Rabu, 19 Jun 2019

Lahan Yang Baik

* Oleh : Upa. Madyamiko Gunarko Hartoyo
admin Sabtu, 06 April 2019 22:18 WIB
Hidup ini ibarat kita menanam di sebuah lahan untuk di kemudian hari kita memetik hasil. Siapapun kita tidak akan terlepas dari hukum karma sebagaimana yang diuraikan Sang Buddha. Apa yang kita tanamkan dalam keluarga, tempat kerjaan dan lingkungan suatu ketika kita akan memanen hasilnya.

Namun perlu dipahami kadang hasil yang kita inginkan bisa saja tidak sesuai keinginan sebagaimana dijabarkan Sang Buddha dalam AN8.34 bahwa sebutir benih yang ditanam di sebuah lahan yang memiliki delapan faktor tidak akan menghasilkan buah berlimpah, buahnya tidak lezat, dan tidak menghasilkan keuntungan.

Delapan faktor tersebut yakni ada banyak gundukan dan parit di lahan itu, banyak batu dan kerikil, mengandung garam, tidak dibajak cukup dalam, tidak ada jalan masuk bagi air untuk mengalir, ataupun tidak ada jalan keluarnya, tidak ada saluran irigasi dan tidak ada batas pinggir. Sebutir benih yang ditanam di sebuah lahan yang memiliki kedelapan faktor ini tidak akan menghasilkan buah berlimpah, buahnya tidak lezat, dan tidak menghasilkan keuntungan.

Demikian pula kehidupan sehari-hari secara tidak langsung kita membuang waktu dan tenaga kita untuk hal yang tidak bermanfaat sehingga pada masanya tidak ada buah yang dapat kita panen sebagai bekal kita. Kegagalan kita tersebut tidak lain dikarenakan pandangan salah, kehendak salah, ucapan salah, perbuatan salah, penghidupan salah, usaha salah, perhatian salah dan konsentrasi salah.

Bagaimana kita mendapatkan kesehatan yang baik jika kita tidak menanam kebiasaan hidup sehat karena pandangan yang salah. Tidak pula kita mampu merubah orang sekeliling kita ke jalan yang baik dengan ucapan kita yang salah caranya karena untuk hal tertentu perlu cara penyampaian yang lebih baik memperhatikan waktu dan situasi. Penghidupan yang salah bagi seseorang pada hakekatnya juga membatasi perkembangan dirinya memetik hasil yang lebih baik. Kadangkala kita menjalankan rutinitas kita yang pada dasarnya tidak selalu benar untuk jangka panjang. Contoh sederhana menjual minuman keras ataupun bekerja di hiburan malam yang lambat laun sebenarnya mengurangi nilai kesehatan dan kesempatan diri berkembang.

Ibarat lahan yang tidak dibantu pengairannya, sering sekali juga kita tidak mendapatkan hasil yang baik dari usaha kita. Walaupun usaha kita maksimal tapi dilakukan dengan cara yang salah juga akan sia sia. Sering sekali seseorang ingin berhasil dengan menjatuhkan orang lain yang pada akhirnya tidak mendapat kepercayaan orang lain dan dukungan luas karena kehilangan teman teman dekat.

Percayalah ketika lahannya baik dan benih yang ditanam juga baik dan ada curah hujan yang cukup, maka hasil panennya juga baik. Kesehatannya baik, pertumbuhannya baik, kematangannya juga baik dan buahnya sungguh baik.

Jika seseorang menginginkan kebaikan perlu dirinya menyempurnakan dengan mendatangi mereka yang sempurna dalam kebijaksanaan dengan demikian kesempurnaannya akan berkembang. Seseorang yang sempurna dalam pengetahuan sejati dan perilaku, setelah memperoleh kesempurnaan pikiran, melakukan perbuatan yang sempurna dan menyempurnakan yang baik.

Setelah mengetahui dunia ini sebagaimana adanya, seseorang akan mencapai kesempurnaan dalam pandangan. Seseorang yang sempurna dalam pikiran maju dengan mengandalkan kesempurnaan dalam sang jalan. (l)
T#gs
Berita Terkait
Komentar
Komentar
Silakan Login untuk memberikan komentar.
FB Comments