Rabu, 19 Jun 2019

Lepas dari Menang dan Kalah

* Oleh Madyamiko Gunarko Hartoyo
admin Sabtu, 04 Mei 2019 19:18 WIB
Selama tujuh bulan lamanya kita telah menjalankan kehidupan berbangsa yang melelahkan. Pertengkaran menjadi tontonan kita setiap hari bahkan tidak jarang di antara kita terlibat di dalamnya. Banyak pertengkaran dalam kehidupan sosial masyarakat termasuk dalam keluarga, bahkan pertengkaran juga terjadi dalam kehidupan umat beragama. Hal tersebut sangat ironis karena sebenarnya sangat jauh dari ajaran agama itu sendiri. Kita tentu semuanya setuju bahwa setiap ajaran agama mengajarkan nilai-nilai cinta kasih, belas kasih, kebajikan dan juga menjauhi segala bentuk kejahatan baik dari perkataan, perbuatan bahkan memiliki pikiran jahat saja sudah tidak benar adanya. Semestinya umat beragama dapat menjaga diri dan memiliki rasa malu dan takut berbuat buruk atau melakukan pertengkaran yang pastinya hanya didasarkan pada ketidaktahuan, tanpa melihat bahaya dari pertengkaran.

Ajaran Buddha sendiri memberi nasihat tentang pentingnya kerukunan hidup. Sangatlah penting agar setiap orang saling dikenang, saling mencintai, saling dihormati, saling menolong, memiliki kepedulian, menjaga keutuhan persatuan yang sering kita generalisasi dalam kalimat semoga semua makhluk berbahagia. Setelah selesainya pemilihan presiden bahkan sebelum itupun, kita tetaplah harus mawas diri dalam berhubungan dengan lingkungan baik di dunia nyata maupun dunia maya. Hitunglah sudah berapa banyak kawan kita yang disakiti karena arogansi pada pilihan kita yang belum tentu benar adanya karena kurangnya pengetahuan kita. Yang tepat diperhatikan adalah dalam setiap tindakan, ucapan dan pikiran harusnya senantiasa disertai cinta kasih terhadap sesama.

Setelah pilpres selesai, jagoan kita pastilah ada yang menang ataupun kalah tapi yang lebih penting adalah apakah kita telah memenangkan lebih banyak kawan lagi ataukah justru sebaliknya banyak yang menjadi lawan. Saat ini, setelah direnungkan lebih mendalam akhirnya kita sadari ternyata ada hal tertentu yang tidak perlu dipertaruhkan karena bedanya pilihan. Berangkat dari hal tersebut, jadikan perjalanan masa lalu menjadi pengalaman berharga agar bijaksana dalam berucap, bertindak dan berpikir. Berpikir baik berarti bebas dari kebencian, mempertimbangkan buruknya kebencian dan manfaatnya membuang segala bentuk kebencian.
Kebencian membatasi dan cinta kasih membebaskan. Kebencian bersifat menghasut sedangkan cinta kasih bersifat menenteramkan.
Kebencian akhirnya menimbulkan penyesalan, cinta kasih senantiasa menghasilkan kedamaian dan ketenteraman hidup. Kebencian akan memecah belah kita, cinta kasih melembutkan dan menyejukkan hati nurani. Mereka yang dapat memahami dengan benar dan menyadari akibat dari kebencian dan manfaat cinta kasih, akan memiliki keberpihakan pada pengembangan cinta kasih.

Marilah jadikan Pilpres cermin menjalani masa depan yang lebih baik, dengan semakin memperkokoh diri dengan bertindak baik, berperilaku baik, jangan berbohong dengan menyebar hoaks, berbicara benar, mengendalikan ucapan, tidak menipu, tidak menghasut sebagai provokator, tidak menyebarkan ujaran kebencian yang dapat memecah belah serta menimbulkan pertengkaran.
Yang tidak kalah penting adalah juga berpikiran baik, terkendali dalam berpikir: bebas dari pikiran hawa-nafsu, yakni jangan berpikiran serakah, benci dan egois. Jadilah seseorang yang hidup dalam kedamaian tanpa memiliki musuh, karena musuh terbesar ada dalam dirinya telah ditaklukkan yaitu keserakahan, kebencian dan keegoisan. Sehingga tercipta keutuhan dalam kehidupan bangsa kita.
Cerita pada masa kehidupan Sang Buddha Gotama berikut dapat menjadi refleksi bagi kita. Tersebutlah pada suatu masa, Sang Buddha menasehati seorang bhikkhu yang keras kepala dan suka bertengkar dengan sesama bhikkhu. Siapapun yang memendam kebencian di dalam dirinya dengan berpikir bahwa ia telah memukulku, ia telah mengalahkanku, bahkan ia telah merampas milikku, maka kebencian tidak akan lenyap dalam benak hatinya. Lebih lanjut Sang Buddha menguraikan, bahwa di dunia ini, kebencian hanya dapat dilenyapkan dengan cinta kasih, ini adalah kebenaran abadi. Mengapa masih ada orang-orang yang menyukai pertikaian? Karena masih banyak orang tidak mengerti bahwa kita dapat binasa di dunia akibat dari pertikaian. Ia yang memahami kebenaran ini, akan berusaha melenyapkan segala pertikaian. Kemenangan menimbulkan kebencian, orang yang kalah hidup menderita, setelah dapat melepaskan diri dari kemenangan dan kekalahan, orang yang damai akan hidup bahagia. (q)
T#gs
Berita Terkait
Komentar
Komentar
Silakan Login untuk memberikan komentar.
FB Comments