Senin, 13 Jul 2020

Renungan Buddha Dhamma

Manusia Sejati

Oleh Madyamiko Gunarko Hartoyo
redaksisib Sabtu, 02 Mei 2020 12:23 WIB
mabel

Ilustrasi

Saat wabah, kita banyak melihat orang secara sukarela mendedikasikan dirinya untuk membantu kaum lemah yang miskin informasi dan finansial untuk melindungi diri mereka. Saat orang-orang kesulitan mencari cairan desinfektan untuk mencegah terjangkit wabah, mereka mencari cara membuat cairan tersebut dan membagikan gratis ataupun memberikan pengetahuan tatacara membuat cairan desinfektan. Sumbangsih yang mereka berikan sangat beragam sesuai kemampuan mereka, di berbagai media sosial kita dapatkan orang-orang membagi masker ataupun makanan gratis serta sukarelawan membantu paramedis. Saat wabah seperti ini, dalam kondisi ekonomi yang semakin sulit dan resiko terpapar wabah, mereka yang secara sukarela memberikan kontribusi bagi orang lain sangatlah tepat disebut sebagai manusia sejati.

Manusia sejati (sappurisa) dapat merujuk pada orang suci atau seorang praktisi sejati yaitu, seseorang yang bercita-cita untuk bangkit dalam kehidupan ini. Dalam Sutta Sappurisa disebutkan bahwa manusia sejati muncul untuk kebaikan semua makhluk: keluarga, masyarakat, agama, dan bahkan para dewa. Sementara itu, dalam Dhammanna Sutta (A 7.64) disebutkan tujuh keterampilan yang dimiliki seorang individu sejati yakni dia tahu Dharma, tahu makna/tujuan Dharma; tahu dirinya, tahu mengatur masalah, tahu waktu, tahu kelompok dan tahu perbedaan individu .

Manusia sejati, sepatutnya adalah orang yang mengenal dirinya sendiri dan orang lain dan di atas segalanya, dia tahu realitas sejati, setidaknya dalam beberapa ukuran. Bahkan, dia adalah orang yang berkontribusi besar untuk kebaikan masyarakat umum.

Sappurisa Dana Sutta menguraikan lima kualitas dari pemberian manusia sejati dan manfaat yang mereka dapatkan yakni jika
seseorang memberi dengan keyakinan, ia akan menjadi sangat kaya, dan sangat cantik. Jika seseorang memberi dengan hormat, dia menjadi sangat kaya, dan keluarga serta pekerjanya mendengarkan dengan baik untuk dia, jika seseorang memberi pada waktu yang tepat maka dia akan menjadi sangat kaya, dan manfaat datang kepadanya di waktu yang tepat, dan berlimpah. Berikutnya jika seseorang memberi dengan hati yang ramah maka ia menjadi sangat kaya, dan dapat benar-benar menikmati kenikmatan indera dan jika seseorang memberi tanpa merugikan siapa pun, ia menjadi sangat kaya dan tidak kehilangan kekayaan dengan cara apa pun dikarenakan api, air,penguasa, pencuri, atau ahli waris yang tidak mencintai.

Memberi dengan keyakinan didefinisikan dalam (Sumana) Dana Sutta sebagai pemberian yang dilakukan dengan bahagia saat sebelum, selama dan setelah pemberian dan meyakini penerimanya adalah orang yang telah meninggalkan keserakahan, kebencian dan kebodohan, atau berlatih untuk mencapai hal tersebut. Pemberian seperti itu dikatakan membawa buah karma dari kekayaan, keindahan dan rahmat. Alasannya mudah untuk memahami, karena kita menjadikannya kebiasaan bahagia dalam tindakan kita. Hal ini memanifestasikan diri kita senantiasa sukacita dan memancarkan suasana yang sehat di sekitar diri kita serta akhirnya menarik teman-teman baik dan komunikasi yang efektif.

Seseorang yang memberi dengan hormat akan menjadi sangat kaya, dan keluarga serta pekerjanya mendengarkan dengan baik keinginannya. Dalam hal ini yang dimaksud, "hormat" (sakkacca) adalah memberi dengan hormat, yakni kita senantiasa berhati-hati pada diri kita sendiri, penerima dan pemberian. Sederhananya,kita harus memperhatikan/ berhati- hati dalam hal bagaimana kita memberi. Dalam Velama Sutta (A 9.20), Sang Buddha menjelaskan kepada Anathapindika bahwa sebenarnya bukanlah apa yang kita berikan yang diperhitungkan, tetapi bagaimana kita memberi dengan benar, yaitu memberi dengan hati-hati, memberi setelah beberapa pemikiran, memberi dengan tangan sendiri, tidak memberi seolah-olah membuang sesuatu dan memberi sehubungan dengan masa depan.Manfaat karma dari pemberian seperti hal tersebut adalah bahwa kita tidak hanya diberkati dengan kekayaan, tetapi juga kesempatan benar-benar menikmatinya, dan memiliki komunikasi yang baik dengan anggota keluarga dan rekan bekerja.

Karena kita menunjukkan rasa hormat yang besar ketika memberi sedekah, rasa hormat ini kemungkinan akan berlanjut ke dalam kehidupan kita sehari-hari, sehingga kita menikmati rasa hormat dari orang lain sebagai gantinya. Praktek ini sering kita lihat dari orang-orang yang memberi dengan badan membungkuk untuk memberi hormat kepada penerima.

Jika seseorang memberi pada waktu yang tepat, maka dirinya akan menjadi sangat kaya, dan manfaat datang kepadanya di waktu yang tepat dan berlimpah. Pemberian tepat waktunya diuraikan, diberikan kepada mereka yang baru tiba, diberikan kepada mereka yang kesulitan dalam perjalanan, diberikan kepada mereka yang sakit dan memberikan saat makanan sulit didapatkan dan saat panen pertama.

Jika seseorang memberi dengan hati yang ramah, makan dia akan menjadi sangat kaya dan mampu menikmati melalui semua indranya. Memberikan dengan ramah adalah memberi dengan pikiran terbuka berlandaskan belas kasih dan kemurahan hati. Pemberian dengan ramah digambarkan dengan pemberian tanpa noda kekikiran, kesenangan dalam memberi, pengabdian diri dan senang memberi andil.

Pemberian dengan baik dan benar akan memberikan manfaat berupa kerupawanan, kebahagiaan, kemashuran dan kekuatan dalam menjalani kehidupan ini. (c)
T#gs Madyamiko Gunarko HartoyoRenungan Buddha Dhammamimbar agama buddha
Komentar
Komentar
Silakan Login untuk memberikan komentar.
FB Comments