Jumat, 18 Okt 2019

Rahasia Berpuas Hati

* Oleh Upa. Madyamiko Gunarko Hartoyo
Sabtu, 19 November 2016 19:50 WIB
Sepanjang sejarah manusia, jarang menemukan seseorang yang dapat menjawab dengan jujur benar-benar bahagia dan puas dengan hidupnya.Meskipun semua keinginan terwujud menjadi kenyataan, kepuasan tidak akan bertahan lama, dan segera diikuti dengan keinginan mendapatkan sesuatu yang lebih, atau sesuatu yang berbeda. Kehidupan selalu membawa seseorang untuk selalu mendambakan lebih dan lebih walaupun kepuasan hati di awal telah diraih.
 
Hakikatnya seseorang dibekali kemampuan  tumbuh dan berkembang terus untuk mengubah diri dan lingkungan sekitarnya. Ini menjadi alasan mengapa seseorang tidak pernah merasa puas dengan kondisinya saat ini, dan karenanya selalu berusaha menjadi lebih baik di masa depan.  Dalam banyak hal, kita telah menaklukkan alam dan kehidupan kita telah lebih nyaman dan menyenangkan. Namun, ambisi menjadikan seseorang berusaha lebih keras untuk memperbaiki diri dan memperoleh hal-hal yang lebih baik, sehingga tidak pernah bahagia terhadap prestasi yang telah berhasil diraih. Selayaknya ambisi hanya dijadikan sebagai harapan agar membuat hidup bergairah dan berpuas hati membuat hidup jadi lebih bahagia.

Setiap orang memiliki kebutuhan yang berbeda-beda dalam hidup dan menjadi puas tidak berarti bahwa tidak diperkenankan bekerja keras atau berjuang untuk meningkatkan kehidupan. Kebutuhan benda material diperlukan untuk bertahan hidup dan kenyamanan, kuncinya berpuas hati adalah mengetahui kapan seseorang telah cukup memiliki. Hindarkan kegemaran membandingkan diri kita dengan orang lain sehubungan dengan kondisi kemampuan, keuangan dan intelektual yang mengarahkan ke citra diri yang rendah. Seseorang cenderung jarang fokus pada bakat dan kemampuan unik yang dimilikinya. Membandingkan dengan orang lain hanya menggeser jauh aspek-aspek positif dari kehidupan yang dimiliki, dan biasanya seseorang cenderung mudah berkecil hati dengan apa yang telah didapatkan orang lain. Seseorang cenderung melakukan banyak hal agar dinilai baik oleh orang lain, namun lupa bahwa orang lain juga tidak pernah puas dengan apa yang dimilikinya. 

Dalam Manggala Sutta, Sang Buddha menguraikan berpuas diri merupakan satu dari tiga puluh delapan berkah utama untuk meraih kebahagiaan. Orang bijaksana menyadari bahwa hasrat yang terus-menerus untuk memenuhi kemelekatan material ibaratnya seperti meneguk air garam untuk melegakan rasa haus, dan ini secara tidak terelakkan menuntun pada ketidak-puasan, frustasi dan penderitaan. Menemukan tingkat kepuasan kita sendiri adalah serupa dengan menemukan ketenangan pikiran yang sejati. Kepuasan adalah kekayaan yang terbesar. Banyak orang dengan kekayaan berlimpah tidak bahagia karena mereka berpikir mereka masih belum cukup memiliki kekayaan.

Banyak berkah yang bisa kita dapatkan dengan berpuas diri diantaranya bisa menyelamatkan pernikahan dengan memupuk hubungan yang seimbang dan harmonis dalam jangka panjang karena orang-orang yang berpuas hati tidak akan mau melukai orang yang menunjukkan penghargaan pada dirinya ataupun sebaliknya. Berpuas hati atas apa yang kita miliki juga bisa membuat seseorang lebih kaya, karena secara alami menginginkan lebih sedikit pemilikan materi.

Orang-orang yang benar-benar menghargai semua yang sedang ia miliki dan juga standar hidupnya saat ini, secara alami mereka tidak menginginkan banyak materi karena mereka sadar kalau materi bukan satu satunya alasan meningkatkan kebahagiaan mereka sehingga memupuk kebiasaan menabung ataupun memanfaatkan/mengelola uangnya dengan baik. Ada penelitian yang menunjukkan bahwa orang-orang yang berpuas hati memandang ekonomi secara lebih optimis dan lebih percaya diri akan perkembangan karier dan bisnisnya serta peningkatan pendapatan keluarganya di masa depan. Selain itu,  hati juga memberi dampak positif  pada kesehatan fisik merasa terus fit karena mampu mengurangi tekanan darah yang menjadi sumber berbagai penyakit.

Karena manusia itu selalu menginginkan yang lebih maka berpuas hati adalah satu-satunya jalan agar kita tidak berlebihan dalam meminta. Jalani hidup dengan bahagia yang seperlunya, bersedih dengan seperlunya, dan berpuas hati sebanyak-banyaknya.  Nikmat itu akan hilang jika kita tidak mengikatnya dengan rasa berpuas hati. Ada saat dimana kita harus berhenti sejenak, melihat kebelakang lalu berpuas hati. Rahasia kepuasan batin adalah mampu berpuas hati, dan mampu berdamai dengan nafsu keinginan yang merupakan sumber dari ketidakpuasan diri. Tantanglah diri untuk hidup sepenuh hati, memanfaatkan hidup sepenuhnya. (l)
T#gs
Komentar
Komentar
Silakan Login untuk memberikan komentar.
FB Comments