Minggu, 18 Agu 2019

Melepaskan Pakaian Kotor

* Oleh Upasaka Pandita Rudiyanto Tanwijaya
admin Sabtu, 20 Juli 2019 16:31 WIB
Ketika berlatih dalam praktik Ajaran Buddha yang terpenting diingat adalah harus fokus pada bagaimana latihan kita bisa mengalami kemajuan, bukan malah sibuk memikirkan apakah tujuannya sudah tercapai. Kalimat ini pernah diucapkan Guru Besar Zen, Maha Biksu Sheng Yen (1931-2009) dalam sebuah ceramah panjangnya pada tahun 1980-an.

Seperti perjalanan menuju sebuah kota dengan bus, tentunya yang diharapkan paling utama adalah bagaimana perjalanan baik, lancar dan tanpa halangan. Bahkan sering juga dalam perjalanan, kita mengecek posisi dimana kita berada, apakah masih jauh atau sudah dekat dari tujuan. Ini merupakan kondisi alami yang sering kita rasakan.

Padahal kota tujuan kita tetap berada dalam posisinya dan tidak akan pindah ke mana-mana. Benar demikian, bukan?

Kenyataannya adalah ketika kita berlatih, maka kita disibukkan dengan pikiran kita. Bahwa kita ingin mencapai kesucian. Sekian lama berlatih, yang terpikir adalah, apakah saya sudah mencapai kesucian? Atau malah kegelisahan, kok bathin saya begini-begini saja?

Jika sudah demikian, maka yang sering terjadi adalah berhenti berlatih dan mulai menyalahkan banyak pihak. Ini sama ketika bus kita mengalami bocor ban, maka kita hanya tahu menghujat pabrik pembuat ban. Kita bukannya berpikir bagaimana mengatasi ban yang bocor, dimana tukang tambal ban berada, dan bagaimana bisa ban kembali berfungsi. Justru ketika kita sudah memikirkan hal seperti ini, jauh lebih bermanfaat ketimbang kita menyalahkan siapa dan apa pun yang muncul dalam pikiran kita.

Prinsip latihan dalam Buddha Dharma adalah ibarat kita melepaskan pakaian kotor yang melekat dalam batin kita satu demi satu. Jangan terlalu banyak mendengar, karena itu hanya akan menambah kebingungan. Jangan pula terlalu sombong dan menganggap rendah yang lain, maka itu juga akan membuat praktik kita terhambat. Ini yang pernah disampaikan oleh Biksu Yung-Cia Hsuan-Chueh (618-907) yang hidup pada masa Dinasti Tang, dalam sebuah karya klasiknya berjudul "Senandung Pencerahan".

Ya, kita sedang mengenakan berlapis-lapis pakaian. Dan sayangnya, pakaian ini kotor. Maka dalam kehidupan ini, tugas kita bagaimana melepaskan satu demi satu pakaian ini, agar tidak membelenggu diri kita.

Pakaian ini ada yang bermerek keserakahan, kebencian, kebodohan, ketakutan, iri hati dan sebagainya. Yang paling tebal itulah yang harus kita lepaskan lebih dahulu. Jika tidak, maka beban akan semakin berat dan kita tidak leluasa.

Ketika kita masih kanak-kanak, untuk melepaskan baju pun kita harus dibantu oleh orang lain. Ketika sudah beranjak dewasa, kita bisa melakukannya sendiri. Ini menandakan bahwa untuk melepaskan pakaian pun butuh latihan, bukan langsung bisa.

Demikian pula halnya dengan pakaian kotor yang melekat dalam batin kita. Dharma menyajikan banyak metode buat kita untuk bisa melepaskan pakaian kotor pembelenggu batin ini satu per satu dengan baik.

Satu hal yang penting diingat bahwa latih diri bersifat pribadi, bukan untuk ditunjukkan kepada orang lain, apalagi untuk memperoleh puja-puji, karena itu hanya membuat makna latihan menjadi kecil dan kita bisa terjebak dalam arogansi. Dengan mempraktikkannya secara pribadi, justru fokus konsentrasi kita akan semakin lebih terjaga.

Ayo, kita berlatih dengan penuh semangat !! *(Penulis adalah Dharma Duta dan Pengurus Majelis Buddhayana Indonesia Provinsi Sumatera Utara/f)
T#gs
Berita Terkait
Komentar
Komentar
Silakan Login untuk memberikan komentar.
FB Comments