Senin, 24 Feb 2020
Banner Menu
Detail Utama 1

Renungan Buddha Dhamma

Selamat dari Banjir

Oleh Upa.Madyamiko Gunarko Hartoyo
redaksi Sabtu, 11 Januari 2020 15:15 WIB
tribunnews.com
Ilustrasi
Awal tahun 2020, tepat 1 Januari kita dikejutkan dengan sambutan awal tahun yang luar biasa di ibukota tercinta Jakarta. Kalimat Happy New Year tampaknya tidak cocok bagi kita bangsa Indonesia tahun ini. Betapa tidak banjir begitu besar menerjang Kota Jakarta pada saat warga tidak siap menghadapi kejadian mengerikan tersebut di malam hari. Banyak yang menderita dan tidak terhitung banyaknya kerugian yang harus ditanggung baik secara material maupun non material.
Namun fenomena alam tersebut, terdapat banjir yang lebih berbahaya yang akan menenggelamkan siapa saja dan tanpa disadari menyeret menuju penderitaan berulang kali. Banjir yang lebih membahayakan adalah banjir yang ada dalam diri kita. Dalam Samyutta Nikaya, Devatasamyutta ada empat macam banjir yang menyebabkan para mahluk terendam di dalam lingkaran kehidupan dan menjadi penyebab penderitaan yang berulang-ulang.
Banjir dahsyat dengan kekuatan yang dapat menenggelamkan banyak mahluk berulang kali tanpa hentinya, dan menyeret semuanya menuju ke jurang derita tersebut diuraikan dalam empat macam banjir yakni banjir nafsu indriawi (kamogha), banjir perwujudan (bhavogha), banjir pandangan (ditthogha) dan banjir ketidaktahuan (avijjogha). Empat macam banjir tersebut disebut juga sebagai "noda batin" atau secara harfiah "pengaliran" atas dasar bahwa semuanya menjadi pusat bagi makhluk-makhluk terjerumus pada lingkaran kelahiran kembali yang tidak ada habisnya.
Banjir indria (kamogha), yaitu nafsu keinginan dan nafsu jasmani terhadap lima tali kenikmatan indria. Bentuk-bentuk kesenangan indria yang selalu dikejar-kejar itu antara lain adalah; bentuk-bentuk yang indah, mendengarkan suara yang merdu, makanan enak, bau yang harum, kulit yang halus dan lain sebagainya. Bentuk indria paling banyak kita temui secara kasat mata, namun walau demikian tidak sedikit yang masih terjebak di banjir kenikmatan indria ini sehingga menderita karena tidak dapat memenuhi nafsu indriya yang tidak nyata pada dasarnya. Padahal kita mengetahui bahwa semakin banyak kenginan, maka akan semakin besar pula kesedihan atau kekecewaan yang akan kita tanggung, semakin sedikit keinginan, maka kemungkinan bahagia semakin besar.
Banjir perwujudan (bhavogha), yaitu nafsu keinginan dan nafsu jasmani terhadap lingkup bentuk dan kehidupan tanpa bentuk serta kemelekatan pada tingkat-tingkat pencapaian jh?na. Ada orang-orang tertentu ingin hidup terus karena dia berkecukupan, tidak kekurangan satu apapun, apa yang diinginkan bisa tercapai, sebaliknya ada yang menginginkan cepat mati karena hidupnya menderita. Di samping itu, ada juga orang-orang tertentu yang menginginkan terlahir di alam kehidupan tanpa bentuk yang dapat dicapai dengan meditasi sampai menguasai jhana-jhana/tingkat konsentrasi yang sudah sedemikian maju. Mengapa mereka ingin hidup di alam tanpa bentuk? Tidak lain karena menganggap alam tanpa bentuk sudah yang tertinggi tidak ada lagi yang lebih tinggi lagi.
Banjir pandangan salah (ditthogha), banjir pandangan salah ini berkaitan dengan hal-hal yang seharusnya dilakukan mendatangkan manfaat tetapi tidak dilakukan, sedangkan hal yang seharusnya tidak dilakukan karena merugikan justru malah dilakukan. Sebagai contoh pandangan salah itu adalah, membunuh itu tidak berakibat apa-apa maka membunuh boleh saja. Kalau hal ini terjadi bukan hanya diri kita sendiri yang menderita, makhluk lain juga turut menanggung akibat dari apa yang telah kita kerjakan itu.
Berikutnya adalah Banjir ketidaktahuan (avijjogha), tidak memahami empat kebenaran mulia. Tidak mengetahui dukkha, sumber dukkha, lenyapnya dukkha, dan jalan menuju lenyapnya dukkha.
Empat macam banjir di atas bahayanya lebih tinggi dibandingkan dengan banjir air, hal ini disebabkan karena pikiran yang gelap dapat menghancurkan seseorang untuk berbuat kebenaran.
Untuk menyeberangi banjir diperlukan persiapan dan metode yang tepat. Tanpa persiapan alat dan metode yang tepat, maka bukan tidak mungkin seseorang akan tenggelam atau terseret arus banjir. Dalam Samyutta Nikaya, Devatasamyutta, dalam menyeberangi banjir; ada dua cara untuk menyeberangi banjir supaya selamat sampai tempat yang kita tuju. Dua cara itu adalah: dengan cara tidak berhenti dan dengan tidak menegang saat menyeberangi banjir. Mengapa ketika menyeberangi banjir kita tidak boleh berhenti dan dengan tidak menegang? Alasannya adalah kalau dalam banjir kita berhenti atau tidak berusaha maka kita akan tenggelam, sebaliknya kalau tegang dan meronta-ronta maka kita akan terseret arus. Sesungguhnya dengan melaksanakan Jalan Mulia Berunsur Delapan itu kita tidak akan terseret atau tenggelam dalam banjir. Dengan melaksanakan Jalan Mulia Berunsur Delapan yang seringkali dikelompokan menjadi tiga aspek latihan agar kita akan selamat sampai ke pantai seberang. Pantai seberang yang menjadi tujuan kita sebagai umat Buddha tidak lain adalah Nibbana. Dengan dua cara inilah, seseorang akan selamat menyeberangi banjir. Atau dapat dikatakan untuk menyeberangi banjir hendaknya berusaha dengan semangat dan tidak tegang.
Sukses atau tidaknya seseorang mencapai pantai seberang atau menyeberangi banjir tergantung seberapa besar dan seberapa tekun seseorang berlatih dan berjuang. Semakin gigih, tekun, dan bersemangat, maka kemungkinan mencapai pantai seberang terbuka lebar. Sebaliknya, apabila semakin kendor dan malas seseorang berusaha, maka kemungkinan gagal terbuka lebar. Sukses atau gagalnya dalam menyeberangi banjir tergantung kita, maka dari itu kita harus berjuang sungguh-sungguh, karena tidak ada yang mustahil selama kita mau berusaha. Selamat berjuang menyeberangi banjir, semoga sukses mencapai pantai seberang. (c)
T#gs
Berita Terkait
Komentar
Komentar
Silakan Login untuk memberikan komentar.
FB Comments