untuk memilih seorang pemimpin kesepuluh hal tersebut dapat dijadikan sebagai kriteria dalam memilih calon pemimpin. Jadi untuk apa kita takut dalam memilih pemimpin, jika kita sudah tahu bagaimana ciri-ciri pemimpin yang baik sesuai dengan ajaran Agama Buddha. (q)
T#gs
Berita Terkait
Komentar
Komentar
Silakan Login untuk memberikan komentar.
FB Comments