Kamis, 19 Sep 2019

Penghambat Kebahagiaan

Oleh : Upa Madyamiko Gunarko Hartoyo
admin Sabtu, 16 Februari 2019 14:41 WIB
Sebagian besar kita pastilah paham bagaimana mendapatkan kebahagiaan dengan berlandaskan pada Dharma ( ajaran kebenaran ) yang telah kita pelajari. Namun pada prakteknya perjuangan kita meraih kebahagiaan tidaklah mudah adanya. Termasuk yang selalu menjadi perjuangan hidup kita yakni mendapatkan harta materi ataupun sandang pangan. Perjuangan tersebut sering sekali memerlukan semangat berjuang tinggi agar tidak menghadapi kesulitan yang berlebihan, namun tidak sedikit di antara kita yang sangat sulit untuk mendapatkan materi demi bertahan hidup hal mana dikarenakan adanya belenggu kehidupan yang tidak kita sadari.

Buddha menguraikan tidak hanya sebatas materi saja yang menjadi belenggu bagi kita, namun berpikir dan menjelaskan jauh lebih halus tentang sepuluh belenggu "samyojana" kehidupan ini. Agar kita tidak terjebak di dalam belenggu belenggu tersebut demi merealisasi kebahagiaan di dunia ini maupun dikehidupan selanjutnya. Yang pertama "sakkayaditthi; Pandangan sesat tentang adanya pribadi, jiwa atau aku yang kekal". Jika kita terlalu melekat dengan diri kita ini maka kita akan terbelenggu oleh diri kita sendiri, karena kita ini setiap saat selalu mengalami perubahan, tanpa bisa menerima perubahan maka penderitaan akan muncul.

Yang kedua "Vicikiccha: Keragu-raguan terhadap Buddha dan AjaranNya", jika sedikit saja kita memiliki keraguan ajaranNya dan Buddha maka ini lah yang menjadi belenggu menghambat kita untuk memahami kebenaran itu sendiri. Keragu raguan ini menghambat arah kita untuk meraih kebahagiaan. Sesuatu yang tidak dikerjakan dengan keyakinan penuh tentunya memberi hasil yang kurang baik sebagai akibatnya

Yang ketiga "Silabbataparamasa : Kepercayaan tahyul bahwa upacara agama saja dapat membebaskan manusia dari penderitaan". Buddha tidak hanya mengajarkan kepercayaan saja, tetapi menekankan datang dan buktikan "Ehipasiko" sendiri, dengan demikian kita bisa merasakan secara langsung bahwa suatu ajaran itu membahagiakan atau justru sebaliknya, oleh karena itu janganlah percaya begitu saja dengan suatu ajaran. Sering sekali kegagalan meraih kebahagiaan diperoleh mereka yang menyerahkan hasilnya kepada sesuatu yang takhyul, bertolak belakang dengan hukum kebenaran yang ada.

Yang keempat "Kamaraga : Nafsu Indriya". Indriya kita ini sangat bermanfaat bagi kita tetapi menggunakan indriya yang kita miliki ini dibarengi dengan nafsu maka akan menjadi suatu belenggu yang menyesatkan kita. Nafsu indriya menjadi penghambat bagi pengembangan diri meraih kebahagiaan. Nafsu tersebut menjadikan seseorang bertindak secara tidak benar dan semakin jauh dari upayanya meraih kebahagiaan.

Ke lima "Vyapada : Benci, keinginan tidak baik". Memiliki keinginan bisa juga dikatakan bermimpi disaat sedang terbangun, tetapi yang dimaksud disini adalah keinginan yang tidak baik, yang didasari nafsu dan benci, jika kita terbebas dari belenggu ini maka kebahagiaan akan bertambah. Keinginan yang tidak baik bukanlah sesuatu yang dapat memberikan kebahagiaan, jika pun keinginan tidak baik tersebut dapat kita peroleh maka kita tidaklah akan bahagia karena bayang bayang buruk yang menyertainya.

Ke enam "Ruparaga ; Kemelekatan atau kehausan untuk terlahir di alam bentuk. (rupa-raga)". Dan Yang ke tujuh "Aruparaga: Kemelekatan atau kehausan untuk terlahir di alam tanpa bentuk". Buddha selalu menekankan untuk mempraktekan ajarannya, untuk hasil akhir dari praktek ajarannya itu tergantung seberapa besar praktek yang kita lakukan, tanpa mengharapkan kelahiran apa yang akan kita dapat setelah kehidupan ini tentu itu pasti akan kita terima sesuai dengan apa yang kita lakukan, tetapi jika sedikit apa yang kita lakukan tentang kebaikan namun kita mengharapkan kelahiran yang membahagiakan maka itu akan menjadi belenggu bagi kelahiran kita nantinya.

Kedelapan "Mana: Ketinggian hati yang halus, perasaan untuk membandingkan diri sendiri dengan orang lain". Dan ke Sembilan "Uddhacca: Bathin yang belum seimbang benar". Tanpa adanya kese-imbangan batin dengan apa yang ada dalam diri kita dengan kita berpikir dan membandingan diri kita dengan orang lain walapun kita yang lebih bagus dibandingkan orang lain maka ini pun menjadi suatu penderitaan suatu belenggu untuk menghambat kemajuan. Dan yang ke sepuluh "Avijja : Kegelapan bathin, Suatu kondisi batin yang halus sekali karena yang bersangkutan belum mencapai tingkat kebebasan sempurna (arahat).

Sepuluh belenggu tersebut merupakan penghambat upaya kita meraih kebahagiaan. Perjuangan kita untuk hidup sesuai ajaran Dharma sangatlah dipengaruhi kemampuan kita untuk memahami dan melepaskan diri dari belenggu belenggu tersebut Pada dasarnya belenggu belenggu tersebut mengikat seseorang untuk bisa berhasil meraih kebahagiaan dalam kehidupan ini
"Sabbe Satta Bhavantu Sukhitatta, semoga semua makhluk berbahagia". (l)
T#gs
Berita Terkait
Komentar
Komentar
Silakan Login untuk memberikan komentar.
FB Comments