Selasa, 04 Agu 2020

Renungan Buddha Dhamma

Tetap Bertumbuh dengan Rendah Hati

Oleh Madyamiko Gunarko Hartoyo ST MM
redaksisib Sabtu, 11 Juli 2020 11:21 WIB
bsd.pendidikan.id

Ilustrasi

Seseorang yang mempercayai bahwa mereka telah mengetahui segala hal dan lebih baik dari siapapun serta cenderung sulit menghargai orang lain adalah orang yang tidak rendah hati. Mereka yang tidak rendah hati cenderung untuk mempertahankan tertutup untuk belajar lebih baik dan menerima ajaran yang lebih tinggi. Sang Buddha mengingatkan kita bahwa harga diri dan kesombongan adalah dua masalah terbesar dalam menimbulkan perkembangan spiritual. Oleh sebab itu merupakan berkah tertinggi untuk senantiasa bersikap rendah hati sebagaimana diuraikan dalam Manggala Sutta.

Sujata Jataka berikut memberikan inspirasi bagi kita bagaimana seorang yang sombong dipandang oleh orang sekitarnya. Dahulu kala, Bodhisatta terlahir sebagai putra dari permaisuri raja. Sepeninggal ayahnya, dia naik takhta menjadi raja dan memerintah dalam kebenaran. Ibunya merupakan seorang wanita yang pemarah, kejam, kasar, judes, dan temperamental karena kesombongannya. Sang anak berkeinginan untuk menasihati ibunya, tetapi dia merasa bahwa dia tidak boleh melakukan sesuatu yang tidak sopan.
Maka dia pun tetap mencari-cari kesempatan untuk memberikan petunjuk kepadanya.

Pada suatu saat, dia pergi ke taman dan ibunya pergi bersama dengannya. Seekor burung bernyanyi dengan suara melengking di tengah perjalanan mereka. Mendengar ini, para pejabat kerajaan (yang mengikutinya) menutup telinga mereka, sambil berkata, "Betapa jeleknya suara itu! Suara yang melengking! Hentikan suara itu!"

Kemudian Bodhisatta melanjutkan perjalanannya dengan ibu dan pejabat kerajaannya. Tidak jauh berjalan, seekor burung tekukur berkicau dengan suara yang merdu. Semua orang yang mendengarnya merasa senang dengan suara kicauannya, mereka bergandengan tangan dan menjulurkannya ke depan, dan berusaha mencari keberadaan burung itu. Mereka tetap berdiri di sana, sembari menjulurkan leher mereka dan mendengarkan dengan rasa ingin tahu.

Memperhatikan kedua kejadian tersebut, Bodhisatta berpikir bahwa inilah kesempatan untuk memberikan petunjuk kepada ibunya. Dia membandingkan suara burung yang melengking di tengah jalan membuat orang-orang menutup telinga mereka dan berteriak untuk segera menghentikan suara tersebut dan terus menutup telinga mereka. Hal ini terjadi dikarenakan suara-suara yang buruk tidak disukai oleh siapa pun. Mereka yang dilimpahi dengan warna yang indah dan cantik, tetapi jika mereka memiliki suara yang buruk untuk didengarkan, maka mereka tidak akan disukai baik di kehidupan ini maupun di kehidupan yang akan datang.

Pada perjalanan berikutnya, sejenis burung yang mungkin sering terlihat buruk rupa, hitam, dan mungkin berbintik-bintik, tetapi memiliki suara yang lembut untuk didengarkan sehingga banyak yang menyukai tekukur itu! Oleh sebab itu, ucapan juga harus terdengar lembut dan manis, berbicara dengan bijaksana, tidak diisi dengan kesombongan. Suara yang demikian, yang dapat menerangkan kebenaran beserta artinya, apa pun yang diucapkan akan terdengar menyenangkan. Setelah nasehat itu disampaikan kepada ibunya dalam tiga bait kalimat di atas, Bodhisatta berhasil mengubah cara berpikir ibunya, dan sejak saat itu, dia menjalankan kehidupan yang benar dan menerima berkah kebahagiaan.

Dalam ajaran Manggala Sutta, Sang Buddha menguraikan rendah hati merupakan salah satu dari tiga puluh delapan berkah utama bagi kebahagiaan hidup. Orang-orang yang mempraktikkan kerendahan hati secara alamiah adalah seseorang memiliki kemampuan memahami kelemahan diri dalam berbagai hal sehingga membuat seseorang ingin bekerja keras untuk memperbaikinya.

Dengan kerendahan hati yang dimiliki membuat orang di sekeliling kita menjadi banyak yang simpatik dengan sifat kita karena sifat ini sangat bertolak belakang dengan sifat sombong yang banyak tidak disukai orang. Kerendahan hati menjadi rahasia dari kebijaksanaan, kekuatan dan pengetahuan. Kerendahan hati tidak akan membuat seseorang terhina, justru kerendahan hati akan membuat seseorang lebih terhormat di hadapan orang lain. Sifat rendah hati mengundang rasa hormat dari orang lain yang telah mengetahui tentang kelebihan yang dimiliki tanpa perlu disombongkan.

Seorang yang rendah hati adalah orang-orang yang optimis, karena mereka tidak membuang-buang waktu untuk mengeluhkan hal-hal buruk yang menimpa diri mereka atau untuk menunda-nunda melangkah ke depan. Orang-orang yang rendah hati tidak berharap diberikan hal-hal baik dan indah di hadapan mereka, tetapi mereka percaya bahwa hal-hal baik akan terjadi pada diri mereka jika mereka berusaha meraihnya. Seseorang yang memiliki sifat rendah hati mendapat berkah karena walaupun telah banyak yang telah dicapai, namun tetap ingin bertumbuh menjadi lebih baik. (d)
T#gs Madyamiko Gunarko Hartoyo ST MMRenungan Buddha Dhammamimbar agama buddha
Komentar
Komentar
Silakan Login untuk memberikan komentar.
FB Comments