Senin, 13 Jul 2020

Renungan Buddha Dhamma

Tak Bergeming Pada Rintangan

* Oleh Upasaka Pandita Rudiyanto Tanwijaya
redaksisib Sabtu, 11 April 2020 11:01 WIB
dhamma.com

Ilustrasi

Nama besar Maha Upajaya Kuan Ching (1896-1986) sudah tidak diragukan lagi. Reputasi akan kebijaksanaan dan kemampuan samadhi beliau sudah sangat melegenda dalam sejarah Buddhis Tradisi Mahayana sampai hari ini. Tapi tak banyak yang tahu bahwa biksu sekelas beliau pun pernah mengalami masa-masa penuh kepahitan.

Pada awal pelatihan beliau sebagai seorang samana, beliau memutuskan untuk bertugas untuk membangunkan seluruh penghuni wihara untuk melaksanakan puja bakti pagi. Namun suatu pagi, karena kelelahan, beliau terlambat bangun 5 menit dari jadwal.

Ia sungguh merasa bersalah. Ia menghitung ada 600 biksu yang berdiam di wihara tersebut. Maka ia menghitung jika terlambat 5 menit maka ia telah melakukan karma buruk kepada 600 biksu tersebut, dengan total 3000 menit. Samanera merasa ini sungguh karma yang amat tidak baik.

Maka Samanera Kuan Ching memutuskan untuk membayar kesalahannya tersebut dengan berlutut di depan pintu gerbang bakti sala wihara, sambil mengucapkan penyesalan kepada setiap anggota sangha yang berjumlah ratusan yang lewat di depannya. Sejak itu pula, ia bertekad tidur tanpa berbaring di depan pintu masuk baktisala, agar bisa selalu waspada bilamana jam bangun sudah tiba. Sehingga ia tidak bangun terlambat lagi.

Juga ketika Biksu Kuan Ching baru menyelesaikan pertapaannya di Gunung Ching Yuan, beliau ditugaskan untuk berdiam di Wihara Chen Tian. Di wihara ini, di depan altar, setiap malam, beliau duduk bermeditasi. Sampai suatu ketika, diumumkan bahwa dana wihara yang selama ini tersimpan di baktisala hilang. Tentu saja membuat gempar seluruh penghuni wihara.

Kecurigaan segera jatuh pada Biksu Kuan Ching yang memang tiap malam selalu berada di baktisala untuk bermeditasi. Semua penghuni wihara mulai kasak-kusuk dan menjauhi biksu tersebut. Setiap hari semakin berkurang orang yang mau menyapa sang biksu. Bahkan ada yang memandang sinis, meremehkan dan menyindir Biksu Kuan Ching.

Meski diperlakukan demikian, Biksu Kuan Ching tetap tenang tak bergeming. Ia selalu menyapa dengan ramah rekan-rekannya sesama penghuni wihara dan juga tetap bermeditasi setiap malam. Akhirnya tak seorang pun mau mendekat dengan dirinya, namun Biksu Kuan Ching tetap tenang dalam kehidupannya.

Akhirnya, kepala wihara membuat pengumuman. Bahwa dana yang dinyatakan hilang sebenarnya disimpan oleh pihak wihara untuk menguji batin Biksu Kuan Ching.

Kepala wihara mau mengetahui Biksu Kuan Ching memiliki batin yang kokoh, sebagaimana pengalaman praktiknya bertapa di pegunungan sampai sekian lamanya. Ternyata tidak meleset. Semua yang selama ini menjauhi dan curiga kepada Biksu Kuan Ching menjadi malu hati atas prasangka mereka yang tak terbukti. Bahkan mereka menjadi kagum dan hormat kepada Biksu Kuan Ching itu.

Namun Biksu Kuan Ching tetap tenang ketika mendengar pengumuman ini. Ia tidak larut dalam pujian, apalagi menaruh dendam. Ia biasa saja.

Seorang yang menempuh jalan pelatihan diri jangan pernah berharap jalan akan selalu mulus. Rintangan akan datang silih berganti. Namun yakinlah, seiring dengan ketekunan dalam berlatih, maka rintangan itu akan menjadi berkah buat diri kita. Mengapa? Karena satu rintangan akan membuat kita semakin kuat. Jika sepuluh rintangan, maka kita akan sepuluh kali lebih kuat. Kekuatan merupakan berkah bagi orang yang mempraktikan Dharma.

Dalam perjalanan hidup, masing-masing orang akan mengalami rintangan yang tidak sama. Ini berlaku universal, termasuk pada maha sesepuh kita dalam penyebaran Buddha Dharma.

Kisah Biksu Kuan Ching tadi menunjukkan betapa berat rintangan yang beliau alami. Namun beliau tetap tenang, bergeming pada semua itu. Beliau tetap fokus pada pelatihan dirinya. Dan akhirnya rintangan itu juga padam dengan sendirinya.

Dalam kehidupan nyata, kita pun sering mengalami rintangan. Ada fitnah, benci, kebohongan, penipuan, dan masih banyak lagi. Belum lagi rintangan yang berasal dari dalam diri kita. Ini yang lebih berat. Bagaimana menghadapinya? Kita teladani apa yang dilakukan Biksu Kuan Ching.

Pertama, sadari dan kenali dulu rintangan tersebut. Jangan reaktif. Begitu kita sadar, maka pahami dia. Darimana ia bersumber. Jika bukan dari kita, abaikan. Jika memang dari kita, maka wajib kita untuk memperbaikinya dan bertekad untuk tidak mengulanginya.

Kedua, Jadikan rintangan itu sebagai obyek pelatihan kita. Jika difitnah, maka kita harus sabar, maka berlatihlah kesabaran. Jika keserakahan, maka kita harus belajar melepas. Maka berlatihlah untuk tidak melekat.

Sebaliknya jika kita menghindari rintangan, sebenarnya kita juga melawan hakikat kehidupan. Di dunia yang penuh penderitaan ini, tak ada seorang pun yang bebas dari masalah atau rintangan kehidupan. Inilah ajaran Buddha yang harus kita tahu dan renungkan.
Untuk itulah kita harus berlatih. Mungkin awalnya susah. Namun tak ada yang susah jika dilakukan terus-menerus. Besi pun diasah bisa menjadi sebilah pisau yang tajam, demikian kata pepatah tua.

Batin yang kotor pun jika terus dimurnikan, maka kelak akan menjadi batin yang suci. Yakin dan lakukan terus-menerus. Selamat berlatih ! (f)
T#gs Renungan Buddha DhammaRintanganUpasaka Pandita Rudiyanto Tanwijayaagama buddha
Komentar
Komentar
Silakan Login untuk memberikan komentar.
FB Comments