Jumat, 18 Okt 2019

Menghargai Kelahiran Sebagai Kesempatan

* Oleh : Upa. Madyamiko Gunarko Hartoyo
Sabtu, 03 September 2016 17:39 WIB
Di Nepal dekat perbatasan dengan India, tepatnya di daerah bernama Lumbini yang hingga saat ini masih asri lingkungannya tidak ada yang menyangka terlahir seorang bayi yang kelak menjadi Sang Buddha. Daerah Lumbini cukup jauh dari pusat kota Khatmandu (ibukota Nepal), jaraknya 10 jam perjalanan darat dan 15 jam perjalanan dari Delhi (Ibukota India).

Sesuatu yang terbaik bukan lahir pada sesuatu yang sudah terkondisi dengan baik sebelumnya. Bahkan kalau dapat digambarkan, saat ini daerah Lumbini masih seperti desa dengan banyak bangunan rumah seadanya dan lahan pertanian yang masih cukup mendominasi. Jalan beraspal bagus dan lebar serta deretan pertokoan kecil dari simpang gerbang masuk menuju Lumbini masih tidak dapat menutupi damai bahagianya suasana alam tanpa kemewahan Lumbini.

Menjadi berkah, kehadiran Agama Buddha bahkan sejak kelahiran Sang Buddha sebagai bukti awal mula perjalanan spiritual dapat ditemukan lokasinya oleh arkeolog dunia. Area tempat kelahiran Sang Buddha sangat jelas ditandai oleh Pilar Asoka, raja yang berkuasa di  anak benua India, dari apa yang sekarang disebut Afganistan hingga daerah Bangladesh termasuk India dan Nepal, 400 tahun setelah Maha Parinibbana Sang Buddha. Pilar tersebut masih berdiri gagah di depan Dewi Maya Temple, tempat dimana titik lahir Sang Buddha berada di dalamnya.

Perjalanan kaki sejauh 500 meter ke Dewi Maya Temple dari jalan utama karena area disterilkan dari segala jenis kendaraan  tidak terasa pegal ketika melihat langsung titik kelahiran Sang Buddha   yang dilindungi kaca dan beberapa batu tanda alam. Ada getaran keagungan yang dapat dirasakan melihat titik lahir ini, doa - doa Umat Buddha terwakili oleh kain, pita dan koin kecil yang ditinggal pengunjung di tempat ini sebagai wujud haru mereka seolah berhasil menyaksikan kelahiran Sang Buddha.

Di belakang Dewi Maya Temple, hati dan pikiran seolah dibawa sebuah kolam indah menyaksikan ketika Sang bayi calon Buddha yang sudah bersih saat kelahirannya karena tiada darah atau noda-noda lain yang melekat pada tubuhnya berdiri tegak dan berjalan tujuh langkah di atas tujuh kuntum bunga teratai ke arah Utara dan mengucapkan kata-kata sebagai berikut :

"Aggo 'ham asmi lokassa. jettho 'ham asmi lokassa.

settho 'ham asmi lokassa. ayam antima jati,

natthi dani punabbhavo."

Artinya :
"Akulah Pemimpin dalam dunia ini,akulah Tertua dalam dunia ini,
akulah Teragung dalam dunia ini, inilah kelahiranku yang terakhir,
tak akan ada tumimbal lahir lagi."

Kelahiran Sang Buddha perlu dimaknai bahwa kelahiran adalah kesempatan besar bagi kita untuk menguasai diri dan memimpin kehidupan di dunia karena kita diberikan kekuatan pikiran yang kuat. Terlahir di alam yang lebih rendah dari alam manusia seperti alam binatang, raksasa, hantu dan alam peta lainnya akan menghilangkan kemampuan meraih kesempatan kita untuk mengakhiri tumimbal lahir di alam manusia ataupun alam lebih rendah dari alam manusia. Di alam manusialah kita mempunyai kesempatan untuk menguasai diri dan pikiran untuk berpikir, berucap dan bertindak baik dan benar untuk terlahir di alam Dewa maupun alam Buddha seperti halnya Siddharta Gautama.  Mari kita renungkan syair-syair yang disabdakan Sang Buddha dalam kitab Dhammapada tentang Buddha (Buddha Vagga), yang terurai dalam18 bait syair, bunyi  bait 4 sebagai berikut :

Sungguh sulit untuk dapat dilahirkan sebagai manusia,
sungguh sulit kehidupan manusia,
sungguh sulit untuk dapat mendengarkan Dhamma,
begitu pula, sungguh sulit munculnya seorang Buddha.  

Alam manusia merupakan alam yang memiliki kondisi paling sempurna untuk berlatih diri, karena di alam manusia ini ada keseimbangan antara penderitaan dan kebahagiaan yang memungkinkan seseorang untuk melatih diri, sesorang tak mungkin bisa berlatih di alam neraka maupun alam peta, sebab terlalu menderita untuk itu. Sebaliknya alam dewa dan alam surga  menawarkan kebahagiaan yang begitu berlimpah sehingga tidak mendorong upaya melatih diri.  Dalam Nakhasikha Sutta, Buddha mengumpamakan kesempatan terlahir sebagai  manusia itu laksana  debu yang ada di ujung kuku Buddha dibandingkan dengan debu yang ada di permukaan bumi yang dilambangkan dengan kesempatan terlahir kembali di alam - alam rendah. Terlahir ke alam manusia adalah kesempatan yang sangat sulit, bersyukurlah di kehidupan ini kita telah mendapatkannya bahkan dengan disertai kesempatan luas mendengarkan Dharma dan membuktikan / mengetahui kemunculan seorang Buddha  yang sebenarnya sangat sulit diperoleh.Hal ini menjadi kesempatan emas untuk melatih diri mengakhiri kelahiran di alam manusia maupun yang lebih rendah lainnya. Sesulit kita lahir menjadi manusia, kesempatan memahami dharma juga tidak kalah sulitnya dan munculnya pengaruh seorang Buddha dalam satu kehidupan adalah modal besar memudahkan kita untuk melatih diri.

Dua puluh sembilan Vihara di area Lumbini yang dibangun dengan ciri khas masing masing negara menjadi tanda pengakuan  betapa besar rasa syukur yang perlu dimaknai sebagai manusia atas kelahiran manusia Buddha di dunia. Bahkan karena terlalu luasnya, untuk mengintari 29 Vihara di area seluas 22 km persegi ini kita perlu menyewa mobil untuk menyaksikan Buddha Dharma dapat diterima di berbagai Negara dengan ciri viharanya masing masing seperti vihara emas gaya Nyanmar, vihara oriental China, Vihara ala asal K Pop Korea, Vihara original Nepal dan India ataupun Sri Langka, Vihara kedamaian Jepang dan Vihara megah milik Jerman dengan patung patung theatrical perjalanan kehidupan spiritual Sang Buddha.

Bahkan Lumbini juga didukung keberadaan bandara internasional dan infrastruktur jalan yang terus dikembangkan. Walaupun terdapat di Negara Nepal, Lumbini dekat dengan perbatasan India di daerah Sunauli sejauh 20 menit perjalanan. Dan Kushinagar, kota Sang Buddha Maha Parinibbana/ wafat jaraknya 155 km dari Lumbini. Keberadaan Lumbini memberikan makna penting bagaimana kita menghargai kelahiran sebagai kesempatan. (r)

T#gs
Komentar
Komentar
Silakan Login untuk memberikan komentar.
FB Comments