Kamis, 17 Okt 2019

Panjang Umur

* Oleh : Islahuddin Panggabean * Staff Media Centre Gerakan Islam Pengawal NKRI
Jumat, 19 Oktober 2018 22:34 WIB
Dalam setiap momen istimewa seperti ulang tahun (milad), masyarakat kerap mendoakan "semoga panjang umur". Pertanyaan pun timbul, bagaimana doa tersebut dalam Islam dan apa makna panjang umur yang sebenarnya. Nabi Saw pernah mendoakan Anas Ra yang salah satunya panjang umur. Dari Anas bin Malik Ra, Rasulullah Saw berdoa untuknya, "Ya Allah perbanyaklah anaknya, panjangkanlah kehidupan (dalam riwayat lain: panjangkanlah umurnya) dan ampuni dosanya"

Perbedaan Usia dan Umur dari Segi Bahasa
Dalam bahasa Arab, ada perbedaan antara usia dan umur. Usia adalah 'sinnun' sedangkan mur adalah 'umrun'. 'Sinnun' artinya usia biologis, yaitu usia kronologis dari lahir sampai hari ini. 'Sinnun' juga berarti gigi, karena di antara tanda pertumbuhan manusia adalah gigi. "Berapakah usiam?" dalam bahasa Arab : "Kam sinnuka?" maka jawabannya bisa 50 tahun, 60 tahun dan lain seterusnya.

Sedangkan 'Umrun' itu satu akar kata dengan 'imaroh' (bangunan), ta'mir (memakmurkan). Jadi, umur bermakna usia produktif, yang manfaat dan yang menghasilkan karya (imaroh: bangunan). Dari perbedaan makna ini, bisa jadi ada anak muda, tapi umurnya melampaui usianya, karena produktifitas dan karyanya yang besar bagi masyarakat. Namun, ada pula orang tua tetapi umurnya masih muda karena karyanya sedikit. Jika ditilik dari segi keberagamaan, ada anak muda yang umur beragamanya sudah dewasa, namun adapula orangtua dari segi usia namun masih muda umur keberagamaannya. 

Makna Panjang Umur 
Para ulama  telah membahas mengenai makna 'panjang umur' berkisar antara tiga makna, yakni 1) keberkahan pada umur, 2) perpanjangan umur secara hakiki (perpanjangan usia) dan 3) reputasi atau peninggalan baik setelah kematiannya. Pertama, panjang umur sebagai arti dari keberkahan umur yang digunakan dalam ketaatan dan menggunakan waktu demi mendapat manfaat di negeri akhirat atau dapat melakukan amal-amal kebaikan dalam waktu yang pendek dan bisa memelihara waktu dari perbuatan sia-sia. Sebagai permisalan, Nabi pernah memberitakan bahwa umur umatnya jika dibandingkan dengan umur umat sebelumnya sangat pendek, sehingga Allah memberikan keutamaan semisal keberkahan Lailatul Qadar yang nilainya sama dengan 1000 bulan (83 tahun) , begitupula keutamaan pada silaturahim sebagai jalan mendapatkan taufiq untuk berbuat ta'at dan terpelihara dari kemaksiatan.  

Kedua, panjang umur atau penambahan umur secara hakiki (usia). Harus dipahami ayat yang menyatakan bahwa ajal atau umur tidak dapat diperpanjang sebagaimana dalam Firman Allah, "Tiap-tiap umat mempunyai 'ajal; maka apabila telah datang waktunya mereka tidak dapat mengundurkannya barang sesaatpun dan tidak dapat (pula) memajukannya. (QS al-A'raf :34) maupun "..Dan sekali-kali tidak dipanjangkan umur seorang yang berumur panjang dan tidak pula dikurangi umurnya, melainkan (sudah ditetapkan) dalam Kitab (Lauh Mahfuzh). Sesungguhnya yang demikian itu bagi Allah adalah mudah." (QS Fathir :11) oleh para ulama dinisbatkan pada pengetahuan ('Ilmu) Allah. 

'Ilmu Allah tentang umur seseorang tidak dapat dimajukan dan diakhirkan meski hanya sedetik. Sedangkan pengetahuan umur yang diketahui Malaikat bisa bertambah dan berkurang. "Allah menghapuskan apa yang Dia kehendaki dan menetapkan (apa yang Dia kehendaki) dan di sisi-Nya lah terdapat Ummul Kitab (Lauh Mahfudz) (QS ar-Ra'du : 39). Jadi, Ilmu yang dimiliki malaikat inilah yang bisa mengalami penghapusan atau penetapan sesuai kehendak Allah, adapaun 'Ilmu Allah tidak berubah sama sekali. 

Mengenai perpanjangan usia ini, dalam al-Quran dijelaskan manusia jika dipanjangkan umurnya manusia akan mengalami tua pikun, tua nyanyuk ('Ardzail 'Umur). Buya Hamka ketika menafsirkan surah at-Tin dalam Tafsir al-Azhar menerangkan kunci terhindar dari tua pikun ialah dekat dengan al-Quran semasa muda. Sebagaimana diriwayatkan "Barangsiapa yang mengumpulkan Quran tidaklah akan dikembalikan kepada 'ardzalil umur. Kepada tua pikun. Insyaa Allah!" Beliau juga menjelaskan bahwa berpulang kepada Tuhan, berapa umur yang akan Dia berikan, entah mati muda atau sampai usia lanjut, asal kita sendiri mematuhi perintah-perintah Allah sejak masih remaja sehingga tetap jadi modal hari tua (kebaikan sewaktu muda tetap dicatat). Dan kita pun tetap memohon jangan kiranya sampai jadi tua pikun yang memberati anak cucu.   

Ketiga, reputasi atau keturunan baik setelah kematian. Qadhi bin Iyadh mengatakan bahwa makna panjang umur ialah nama seseorang tetap disebut-sebut oleh lisan masyarakat dengan baik setelah meninggal dunia. Karena semasa hidup mengerjakan amal-amal ketaatan hingga menjadi sebab bagi keharuman nama pelakunya. Menurut Imam al-Alusi, pada umumnya amal-amal ini berkaitan dengan shadaqah (ilmu maupun harta) dan silaturahim , karena keduanya dapat mendatangkan manfaat dan pujian masyarakat. 

Perpanjangan umur setelah meninggal dunia juga dimaknai dengan adanya keturunan yang baik. Makna ini sesuai dengan sebuah hadist riwayat Thabrani, "Sesungguhnya Allah tidak akan menunda usia seorang pun jika kematiannya telah datang kepadanya. Akan tetapi yang dimaksud dari penambahan usia adalah anak keturunan yang sholih. "Sepertinya hal-hal di atas sesuai dengan sabda Nabi, "Jika manusia telah meninggal maka amalannya terputus kecuali tiga, sedekah jariah yang terus mengalir, ilmu yang diambil manfaatnya dan anak sholih yang mendoakan kebaikan untuknya."

Penutup 
Manusia yang terbaik adalah yang panjang umurnya dan baik amalnya sedangkan manusia yang buruk ialah panjang umur tetapi jelek amal. Jadi, yang terpenting bukan  jumlah tahun yang ia lalui tetapi apa yang tercatat dalam timbangan amal di sisi Allah. Doa terindah bagi empunya umur ialah semoga umurnya berkah. Barakallah fi umrik! Wallahua'lam. (l) 
T#gs
Komentar
Komentar
Silakan Login untuk memberikan komentar.
FB Comments