Minggu, 20 Okt 2019

Memahami Makna Tiga Perlindungan

* Oleh Upasaka Pandita Rudiyanto Tanwijaya (Dharmaduta Majelis Buddhayana Indonesia Provinsi Sumut)
bantors Sabtu, 12 Oktober 2019 15:50 WIB
Setiap kali mengikuti puja bakti, maka Paritta Trisarana atau Tisarana yang artinya Tiga Perlindungan, pasti akan selalu kita bacakan. Paritta ini terasa sederhana karena hanya menyatakan perlindungan kepada Buddha, Dharma dan Sangha. Tapi benarkah sesederhana itu?

Seorang senior yang merupakan praktisi spiritual pernah berucap bahwa pembacaan paritta Tiga Perlindungan ini demikian penting karena pada saat mengucapkannya, sesungguhnya kita bagaikan tengah melakukan sebuah kontrak spiritual dengan Buddha, Dharma, dan Sangha. Kontrak ini membutuhkan komitmen, integritas dan juga loyalitas. Sekali diucapkan, maka seketika itu pula kita sudah menjalin jodoh bathin dengan ketiganya.

Dalam perkembangannya, Maha Biksu Hui Neng mengembangkan makna Tiga Perlindungan menjadi lebih luas, dimana Permata Buddha diartikan sebagai sebuah Kesadaran Buddha. Dimana berlindung kepada Buddha, jangan terjebak kepada ornamen atau bentuk fisik yang justru menyeret kita pada penyembahan personal yang kurang begitu tepat. Tapi diartikan bahwa kita dapat berlindung kepada Kesadaran Buddha apabila kita bersedia menapaki Jalan Ke-Buddha-an. Dan menapaki jalan itu bukan hanya mau di bibir saja, tetapi harus didukung oleh semangat dan tekad yang kuat.

Kemudian, berlindung kepada Dharma, jangan hanya mengartikannya sebagai berlindung kepada ajaran atau lebih sempit lagi kitab suci yang berisi kotbah-kotbah Guru Buddha. Ini kurang tepat. Apa sesungguhnya yang diajarkan oleh Buddha, sehingga disebut Dharma? Ya, Kebenaran. Berlindung kepada Dharma, tak lain tak bukan adalah berlindung kepada Kebenaran. Kebenaran harus benar-benar kita pahami dan kita jalankan dalam kehidupan kita.

Dengan menghayati Kebenaran secara ikhlas dan serius, maka barulah timbulkan kebijaksanaan. Kita mungkin tidak memahami mengapa Pangeran Siddharta yang gagah tampan berani meninggalkan gemerlap istananya demi mencari obat penyembuh bathin manusia. Secara pengetahuan ini tidak terjelaskan malah kita anggap sebuah kebodohan. Namun dengan kebijaksanaan kita akan mengerti langkah yang diambil oleh Siddharta ini.

Lalu, berlindung kepada Sangha. Banyak umat awam mengartikan sempit bahwa seolah kita berlindung kepada biksu atau bhante secara personil. Ini juga kurang begitu tepat. Sangha merupakan simbol kemurnian atau kesucian. Kita berlindung kepada Kemurnian agar kita sendiri kelak menjadi termurnikan. Sebab hanya yang termurnikan bisa memiliki Kesadaran Buddha dan Pemimpin Kebenaran.

Dalam tradisi Theravada, pembacaan perlindungan ini sampai ke-tiga kali, dikarenakan bahwa yang namanya tekad perlu diucapkan lebih dari satu kali.

Jika ada banyak orang yang merasakan manfaat dari pembacaan Tiga Perlindungan ini secara langsung, tentu ini juga bukan kebetulan.

Jalinan afinitas atau jodoh dengan Para Buddha tentu akan memiliki dampak yang sangat baik. Ini sangat logis jika kita analogikan dalam kehidupan nyata. Misalnya, kita bergabung dengan sebuah komunitas yang sesuai dengan minat kita, misalnya, komunitas hidup sehat. Maka dalam komunitas ini, segala hal yang berkaitan dengan upaya menyehatkan diri akan menjadi fokus perhatian kita. Dengan banyak terlibat dengan rekan-rekan yang sepeminatan, maka yakinlah kita akan terus mengalami perkembangan.

Contohnya saja, kenalan kita bertambah lalu informasi atau wawasan kita bertambah, kegiatan yang spesifik dengan apa yang menjadi roh komunitas pun akan semakin rutin dilakukan, dan lainnya. Jika kita membutuhkan hal-hal yang relevan dengan komunitas, maka akan lebih mudah terpenuhi karena adanya jejaring (networking).

Sama juga dengan kita, menjadi bagian dari alam Dharma. Maka kita akan punya koneksitas dengan semua makhluk yang sekepentingan dan setujuan dengan kita. Ada dari mereka yang memiliki kekuatan khusus sehingga dikala kita mengalami kesusahan, sepanjang karma baik mendukung, mereka bisa saja datang menolong rekan sejawat mereka. Ini juga biasa terjadi di dalam kehidupan ini bukan ?

Yang terpenting, pahamilah dengan benar mengapa kita menyatakan berlindung kepada Buddha, Dharma dan Sangha. Pemahaman yang benar ini penting agar kita jangan anggap ini sebagai pelengkap ritual semata yang seolah punya makna biasa-biasa saja. (f)
T#gs
Berita Terkait
Komentar
Komentar
Silakan Login untuk memberikan komentar.
FB Comments