Rabu, 18 Sep 2019

Melampaui Ketidaksempurnaan

* Oleh Madyamiko Gunarko Hartoyo
admin Sabtu, 31 Agustus 2019 11:44 WIB
Sering sekali kita bisa merasakan orang sekeliling kita yang tampil mengesankan dan selalu bahagia. Mereka yang memasang wajah yang bahagia bukan karena kewajiban atau tugasnya serta tujuan memalsukan perasaannya, tapi kemampuan membuat yang terbaik dari situasi yang sulit serta menikmati keberadaan maupun pekerjaan sehingga tampak sangat bahagia tanpa tekanan.

Kita semua ingin menjadi seperti mereka yang luar biasa tersebut. Tetap merasakan kebahagiaan berkendara motor Honda usang ketika mobil ber AC menjadi pilihan terhindar dari panas terik dan dinginnya hujan. Tidak ada yang menjamin kebahagiaan ketika keinginan kita tercapai, kebahagiaan kita sering sekali tidak banyak berubah ketika memiliki lebih banyak uang, rumah yang lebih besar, pekerjaan yang lebih baik, atau mobil yang lebih baik. Hal-hal tersebut seolah hanya merupakan kertas pembungkus yang wujudnya berbeda, namun hadiah di dalamnya sama dan tidak pernah memuaskan.

Kebahagiaan hanya dapat diperoleh seseorang yang mampu membuka diri kepada orang-orang dan pengalaman baru dan memilih untuk tersenyum tanpa bergantung pada situasi hidupnya. Banyak alasan bagi kita untuk tetap bahagia melampaui ketidaksempurnaan yang senantiasa berada di antara kita.

Jika kita selalu menunggu hari esok untuk bahagia, kemungkinan besar kita tetap akan melakukan hal yang sama ketika telah mencapai apa yang diimpikan. Kemampuan untuk menghargai apa yang telah kita miliki tidak ada hubungannya dengan apa yang telah dimiliki. Namun, lebih terkait bagaimana kita mampu mengukur hal-hal baik dalam hidup kita pada waktu tertentu. Berlatihlah menginginkan apa yang telah kita miliki dan itu akan terasa lebih manis ketika akhirnya kita memiliki apa yang kita inginkan.

Menemukan alasan untuk bahagia setiap saat dapat bermanfaat bagi masa depan kita. Penelitian ilmiah juga mengungkapkan bahwa seseorang yang mengekspresikan emosi yang lebih positif menjadi lebih terfokus secara mental, memiliki pernikahan yang lebih sukses, dan menikmati kesejahteraan yang lebih besar. Emosi positif cenderung memperluas pemikiran, emosi negatif cenderung mempersempit dan menahan perkembangan. Ekspresi emosi yang stabil sepanjang hidup akan membawa kesuksesan pribadi dan sosial.

Perasaan bahagia dipercaya juga meningkatkan kesehatan, sesuatu yang memberi banyak kesempatan baik dalam hidup. Seseorang yang optimis sebagai wujud kebahagiaan memiliki sistem kekebalan yang lebih kuat daripada rekan-rekan negatif mereka, hal mana dikarenakan kecenderungan mereka untuk lebih memperhatikan diri mereka sendiri.

Jika kita belum belajar menikmati hal-hal kecil, kesejahteraan kita hanya akan sejajar dengan keadaan hidup yang ada, setiap kali ada yang salah, kita akan merasa sangat tidak bahagia.

Pikirkan tentang hal-hal yang membuat kita paling bahagia - habiskan waktu dengan hewan peliharaan, mendengarkan hujan dan berlari di pantai, misalnya. Fokus pada hal-hal kecil sekarang juga, dan biarkan mereka mencerahkan hari kita. Dengan cara itu, apa pun perubahan yang terjadi, kita akan tetap memiliki berbagai kesenangan sederhana.

Jangan terobsesi menjadi sempurna, jika bukan yang terbaik dalam sesuatu, tidak bisa tidur di malam hari, selalu tidak puas dan kecewa pada diri sendiri. Keinginan menjadi sempurna tidak akan mampu membuat kita menjadi lebih baik karena senantiasa muncul ruang kekecewaan untuk menjadi lebih baik. Lebih memuaskan untuk menetapkan dan memenuhi sasaran yang dapat dicapai, seperti berfokus lebih baik pada hal kecil, daripada terobsesi tentang kesempurnaan.

Kebahagiaan adalah tentang bagaimana kita menafsirkan apa yang ada di depan kita. Betapa bangga cara kita menjalani hidup, kesediaan untuk menikmati kesenangan sederhana, bahkan jika segala sesuatunya tidak sempurna. Menjadi bahagia tidak berarti segalanya sempurna. Kebahagiaan adalah saat kita memutuskan untuk melihat melampaui ketidaksempurnaan.

Sang Buddha mengungkapkan tidak hanya sebatas materi saja yang menjadi belenggu bagi kebahagiaan kita, namun beliau menjelaskan jauh lebih halus tentang sepuluh belenggu "samyojana" kehidupan ini yakni pandangan sesat tentang adanya pribadi, jiwa atau aku yang kekal, keragu-raguan terhadap ajaran kebenaran, kepercayaan tahyul, nafsu indriya, kebencian, keinginan tidak baik, kemelekatan atau kehausan untuk terlahir di alam tanpa bentuk, ketinggian hat, perasaan untuk membandingkan diri sendiri dengan orang lain, bathin yang belum seimbang dan kegelapan bathin.

Sepuluh belenggu tersebut merupakan penghambat upaya kita meraih kebahagiaan. Perjuangan kita untuk hidup sesuai ajaran Dharma sangatlah dipengaruhi kemampuan kita untuk memahami dan melepaskan diri dari belenggu-belenggu tersebut. Pada dasarnya belenggu-belenggu tersebut mengikat seseorang untuk bisa berhasil meraih kebahagiaan dalam kehidupan ini. (q)
T#gs
Berita Terkait
Komentar
Komentar
Silakan Login untuk memberikan komentar.
FB Comments