Jumat, 18 Okt 2019

Kematian adalah Pasti

* Oleh: Upa. Madyamiko Gunarko Hartoyo
Sabtu, 29 Oktober 2016 12:24 WIB
Tidak di langit, di tengah lautan, di celah-celah gunung, atau dimanapun juga, dapat ditemukan suatu tempat bagi  seseorang untuk dapat menyembunyikan diri dari kematian. (Dhammapada- Papa Vagga,128)

Secara keseluruhan, perjalanan napak tilas penulis ke tempat peristiwa penting kehidupan Sang Buddha di India memberi kenangan luar biasa berharga. Bukan hanya dikarenakan dapat melihat situs bersejarah Sang Buddha namun pengalaman selama perjalanan membalutnya menjadi luar biasa. Mobil kehabisan bensin, kemacetan lalu lintas,  jalan tidak bisa dilewati karena banjir dan jalan tol dihadang pendemo persis di depan mobil mungkin paket yang cukup lengkap bisa dirasakan dalam satu perjalanan. Setuju ini pengalaman luar biasa?

Masih belum lengkap, perjalanan menuju Kushinagar, tempat Sang Buddha mangkat juga tidak kalah mendebarkan. Saat memasuki Sunauli, tempat perbatasan India dan Nepal luar biasa menegangkan. Sunauli yang terletak sekitar 40 menit perjalanan mobil dari tempat kelahiran Sang Buddha di Lumbini (Nepal) ternyata berbeda jauh kondisi jalannya dengan Lumbini yang lumayan bagus jalannya. Jika naik mobil di jalan rusak saja sudah menyiksa, jangan terkejut kita harus berjalan kaki memasuki imigrasi Sunauli sejauh 300 meter jalan berlumpur dan berbatu. Bayangkan bagaimana repot membawa koper yang terpaksa diangkat karena tidak dapat ditarik di jalanan berbatu serta ditemani debu beterbangan. Jangan pernah juga membayangkan sesampainya di kantor imigrasi untuk stempel paspor kita dapat menyejukkan diri di ruang ber AC, karena meja imigrasi hanya berupa dua meja kantor tua dengan kebanyakan petugas yang memakai pakaian bebas serta bangunan tua yang tidak jauh beda dengan rumah toko.

Selepas imigrasi, begitu menyenangkan ternyata mobil yang disewa secara online di internet luar biasa bersih dan nyaman ber AC serta masih baru mobilnya. Namun, ternyata tetap saja tidak nyaman. Tahu kenapa? Supirnya suka tertidur saat membawa mobil dan beberapa kali hampir menabrak penggendara lain sampai harus diminta berhenti tidur sejenak walapun supirnya tetap bersikeras masih bisa menjalankan mobilnya dengan baik.

Akhirnya, rombongan harus tiba malam hari di Kota Kushinagar yang seharusnya hanya terletak 5 jam perjalanan dari Sunauli namun ditempuh dalam waktu 7 jam. Karena malam, mencari sesuatu menjadi lebih sulit. Dua Hotel yang dipesan  secara online di internet ternyata tidak dapat dijumpai dan telepon yang tertera juga tidak dapat dihubungi. Sampai akhirnya disadari, ternyata hotel pertama memang tidak pernah ada dan hotel yang satu lagi sudah berganti nama dan dipakai untuk menipu. Bagaimana? Sudah setuju ini merupakan perjalanan yang luar biasa untuk menjadi pengalaman berharga?.

Esok hari, segalanya terobati saat mengetahui menjadi pengunjung pertama di Kushinagar di pagi hari mendapat perlakuan khusus. Sebagai pengunjung pertama, rombongan berhak berdoa tepat di telapak kaki patung Buddha mangkat. Satu persatu sambil jongkok, rombongan berenam masuk ke pintu kaca kecil dan setinggi 1 meter kemudian berdoa di dalam ruang kecil dekat telapak kaki tersebut.

Rangkaian perjalanan yang tak terduga menyempurnakan perenungan makna mengunjungi tempat mangkatnya Sang Buddha. Kita tidak pernah tahu segala sesuatu itu kapan terjadi, segala hal yang kita anggap bisa berjalan dengan baik ternyata tidak sepenuhnya sesuai harapan. Sama halnya dengan kematian yang tidak pernah kita tahu kapan menghampiri diri kita.

Secara tidak sadar kita merasa masih bisa hidup lebih lama sehingga kita tidak waspada terhadap hadirnya kematian, yang dapat datang dalam waktu yang tidak terduga. Berapa banyak di antara kita yang merasa akan menghadapi kematian esok hari ataupun paling tidak dua tahun yang akan datang? Sama sekali tidak ada yang pernah memikirkannya kecuali bagi mereka yang sedang melawan ganasnya penyakit yang dideritanya.

Kenapa hal tersebut terjadi? Karena kita lebih mencintai kehidupan daripada kematian,  kita tidak dapat menerima kematian sebagai kebenaran yang menyakitkan dan lebih memilih mencintai kehidupan walaupun merupakan kebohongan yang bentuknya indah. Sesungguhnya kita tidak perlu menolak kematian sebagai kebenaran karena kita semua akan mengalaminya. Sang Buddha mengatakan bahwa "hidup tidak pasti, kematian adalah pasti". Kita sudah terlanjur lahir, maka kita tidak akan terlepas untuk mengalami usia tua, sakit dan kematian.

Oleh karena itu berusahalah untuk membebaskan diri dari nafsu kesenangan-kesenangan indera dan nafsu terhadap tubuh jasmani. Perbanyak melakukan kebajikan dan selalu bersemangat dalam belajar dan praktik dhamma dalam kehidupan sehari-hari sehingga akan memiliki keyakinan yang kokoh kuat terhadap Buddha Dhamma. Sehingga kita tidak akan menjadi takut dan cemas terhadap kematian namun sebaliknya kita akan lebih siap menghadapinya dengan kualitas kebajikan yang lebih baik. (c)
T#gs
Komentar
Komentar
Silakan Login untuk memberikan komentar.
FB Comments