Selasa, 15 Okt 2019

Mimpi Besar

* Oleh : Upa. Gunarko Hartoyo Madyamiko
admin Sabtu, 09 Maret 2019 13:20 WIB
Raja Kosala, terlelap sepanjang malam, memimpikan enam belas mimpi besar, terbangun dengan ketakutan dan kegelisahan seolah kematian akan mencengkeramnya.

Para brahmana khawatir terhadap mimpi-mimpi buruk tersebut sebagai tanda satu dari tiga bencana besar yang akan membahayakana kerajaan, nyawa atau kekayaan Maharaja dan menyarankan diadakan upacara kurban di setiap perempatan jalan.

Mereka memanfaatkan ketakutan untuk memperoleh sejumlah besar uang dan barang milik raja. Mereka segera berangkat dari istana. Di luar kota, mereka menggali sebuah lubang untuk menempatkan kurban dan mengumpulkan sejumlah besar makhluk berkaki empat yang sempurna tanpa cacat dan burung-burung. Namun, mereka terus menemukan masih ada yang kurang dan mereka terus-menerus menemui raja untuk meminta ini dan itu.

Tindakan mereka dilihat oleh Ratu Mallika dan memintanya menanyakan kepada Sang Guru yang bijaksana dan paling terkemuka di alam manusia dan para Dewa, pengetahu segala sesuatu yang berkaitan dengan masa lalu, masa sekarang dan masa yang akan datang. Dengan kebijaksanaan Sang Guru, raja berhasil mendapatkan makna yang tepat atas enam belas mimpi besarnya.

Dalam mimpi pertama ada empat ekor sapi jantan hitam, datang dari empat arah utama halaman istana dengan tujuan untuk berkelahi dan orang-orang berkumpul untuk menyaksikan laga sapi jantan, sehingga keramaian besar terjadi. Namun, sapi-sapi jantan itu hanya menunjukkan akan berkelahi, tapi kemudian berlalu tanpa berkelahi sama sekali. Sang Guru menguraikan mimpi tersebut tidak akan berakibat buruk. Namun sebagai nasehat, pada masa yang akan datang, bila para raja kikir dan jahat dan para penduduk juga melakukan kejahatan, dunia ini menjadi sesat. Kebaikan memudar sedangkan kejahatan berkembang pesat, hujan tidak akan turun dari langit, hujan akan terhenti, tanaman akan mengering dan dunia akan dilanda bencana kelaparan. Seolah-olah pertanda hujan akan turun, suara petir akan terdengar, kilat akan menyambar di antara awan, sama seperti sapi-sapi jantan dalam mimpi, yang tidak jadi berlaga, awan-awan akan berhembus pergi tanpa hujan.

Dalam mimpi kedua ada beberapa pohon yang sangat kecil dan semak belukar yang menutupi permukaan tanah. Setelah tumbuh tidak lebih dari satu atau dua jengkal, pohon pohon itu berbunga dan menghasilkan buah. Sang Guru mengungkapkan dunia akan mengalami kemunduran umur pada masa mendatang, nafsu akan menguat. Anak-anak gadis yang masih sangat muda akan hidup bersama para lelaki, akan mengalami datang bulan seperti wanita dewasa, mereka akan mengandung dan melahirkan anak-anak. Bunga-bunga melambangkan anak-anak gadis yang masih sangat muda dan buah melambangkan keturunan mereka.

Dalam mimpi ketiga, raja melihat sapi-sapi betina yang menyusu pada anak-anak sapi yang telah mereka lahirkan pada hari itu juga. Inilah mimpi ketiga saya. Sang Guru mengungkapkan mimpi akan terjadi di masa mendatang, saat tidak ada lagi penghormatan yang diberikan kepada mereka yang lebih tua. Orang-orang pada masa yang akan datang, karena tidak menaruh rasa hormat kepada orang tua maupun mertua mereka, akan mengelola tanah milik keluarga untuk diri sendiri dan jika mereka senang akan menghadiahkan makanan dan pakaian kepada orang-orang yang sudah tua, namun akan menahan pemberian mereka jika mereka merasa tidak senang untuk memberikannya. Orang-orang yang sudah tua itu, yang miskin dan tidak mandiri, bertahan hidup dari bantuan anak mereka sendiri, seperti sapi-sapi dewasa yang menyusu pada anak-anak sapi yang berusia satu hari.

Dalam mimpi keempat, raja melihat para lelaki melepaskan gerobak dari sekumpulan sapi jantan penarik muatan, yang sehat dan kuat dan memasang anak-anak sapi jantan untuk menarik muatan. Anak-anak sapi jantan itu, terlihat tidak sebanding dengan beban yang diberikan kepada mereka, tidak menuruti dan berdiri tanpa bergerak, sehingga kereta itu tidak dapat digerakkan. Kembali Sang Guru mengungkapkan hal buruk akan terjadi pada masa mendatang, saat para raja bertindak jahat. Pada masa mendatang, para raja yang jahat dan kikir tidak akan menghormati orang-orang yang bijaksana, yang ahli dalam memberikan keputusan sesudah melihat contoh kejadian sebelumnya. Yang kaya akan gagasan yang tepat, dan mampu menyelesaikan masalah, mereka juga tidak akan menempatkan anggota dewan yang tua yang bijaksana dan ahli dalam hukum di pengadilan-pengadilan. Malahan mereka akan menghormati orang-orang yang sangat muda dan bodoh dan menunjuk orang orang seperti itu untuk memimpin di pengadilan-pengadilan. Mereka ini, yang tidak memiliki pengetahuan tentang masalah negara maupun pengetahuan yang berguna, tidak akan mampu menanggung beban kehormatan mereka ataupun menjalankan pemerintahan, tetapi karena ketidakmampuan mereka akan menghindari tanggung jawab. Sementara itu, mereka yang tua dan bijaksana, meskipun mampu mengatasi semua kesulitan itu akan mengingat bagaimana mereka diabaikan sebelumnya dan akan menolak untuk membantu, dengan mengatakan, 'Itu bukan urusan kami; kami adalah orang luar; biarkan anak-anak muda yang di dalam kelompok itu yang mengatasinya.' Karena itu, mereka akan menjauhkan diri dan kehancuran akan menyerang raja-raja itu dari berbagai sisi.

Dalam mimpi kelima, raja melihat seekor kuda dengan mulut di kedua sisi, sehingga makanan diberikan di kedua sisi dan kuda itu makan dengan kedua mulutnya. Mimpi ini diungkapkan Sang Guru sebagai kondisi yang akan terjadi pada masa mendatang, pada masa pemerintahan di bawah para raja yang jahat dan bodoh, yang akan menunjuk orang-orang yang jahat dan tamak menjadi hakim. Orang-orang yang hina ini, bodoh, memandang rendah pada kebaikan akan menerima sogokan dari kedua belah pihak saat mereka duduk di kursi pengadilan dan akan melayani korupsi ganda ini. Sama seperti kuda yang memakan makanannya dengan kedua mulutnya sekali makan.

Demikianlah Sang Guru menguraikan lima dari enam belas mimpi besar Raja Kosala bagaimana masa depan dunia akan berubah dengan kondisi kondisi buruk yang bakal terjadi. Mimpi-mimpi tersebut merupakan sesuatu yang buruk di masa depan jika saja tidak adanya upaya menambah kebajikan dan mencegah timbulnya perbuatan -perbuatan buruk. Kemudian Sang Guru melanjutkan keseluruhan enam belas mimpi besar itu. (l)

T#gs
Berita Terkait
Komentar
Komentar
Silakan Login untuk memberikan komentar.
FB Comments