Minggu, 16 Jun 2019

Ketakutan Terbesar

Oleh : Madyamiko Gunarko Hartoyo
admin Sabtu, 27 April 2019 20:33 WIB
Banyak di antara kita yang mengalami ketakutan sebelum kematiannya, hal ini lumrah terjadi. Namun pertanyaannya adalah mengapa hal itu terjadi,? Hal ini terjadi disebabkan karena adanya "Kamma Nimitta" yaitu munculnya bayangan atau gambaran perbuatan yang telah diperbuat semasa hidupnya. Dengan demikian, apabila perbuatan kebajikan seseorang lebih dominan maka hal itu akan membuat ketenangan dan kedamaian pada dirinya, berbeda jika perbuatan buruk yang dimilikinya lebih dominan maka ketakutan sudah pasti akan jelas ia rasakan.

Selain Kamma Nimitta, masih ada lagi yaitu "Gati Nimitta" yakni terkait munculnya bayangan atau gambaran tempat kelahiran selanjutnya yang akan dihadapinya, baik tempat yang baik (Surga) atau yang buruk (Neraka). Tergantung yang lebih dominan mendorong munculnya yang baik atau tidak, jika baik maka gambaran kelahiran atau tempat kelahiran yang membahagiakan akan ia rasakan, demikian juga sebaliknya.

Kemudian masih ada lagi yaitu "Asanna Kamma" perbuatan yang dilakukan seseorang menjelang kematian baik melalui pikiran, ucapan ataupun perbuatan jasmani menentukan kehidupan setelah kematian seseorang. Para keluarga sangat dianjurkan tidak ada salahnya menuntun anggota keluarganya untuk melakukan hal-hal yang positif, seperti; melafalkan kata "Buddho" atau bisa juga dituntun untuk membacakan Paritta, atau juga bisa mengundang para Bhikkhu/Samanera untuk membacakan Paritta Mangala. Tujuannya agar dapat membantu dalam mengkondisikan pikiran- pikiran yang positif muncul di dalam dirinya, karena akan sangat berpengaruh terhadap proses kematian dan proses kelahiran kembali.

Kita perlu memanfaatkan dengan baik kehidupan saat ini, karena terlahir menjadi manusia sekarang ini merupakan sebuah keberuntungan. Terlahir menjadi manusia bukanlah hal yang mudah dan bertahan hidup pun juga bukanlah hal yang mudah.
Seseorang tidak akan pernah tahu kapan kematiannya datang dan kematian tidak akan pernah bisa diajak kompromi sesuai dengan keinginan. Persiapkanlah mulai dari sekarang, hanya kebaikan dan kebajikan yang telah diperbuat yang dapat membantu mengkondisikan kebahagiaan. Rubahlah cara hidup dengan hal-hal yang positif, jangan sampai terlambat dan jangan sampai menyesal di kemudian hari.

Di dunia ini ia bahagia, di dunia sana ia berbahagia; pelaku kebajikan berbahagia di kedua dunia itu. Ia akan berbahagia ketika berpikir, " Aku telah berbuat bajik", dan ia akan lebih berbahagia lagi ketika berada di alam bahagia (Dhammapada Yamaka Vagga I-18). Berbuat baik untuk menimbun kebajikan tidak akan merugikan seseorang, sebab seperti apapun banyaknya harta materi yang dimiliki itu semua tidak akan bisa menjamin (Nidhikanda Sutta) kehidupan seseorang.

Buddha menguraikan kehidupan tidaklah pasti hanya kematianlah yang pasti. Dari uraian tersebut dapat direnungkan bersama bahwa kehidupan hendaknya jangan dianggap sebagai tumpuan yang abadi. Ketika seseorang berpikir dan semakin melekat terhadap sesuatu yang ada di sekelilingnya maka sama saja ia akan menjerat penderitaan bagi dirinya sendiri.

"Dunia ini terselubung kegelapan, dan hanya sedikit orang yang dapat melihat dengan jelas. Bagaikan burung-burung kena jerat, hanya sedikit yang dapat melepaskan diri; demikian pula hanya sedikit orang yang dapat pergi ke alam surga."
(Loka Vagga XIII-174) (d)
T#gs
Berita Terkait
Komentar
Komentar
Silakan Login untuk memberikan komentar.
FB Comments