Senin, 13 Jul 2020

Renungan Buddha Dhamma

MELIHAT, MENGETAHUI DAN MEMAHAMI

redaksisib Sabtu, 18 April 2020 10:51 WIB
bsd.pendidikan.id

Ilustrasi

Istilah "Ehipassiko" adalah istilah yang sering kita dengarkan. Secara sederhana dapat diartikan sebagai ajakan Buddha untuk datang, lihat dan buktikan atas ajaran yang disampaikan-Nya. Bukan semata menerimanya secara membabibuta.

Yang perlu kita ketahui adalah ehipassiko bukan hanya sekedar untuk membuktikan secara emosional atau spontan. Tidak mudah membuktikan jika kita tidak memiliki pengetahuan dan pemahaman yang mumpuni.

Kita ambil contoh, apakah seorang petugas penyelidik dapat dengan mudah membuktikan sebuah pelanggaran tanpa ada bekal pengetahuan dan pengalaman yang dimilikinya atas pelanggaran atau sesuatu yang tak pantas untuk dilanggar? Tentu tidak, bukan?
Ehipassiko harus melalui proses, yaitu kita melihat, lalu mengetahui, dan kemudian memahami. Dengan ketiga proses ini, maka kita akan tumbuh menjadi siswa Buddha yang berkeyakinan kuat bukan sekedar percaya.

Banyak umat Buddha mengaku yakin pada-Nya namun pada kenyataannya masih hanya sebatas percaya, bukan yakin.
"Jika engkau berlindung kepada Buddha, Dharma, dan Sangha, perasaan takut, khawatir, dan cemas, tidak akan muncul." Demikian Buddha menegaskan (Samyutta Nikaya I, 220).

Apa yang disampaikan oleh Guru Buddha tentu bukan sekedar omongan manis belaka, tapi semua merupakan kebenaran buat kita sebagai siswa-Nya. Untuk bisa membuktikan, pahami dulu semua ajaran Buddha yang mengajarkan kita untuk senantiasa tidak melakukan perbuatan jahat, memperbanyak kebajikan dan menyucikan hati pikiran. Lakukanlah setiap saat, bukan sesuka hati kita saja.
Seseorang yang mengaku siswa Buddha harus menyatakan perlindungan kepada Buddha, juga Dharma dan Sangha. Perlindungan itu bukan bersifat pasif, artinya memasrahkan diri tanpa ada aksi untuk memperkuat pernyataan perlindungan tersebut.
Perlindungan yang diambil bersifat aktif, artinya ada kandungan perbuatan yang harus kita lakukan agar kita sendiri kelak menjadi Buddha itu sendiri.

Dalam Tradisi Mahayana, perlindungan kepada Buddha, Dharma, dan Sangha disertai dengan arahan yang lebih spesifik.
Berlindung kepada Buddha artinya kita mengerti jalan ke-Bodhi-an dan mampu membangkitkan semangat yang tak terbatas.

Berlindung kepada Dharma, kita diminta untuk menghayati dan juga mengamalkan ajaran Buddha, agar kebijaksanaan yang kita miliki (yang selama ini terpendam) dapat terbuka bagaikan samudera luas. Sedangkan berlindung kepada Sangha, kita diharapkan dapat menjadi pemimpin dalam Buddha Dharma, dalam arti memiliki kemandirian dalam menghadapi permasalahan kehidupan.
Jadi kalau dari makna Trisarana tersebut, kita dituntut untuk terus berlatih dan terus berlatih. Sampai kapan? Tentunya sampai kita menjadi Buddha.

Nah, dalam proses pelatihan tersebut, kita akan banyak mengalami apa yang diajarkan oleh Buddha, merasakan apa yang selama ini telah dialami oleh Buddha. Jadi semua yang dikatakan dan diajarkan oleh Buddha bukan kata-kata belaka, tetapi terjadi dekat sekali dengan kehidupan kita.

Jika demikian, maka ajaran Buddha telah menyatu dengan pengalaman, sehingga bukan sekedar hiasan kalimat indah untuk dihapalkan. Tetapi benar-benar menjadi pedoman untuk kita, yang pasti akan berujung pada satu tujuan: Pembebasan! (c)
T#gs Renungan Buddha Dhammamimbar agama buddha
Komentar
Komentar
Silakan Login untuk memberikan komentar.
FB Comments