Senin, 13 Jul 2020

Renungan Buddha Dhamma

Semangat dan Tekad Dalam Praktik

Oleh Upasaka Pandita Rudiyanto Tanwijaya
redaksisib Sabtu, 25 April 2020 10:58 WIB
facebook

Ilustrasi

Dalam menjalankan praktik Dharma, bukan hanya membutuhkan kemauan saja, tetapi harus dibarengi dengan semangat dan tekad. Semangat membuat kita akan bergerak maju, bukan mundur. Tekad akan membuat kita kuat, meski halangan pasti datang bertubi-tubi.

Buddha sendiri adalah sosok yang mewakili keduanya, dalam arti memiliki semangat yang sempurna dan juga tekad yang tak tertandingi. Kehidupan telah dilalui-Nya dalam berbagai bentuk kelahiran, namun berkat kegigihan dalam menjalankan praktik, maka sampai pada satu titik, Ia berhasil mencapai ke-Buddha-an.

Banyak tokoh besar dalam Agama Buddha yang juga meneladani perjuanganNya. Mereka, melalui proses panjang yang sarat penderitaan, tetap konsisten dalam menjalankan praktik latih diri sehingga kelak memiliki nama besar yang dikenang sampai saat ini.
Salah satunya, adalah Maha Upajaya Kuan Ching (1892-1986), sosok yang merupakan praktisi Tanah Suci Sukhavati. Beliau terlahir dengan kehidupan yang memprihatinkan. Ayah ibunya pendek usia sehingga ia menjadi yatim piatu sejak usia kecil, buta huruf dan kondisi fisik yang kurang baik kesehatannya. Pada usia 20 tahun, ia memasuki kehidupan monastic dan menjadi samanara.

Sadar bahwa ia tak memiliki kemampuan hebat, maka beliau mengerjakan hal-hal yang ditolak oleh orang lain, misalnya: memasak makanan, membersihkan dapur dan kakus, mengangkat air, membelah kayu, membersihkan altar, membangunkan penghuni wihara untuk puja bakti pagi, dan sebagainya.

Bahkan meski perut keroncongan, ia menunggu penghuni wihara selesai makan dulu, baru ia menyantap makanannya. Seringkali makanan sudah habis, maka Biksu Kuan Ching memakan sisa makanan orang lain, yang tercecer di piring atau lantai.

Beliau juga berlatih mengurangi tidurnya dan menghabiskan sisa waktunya dengan bermeditasi dengan tanpa berbaring agar jangan sampai ketiduran sehingga pekerjaan yang diembannya menjadi terbengkalai. Semua dilakukan hanya demi memupuk pahala kebajikan yang dirasakannya amat kurang selama kehidupan ini.

Biksu Kuan Ching juga termasuk sangat lama ditahbiskan menjadi biksu, yaitu menjalani samanera sampai 22 tahun ! Beliau tak mau main-main untuk menjadi seorang anggota sangha. Dalam biografinya, beliau menyatakan perlu mempersiapkan diri sebaik mungkin agar kelak menjadi biksu yang jujur, baik pada diri sendiri terlebih kepada orang lain.

Karena pendidikan yang kurang, beliau lebih memfokuskan diri pada pelatihan diri yaitu meditasi dan perapalan nama Buddha, bukan memberikan ceramah berdasarkan sutra-sutra Buddhis. Dan ini ditekuni beliau selama berpuluh tahun, bukan di balik dinding wihara yang nyaman, namun di gua-gua di pegunungan yang masih banyak dihuni binatang buas dan terkenal angker.

Bahkan dalam perjalanan hidupnya, pernah satu ketika,beliau berada dalam samadhi selama sekitar satu bulan, tanpa makan dan minum, sehingga sekelompok umat Buddha yang kebetulan melintas di gua, tempat beliau berlatih diri, mengira biksu ini sudah meninggal dunia, karena gerakan nafasnya pun tidak ada lagi. Atas berita yang menggemparkan ini, upacara kremasi pun sudah pula disiapkan.

Untung saja, seorang Guru Besar yang mendengar kabar ini meminta agar kremasi jangan dilakukan dulu. Perlu pengecekan terhadap kondisi Biksu Kuan Ching yang tetap juga dalam keadaan bersila.

Maka ketika Guru Besar mendatangi lokasi pertapaan Biksu Kuan Ching, ia segera mengetahui bahwa Biksu Kuan Ching tidak meninggal tapi dalam pencapaian samadhi tingkat tinggi. Maka dengan menjentikkan jari sebanyak tiga kali, Guru Besar berhasil membuat Biksu Kuan Ching membuka mata. Memang benar, beliau dalam kondisi sehat, bahkan tak merasakan bahwa samadhi yang dilakukan sudah menembus waktu yang cukup lama.

Sebagai praktisi, pernah dalam pelatihan dirinya di gua, ia didatangi seekor harimau buas. Namun ia tak gentar dan menyatakan jika memang harimau itu lapar, maka ia siap mempersembahkan tubuhnya sebagai santapan. Alih-alih memangsanya, harimau itu menjadi jinak dan terus mendampingi Biksu Kuan Ching selama pertapaannya. Bahkan Biksu Kuan Ching juga menuntun harimau buas tersebut untuk berlindung pada Tri Ratna sambil sesekali memberikan ceramah Dharma kepada binatang penguasa rimba itu.

Ketika Biksu Kuan Ching wafat pada tahun 1986, ia meninggal dalam posisi bermeditasi dan hasil perabuannya menyisakan ribuan relik, yang menandakan pencapaian kesuciannya.

Dari kisah di atas, apakah Biksu Kuan Ching berasal dari keluarga kaya raya? Tidak. Dari kaum terpelajar? Juga tidak. Apakah ia berfisik sehat dan rupawan? Juga tidak.

Namun Biksu Kuan Ching memiliki semangat dan tekad yang belum tentu dimiliki oleh seorang yang kaya, pintar, tampan dan sehat. Inilah harta yang luar biasa yang dimiliki beliau yang terus dimanfaatkan sebagai modal untuk melatih dirinya.

Ia rela menjalani pelatihan yang amat berat tanpa pernah berkeluh kesah. Ia tak pernah ragu ketika dalam pelatihannya banyak halangan khususnya godaan-godaan fisik seperti kelaparan, kehausan, kedinginan, ataupun kesepian. Biksu Kuan Ching tetap tekun dalam metode praktik yang dilakukannya yaitu bermeditasi sembari melapalkan nama Buddha.

Semua itu bisa dilewati berkat adanya kekuatan semangat dan tekad dalam menjalankan praktik latih diri.
Pada akhirnya, jika mau berkembang, asahlah semangat dan tekad dalam diri. Dengan demikian, kemajuan batin akan tercapai. Buktikan saja ! (c)
T#gs Renungan Buddha DhammaUpasaka Pandita Rudiyanto Tanwijayamimbar agama buddha
Komentar
Komentar
Silakan Login untuk memberikan komentar.
FB Comments