Sabtu, 19 Okt 2019

Menjauhi Kejahatan

* Oleh: Upa. Madyamiko Gunarko Hartoyo ST MM
Sabtu, 16 Juli 2016 17:42 WIB
Meskipun Ajaran Buddha tampaknya sangat kompleks, namun sebenarnya cukup mudah. Ajaran Buddha hanya berintikan  tiga hal :

Sabbap?passa akaranam, Hentikan segala kejahatan,

Kusalassa upasampad?, Perbanyak Berbuat kebaikan,

Sacittapariyodapanam. Murnikan pikiran.

Ajaran Buddha mengacu hanya pada tiga hal tersebut saja. Jangan bingung terhadap banyak buku, ajaran, ajaran dari ajaran. Inti  sebenarnya hanya berada pada satu titik fokus tersebut yakni lenyapnya kejahatan, pengembangan perilaku yang baik dan pemurnian pikiran untuk terbebas dari penderitaan.

Pada sebagian orang, melakukan kejahatan merupakan sumber kenikmatan. Mereka bergembira dengan perbuatan jahatnya yakni senang telah berhasil mencuri barang orang lain tanpa perlu bekerja mendapatkan uang untuk membeli. Puas berhasil membohongi tanpa kewajiban tanggungjawab yang berat.
Menikmati keberhasilan menghabisi nyawa makhluk lain dan gembira dapat merasakan kenikmatan duniawi dengan perbuatan asusila ataupun makanan/ minuman yang dapat menimbulkan ketagihan dan sejenak melupakan rumitnya masalah duniawi.

Kenikmatan semu dari perbuatan jahat sering mengakibatkan manusia tersesat. Seseorang yang telah tersesat oleh perbuatan jahat akan semakin tunduk pada perbuatan jahat dan dipenuhi oleh pikiran-pikiran yang tidak baik. Setiap saat, pikirannya dipenuhi oleh hal hal buruk, tiada kenikmatan lain yang dapat menggantikan. Karena kenikmatan tersebut, seseorang selalu berpikir tentang cara-cara untuk berbuat jahat, dimana/ kapan dapat berbuat jahat dan mencari siapa lagi yang akan menjadi  korbannya.

Pertanyaan yang sering muncul berikutnya adalah mengapa manusia tunduk pada perbuatan jahat? Padahal kesenangan yang dirasakan hanya merupakan ilusi belaka. Seseorang berbuat kejahatan lebih dikarenakan terlambat menyadari bahwa perbuatannya kelak akan menimbulkan penderitaan sebagai akibat dari perbuatannya. Tanpa disadari, banyak diantara kita yang menanam buah penderitaan dan kesulitan bagi diri sendiri dan keluarga karena kegelapan bathin. Begitu banyak di antara kita yang berjalan tanpa arah, tanpa memikirkan apa yang telah dilakukan dan bagaimana akibat atau hasil perbuatannya.

Banyak penyebab yang mendorong rekan dan saudara kita melakukan kejahatan. Yang paling mendasar sebenarnya adalah karena keserakahan, kebencian dan kebodohan bathin. Keserakahan mengakibatkan seseorang ingin memiliki sesuatu melebihi batas kemampuannya sehingga timbul pikiran buruk mencuri, membunuh untuk menguasai milik orang lain dan menipu. Kebencian menimbulkan keinginan pikiran untuk mengalahkan, membunuh, menghancurkan barang dan nyawa orang lain. Dan karena kebodohan bathin, pikiran tertutup terhadap kesadaran diri untuk tidak melakukan kejahatan termasuk berbuat asusila dan makan/ minum bahan yang menimbulkan kecanduan dan hilangnya kesadaran diri.

Mangggala Sutta menyebutkan, menjauhi kejahatan merupakan salah satu berkah utama. Sebagai ilustrasi, melakukan kejahatan sebenarnya seperti orang yang akan melemparkan kotoran kepada musuh. Tanpa disadari, saat mengambil kotoran tersebut, sebenarnya kita telah mengotori tangan kita. Sebelum lemparan kotoran tersebut mengenai orang lain atau tidak, pada dasarnya diri kita telah kotor terlebih dahulu. Selanjutnya, jika lemparannya mengenai orang lain malah akan memperkeruh dan memperpanjang persoalan yang ada. Begitu pun dengan perbuatan jahat yang dilakukan, saat yang bersamaan kita sendiri sudah merasakan akibatnya, yaitu kita mengalami kegelisahan, sedih, marah dan suasana hati yang tidak menentu. Dan saat hasil perbuatan berbuah tentunya akan jauh lebih sakit lagi.

Kita perlu memperhatikan, menyadari dan mengatur apa yang akan kita lakukan untuk menjauhi kejahatan. Selama kita masih dalam proses kehidupan, kita akan terus menjalani akibat dan hasil dari apa yang telah kita lakukan. Dalam Dhammapada Bab VIII : 110 disebutkan, "Daripada hidup selama seratus tahun yang penuh dengan pikiran jahat dan pikiran yang tidak terkendali, lebih baik hidup satu hari yang penuh dengan perbuatan baik dan pikiran yang terkendali."  Di sini menunjukkan nilai/bobot perbuatan lebih penting daripada lamanya waktu kehidupan itu sendiri. Kalau nilai perbuatan positif dapat dipertahankan terus menerus, maka kehidupan akan menjadi semakin berharga dan bermakna.

Dengan pikiran yang terlatih memungkinkan kita menjauhkan diri dari perbuatan-perbuatan jahat. Segala bentuk kejahatan dimulai dari pikiran manusia. Oleh karena itu, perlu ditanamkan bahwa perbuatan baik dan buruk berasal dari pikiran. Bila pikiran dapat terkendali dengan baik, kita akan memiliki pengendalian diri dalam setiap perbuatan kita dan kita akan mendapat berkah kebahagiaan menjauhi kejahatan. (l)
T#gs
Komentar
Komentar
Silakan Login untuk memberikan komentar.
FB Comments