Jumat, 18 Okt 2019

Mulutmu Harimaumu

* Oleh : Mina Wongso
Sabtu, 24 September 2016 17:24 WIB
Musavada veramani sikkhapadam samadiyami
Aku bertekad untuk melatih diri menghindari ucapan yang tidak benar/berbohong, berdusta, fitnah, omong kosong
(Pancasila Buddhis Sila ke 4)

Dunia entertainment Indonesia belakangan dikejutkan oleh gonjang ganjing kisah hidup Mario Teguh, seorang motivator ternama. Kisah ini marak karena munculnya seorang pemuda yang mengaku sebagai anak kandung dari Mario Teguh dari pernikahannya yang pertama tapi tidak diakui anak oleh Sang Golden Ways Motivator. Seru sekali membaca pembahasan hidup orang lain di berbagai sosial media, ada yang pro anak, tidak sedikit yang pro pada sang motivator dan bilang macam-macam tentang si anak yang disebut mau cari tenar, durhaka dan sebagainya.

Menarik dibaca tentang analisa seorang tokoh menggunakan cara mendeteksi kebohongan yang ironisnya, cara tersebut diungkap oleh sang motivator tersebut. Dan sekarang kiat membongkar kebohongan digunakan orang untuk membongkar dirinya sendiri.

Tulisan ini tidak membahas tentang siapa yang benar dan siapa yang salah dalam kasus Mario Teguh ini, melainkan tentang "BOHONG". Banyak alasan kenapa seseorang berbohong, mungkin supaya  terlihat lebih baik dari aslinya,  agar populer, mencari keuntungan, berbasa basi, pembuktian, menyelamatkan diri,  menciptakan opini atau untuk mencelakakan orang lain. Bahkan dalam masyarakat dikenal adanya White Lies, atau bohong putih, bohong demi kebaikan.

Percaya atau tidak, manusia pada dasarnya adalah baik dan mekanisme tubuh kita tidak diciptakan untuk berbohong, sehingga setiap kali manusia berbohong, maka ia akan merasa tidak nyaman, sehingga tubuhnya memberi tanda-tanda penolakan, yang terbaca oleh lawan bicara sebagai isyarat-isyarat kebohongan. Mungkin bagi sebagian orang awam, isyarat ini  tidak mutlak dipahami, tapi membawa semacam keraguan akan kebenaran yang diungkapkan oleh orang tersebut, sebab bahasa verbalnya tidak sinkron dengan ekspresi tubuhnya. Misalnya dari ekspresi mata, kegelisahan, gerakan tangan, bahu, maupun jari jari yang berkhianat pada pemilik tubuh. Hanya orang-orang yang terlatih untuk berbohong terus menerus yang dapat memanipulasi tubuhnya, sehingga rasa tidak nyaman akibat berbohong itu hilang dan ia dapat berbohong dengan lancar tanpa ketahuan.  

Buddha memasukkan aturan untuk bicara benar dalam aturan moralitas yang harus dijalankan oleh Umat Buddha, dalam sila ke 4 dari Pancasila Buddhis dinyatakan sebagai berikut : Musavada veramani sikkhapadam samadiyami yang artinya : Aku bertekad untuk melatih diri menghindari ucapan yang tidak benar /berbohong, berdusta, fitnah, omong kosong. Terdapat 4 kriteria yang menjadikan perbuatan bohong itu terwujud yaitu : adanya topic kebohongan, adanya keinginan untuk berbohong, ada upaya untuk melakukannya, dan orang lain memahami apa yang disampaikan oleh orang tersebut.

Buddha sebelum meninggalkan keduniawian dan mencapai kesempurnaan, pernah menikah dan memiliki seorang putra yang diberi nama Rahula. Dalam usia masih sangat kecil Rahula sudah ditahbiskan menjadi seorang Bhikkhu dan hidup berlatih diri. Usianya yang masih dini dan kesenangannya untuk bermain membuat ia senang melakukan hal-hal yang baginya lucu, salah satunya adalah membohongi orang-orang tentang keberadaan Buddha dan senang ketika melihat orang tertipu karenanya.

Buddha yang mengetahui akan hal ini bertekad untuk memperbaiki Rahula, Beliau  meminta Rahula untuk mengambil sewadah air bersih untuk mencuci kaki Buddha. Seusai membersihkan kakinya, Sang Buddha lalu berkata pada Rahula : "Minum air di wadah ini." Rahula lalu menjawab : "Air bekas cuci kaki ini sangat kotor." Lalu Buddha berkata lagi : "Rahula, kata-katamu seperti air kotor di wadah ini, menyakitkan telinga orang yang mendengarnya." Mendengar itu, Rahula menjadi takut, lalu segera membuang air di wadah itu. Buddha kemudian berkata lagi : "Bawalah wadah ini, tuang nasimu ke dalam dan makanlah!" Merasa disalahkan, Rahula lalu berkata : "Wadah bekas cuci kaki itu kotor, tidak bisa mengisi makanan yang bersih." Buddha lalu berkata lagi : "Rahula, kamu seperti wadah kotor ini, Dharma (ajaran Buddha) yang baik itu tidak bisa dimasukkan ke dalam batinmu." Mendengar itu, Rahula merasa sangat malu.

Buddha menatap wadah di atas tanah itu, lalu menendangnya, wadah itu pun menggelinding ke mana-mana. Kemudian Buddha bertanya : "Rahula, apakah kamu merasa sayang kalau wadah ini pecah ?" Rahula lalu mengatakan : "Buddha, wadah untuk mencuci kaki ini adalah sesuatu yang nista, tidak seberapa nilainya, meski rusak sekalipun juga tidak apa-apa!" Mendegar perkataan Rahula, Buddha lalu mengatakan : "Kamu seperti wadah yang tak berharga ini, jika suka bicara sembarangan dan berbohong, maka kamu tidak akan mendapatkan penghargaan dari orang lain dan juga tidak ada yang akan menghormatimu dan peduli denganmu." Seusai mendengar perkataan/wejangan Buddha, Rahula pun seketika menangis terisak dan sejak itu Rahula tidak lagi berbohong, konsentrasi pada kultivasinya untuk mencapai pencerahan, hingga mencapai pencerahan pertama dalam kultivasinya dan menjadi Arahat Agung.

Beberapa kebohongan berakibat buruk pada orang lain,  misalnya memfitnah orang lain dengan dasar kebencian yang berakibat buruk pada orang tersebut. Namun ada juga kebohongan yang berakibat sangat minimal karena memang tujuannya bukan untuk mencelakakan orang lain, namun kebohongan terutama berdampak pada diri si pelaku itu sendiri, ia tidak lagi dipercaya oleh lingkungannya. 

Buddha menganjurkan untuk melatih Perkataan-Sempurna dengan menjauhkan diri dari perkataan bohong, menghindari diri dari fitnah, menghindari diri dari kata-kata kasar dan  menghindari diri dari obrolan kosong. Dengan demikian umat Buddha meningkatkan kualitas kehidupannya ke arah yang lebih baik. (q)
T#gs
Komentar
Komentar
Silakan Login untuk memberikan komentar.
FB Comments