Jumat, 18 Okt 2019

Menghadapi Celaan dan Fitnahan

Oleh Upasaka Rudiyanto Tanwijaya
Sabtu, 26 November 2016 18:32 WIB
Ada sebuah bait kalimat yang sangat inspiratif dalam Kitab Suci Dhammapada, yang berbunyi sebagai berikut:

"Janganlah menghiraukan omongan orang lain yang menyakitkan, jangan pula mengawas-awasi tugas yang telah maupun belum dikerjakan orang lain. Hendaknya memperhatikan apa yang telah dan belum dikerjakan oleh diri sendiri." (Puppha Vagga 50).

Dalam kehidupan nyata, sering kita jumpai ragam persoalan. Salah satunya adalah menerima kata-kata yang tidak bermanfaat dari orang lain, entah itu fitnah, celaan, kritikan, gosip, dan lainnya.

Umumnya, ketika menerima kondisi tersebut, muncullah beragam perasaan negatif, mulai dari kecewa, sedih, sakit hati bahkan dendam kesumat. Ada yang memendamnya sehingga pikiran menjadi terganggu. Ada yang reaktif dan langsung melampiaskannya. Kita banyak mendengar aksi kriminal hanya karena masalah sepele, yaitu kata-kata. Maka ada pepatah lama yang menyebutkan "lidah tidak bertulang" karena begitu gampangnya mengucapkan apa yang ada dalam benak pikiran.

Buddha pernah mengajarkan tentang "Delapan Kondisi Dunia", salah satunya adalah tak ada seorang pun di dunia ini, yang bisa menghindari pujian ataupun celaan. Bahkan seorang Buddha pun pernah mengalaminya. Bayangkan saja, seorang Buddha, yang memiliki timbunan pahala kebajikan yang tiada tara, masih menerima celaan ataupun fitnah. Tapi Buddha tidak bereaksi atas itu semua. Beliau tetap dalam kesadaran agung yang luar biasa.

Mahasthavira Nyanaprathama, seorang monastik Indonesia yang terkenal dengan gerakan Buddhis Amalan (Engaged Buddhism), dalam satu kali wejangannya, pernah berpesan. Jika ada yang mencela kita, anggaplah itu sebagai latihan untuk menyempurnakan diri bagi kita. Jika kita menerima fitnah, jadikan itu sebagai sarana latihan untuk tidak melakukan seperti apa yang difitnahkan. Bahkan, jika kita menerima pujian sekalipun, latihlah diri kita untuk mengembangkannya menjadi lebih baik, sehingga mendorong kebahagiaan bagi lebih banyak makhluk di alam kehidupan ini.

Tetaplah fokus pada tugas yang kita emban. Seiring waktu, kebenaran akan terkuak dan semua akan terjawab dengan sendirinya. Kita tidak perlu repot-repot untuk membalasnya karena itu akan menghabiskan banyak waktu. Sederhana saja bukan?

Dalam sejarah Buddhisme, tepatnya abad ke-17, pernah hidup seorang biksu bernama Ha Kuin, yang tekun dalam praktik Zen. Beliau memimpin sebuah komunitas yang terdiri dari para biksu dan masyarakat petani di Wihara Sho In Ji' di Hara, Jepang. Kalau fajar menyingsing, biasanya mereka turun ke perkampungan untuk mengumpulkan bahan makanan.

Satu ketika, seorang gadis muda di desa yang kerap dikunjungi Ha Kuin dan komunitasnya, didapati tengah hamil. Tak jelas siapa suaminya. Orangtua si gadis menjadi sangat marah dan mendesak puterinya untuk mengatakan siapa orang yang harus bertanggung jawab atas kehamilannya tersebut. Si gadis awalnya diam seribu bahasa. Namun karena ayahnya sudah murka, si gadis menyebut nama Biksu Ha Kuin, sebagai orang yang bertanggung jawab.

Jawaban si gadis segera menyebar ke seluruh pelosok. Semua masyarakat menjadi gempar bukan kepalang. Akibatnya, semua biksu dan masyarakat yang selama ini berada di bawah bimbingan Biksu Ha Kuin sontak meninggalkannya. Reputasi Biksu Ha Kuin hancur dan tinggallah ia sendiri di wiharanya. Meskipun demikian, beliau tetap tenang dan tekun berlatih diri.

Ketika gadis itu melahirkan, bayinya segera diserahkan ke Biksu Ha Kuin.  Beliau menerimanya dengan tenang dan bahkan merawat bayi tersebut dengan penuh kasih sayang. Setiap hari ia gendong bayi tersebut sambil berpindapatta. Lambat laun, masyarakat desa kagum atas apa yang dilakukan oleh si biksu.

Si gadis yang terus mengamati apa yang dilakukan oleh Biksu Ha Kuin, akhirnya tak tahan lagi. Ia mengaku bahwa sesungguhnya yang menghamili dirinya adalah laki-laki lain, bukan si biksu. Masyarakat desa pun kembali gempar. Orangtua gadis dengan penuh rasa malu, bergegas menjumpai Biksu Ha Kuin, dan memohon maaf serta berkeinginan untuk mengambil bayi itu kembali. Mendengar penjelasan dari orangtua si gadis, Biksu Ha Kuin hanya tertawa dan berkata,"Oh, begitu".

Singkat cerita, nama baik Biksu Ha Kuin dengan sendirinya pulih kembali dan kisah ini dikenang sebagai salah satu kisah teladan dalam sejarah perkembangan agama Buddha.

Dari kisah tadi, kita dapat memetik pelajaran, celaan atau fitnah adalah sebuah proses untuk melatih kesabaran kita. Jangan pernah membiarkan semua itu membuat bathin terguncangkan. Gunakan momen itu untuk memeriksa kembali diri kita. Jika memang benar, akuilah dan segera perbaiki diri. Jika tidak benar, abaikan saja.

Bagi orang bijaksana, justru celaan atau fitnah merupakan sebuah berkah, karena justru akan semakin mengasah permata bathin yaitu permata kesabaran, permata kerendah hatian, permata motivasi serta permata tekad kita.*(Penulis adalah Duta Dharma dan Pengurus Majelis Buddhayana Indonesia (MBI) Provinsi Sumut/ r)
T#gs
Komentar
Komentar
Silakan Login untuk memberikan komentar.
FB Comments