Minggu, 16 Jun 2019

Rutin Berbuat Bajik

Oleh Upasaka Pandita Rudiyanto Tanwijaya
admin Sabtu, 30 Maret 2019 15:36 WIB
Kedatangan kita ke dunia ini bukan tanpa sebab. Ajaran Buddha mengatakan bahwa hadirnya kita dalam kehidupan ini memiliki misi besar. Salah satunya adalah untuk menyempurnakan kehidupan yang telah kita lalui sejak kelahiran yang berulang kali, yang tak terhitung banyaknya.

Bayangkan saja, dalam satu kehidupan, kita melakukan banyak perbuatan, entah itu perbuatan baik ataupun tidak baik. Perbuatan baik akan membawa berkah pada kehidupan mendatang, sebaliknya perbuatan tidak baik akan mengundang penderitaan bagi kita. Lantas bagaimana mengatasinya?

Buddha Sakyamuni dengan ke-Agung-annya yang tiada tara telah membimbing manusia melalui ajaran-Nya yang sangat mendasar. Yaitu mengajak kita untuk tidak lagi berbuat kejahatan, tapi justru memperbanyak perbuatan baik. Kemudian membersihkan hati dan pikiran kita, maka dengan demikian kita telah menanam benih kehidupan yang berkualitas untuk etape berikutnya.

Apa yang diajarkan oleh Buddha terlihat sederhana namun ini bukan sekedar teori tapi juga praktik atau aksi. Kita harus tahu, namun yang paling penting, kita juga harus melaksanakannya. Itulah siswa Buddha yang baik dan konsisten.

Harus diakui banyak halangan untuk bisa menjadi siswa Buddha yang baik dan konsisten. Seorang Guru Dharma pernah menyebutkan bahwa Mara, selaku Penggoda, paling suka mengganggu orang yang sedang berlatih mempraktikkan Ajaran Buddha. Dalam ajaran Buddha, penggoda tidak harus berwujud makhluk mengerikan seperti dalam film horor. Justru Mara yang lebih dahsyat datang dari dalam diri sendiri, seperti kemalasan, kesombongan dan keakuan.

Bagaimana mengatasi Mara dari dalam diri? Hindarilah perbuatan tidak baik, lakukan terus kebajikan dan bersihkan pikiran serta bathin. Ibarat air yang dimasak, meski apinya kecil namun terus menyala, maka air akan mendidih. Ini hanya masalah waktu saja.

Maha Biksu Yin Guang (1861-1940), sesepuh ketigabelas Aliran Sukhavati patut diteladani. Dalam kehidupan beliau, tekad untuk berbagi kebajikan secara terus-menerus, sungguh luar biasa. Sebagai guru besar, Biksu Yin Guang memiliki banyak sekali murid yang menyokong kehidupannya sebagai anggota sangha. Namun demikian, semua dana yang beliau terima, tak pernah beliau gunakan untuk kenikmatan diri sendiri ataupun hal yang tak berguna.

Biksu Yin Guang menggunakan semua dana yang disumbangkan untuk memajukan ajaran Buddha. Ia mendirikan balai penerbitan buku-buku Buddha Dharma, lalu membagikan buku-buku tersebut kepada umat Buddha, agar umat Buddha semakin tahu dan memahami ajaran-Nya.

Perbuatan ini dilakukan selain untuk menyempurnakan kehidupannya saat ini, juga untuk memperbaiki karma masa lampau, yang mungkin saja belum sempurna. Meski sudah lama sekali berlalu, apa yang dilakukan oleh Biksu Yin Guang ternyata memberi banyak sekali manfaat bagi umat Buddha hingga hari ini. Coba dibayangkan karma kebajikan yang telah beliau perbuat.

Selain Biksu Yin Guang, kita juga boleh kagum atas apa yang telah dilakukan oleh Maha Biksu Chin Kung. Biksu Chin Kung terkenal dengan ceramah Dharmanya yang tak terhitung banyaknya. Beliau terus mengajar dengan tulus dan tak pernah bosan, demi berbagi keagungan Dharma kepada masyarakat. Tak peduli berapa jumlah audiennya, Biksu Chin Kung terus mengajar selama puluhan tahun hingga hari ini.

Nah, di zaman modern seperti sekarang ini, mungkin apa yang pernah dilakukan Biksu Yin Guang bisa kita teladani dan ikuti. Mungkin kita tak perlu mendirikan badan penerbitan atau percetakan, tetapi menggunakan teknologi yang sudah berkembang pesat.

Misalnya, bagi yang punya kemampuan di bidang komputer, mungkin bisa berbagi ajaran Buddha melalui media sosial yang telah ada. Misalnya membagikan ceramah-ceramah Buddhis dari para Guru Dharma, atau renungan-renungan/kalimat motivasi yang mencerahkan kepada teman-teman di jagad dunia maya. Lakukan terus, jangan terputus, meski kadang kita bisa saja disergap rasa lelah atau jenuh. Inilah kondisi duniawi yang harus kita sadari dan benahi.

Alangkah disayangkan bila ada orang yang punya kemampuan baik, malah menggunakan kemampuannya untuk mencemarkan bathin orang lain dengan hal-hal yang tidak baik. Ini tentu karma yang tidak baik.

Maka, ayo, kita terus berbuat baik. Kita tahu ini tidak mudah, namun yakinlah, sepanjang ada tekad, maka semua akan lebih mudah. Yang penting jangan mudah menyerah… !! (Penulis adalah Pengurus dan Duta Dharma Majelis Buddhayana Indonesia, Provinsi Sumut/h)
T#gs
Berita Terkait
Komentar
Komentar
Silakan Login untuk memberikan komentar.
FB Comments