Senin, 13 Jul 2020

Renungan Buddha Dhamma

Kekuatan Pasangan yang Setia

Oleh Madyamiko Gunarko Hartoyo
redaksisib Sabtu, 27 Juni 2020 12:19 WIB
PNGEgg

Ilustrasi

Dahulu kala, Raja Brahmadatta memiliki seorang putra yang bernama Sotthisena. Ketika ia dewasa, raja menjadikannya sebagai wakil raja. Permaisurinya saat itu bernama Sambula, yang sangat cantik dan diberkahi dengan rupa yang demikian berseri sehingga terlihat seperti cahaya yang bersinar di tempat yang terlindungi. Suatu saat penyakit lepra menyerang Sotthisena dan para tabib tidak mampu mengobatinya, dan ia menjadi orang yang sangat menjijikkan sehingga dalam keputusasaannya, ia memilih mati tanpa seorang teman pun di dalam hutan.

Sambula ikut bersamanya, setiap hari masuk ke dalam hutan menyiapkan kebutuhan makan dengan mengumpulkan buah dan sayur dari hutan dan membersihkan kepala, punggung, dan kakinya serta kebutuhan lain suaminya. Suatu hari, ketika Sambula membawa buah dari dalam hutan, sesosok asura yang sedang berkeliaran mencari mangsa melihat dirinya dan menjadi jatuh cinta kepadanya.

Mengingat hal tersebut, Sambula menjelaskan dirinya sedang menjaga suaminya yang sedang terbaring lemah menantikan makanan.
Namun Asura tetap menggoda dan merayunya, hingga mengancam jika menolak untuk menjadi istrinya, maka Sambula akan menjadi mangsa dan disajikan sebagai santapan untuk sarapan. Sambula meyakini tidak ada penderitaan baginya jika harus menjadi mangsa dari raksasa yang penuh dengan kebencian Asura, melebihi penderitaan baginya jika suami terkasih harus berpisah dengannya.

Sementara itu di kediaman Sakka, raja para dewa tergoyang oleh ketaatan dari sila Sambula, takhta marmernya yang berwarna kuning mengeluarkan tanda panas. Sakka mencari tahu dan menemukan penyebabnya, dan ia datang dengan segala kecepatannya memperingatkan asura jika memakan Sambula maka kepalanya akan pecah tujuh bagian karena Sambula adalah seorang istri yang setia.

Mendengar ini, sang Asura melepaskan Sambula. Dewa Sakka mengikat tubuh asura dengan rantai dewa dan melepaskan dirinya di gunung ketiga dari sana sehingga tidak mungkin kembali lagi. Setelah memberikan nasihat kepada Sambula, Sakka kembali ke kediamannya. Setelah matahari terbenam, putri itu sampai di tempat pertapaan tersebut dengan bantuan sinar bulan.

Kemudian ia menceritakan semuanya kepada suaminya Sotthisena. Ia ditangkap Asura hingga Dewa Sakka datang dengan batu permata di tangannya dan berdiri melayang di udara mengancam. Asura dan membebaskan dirinya. Sotthisena yang mendengar ini, di luar dugaan menyampaikan sulit untuk mengetahui kebenaran dari para wanita karena di daerah pegunungan Himalaya terdapat banyak pemburu, petapa, dan pesakti, tidak satu siapa yang harus dipercayai.

Mendengar perkataannya ini, Sambula berkata dengan penuh keyakinan bahwa walaupun tidak mempercayai dirinya, tetapi dengan kekuatan dari kebenaran Sambula akan membuktikan akan menyembuhkan suaminya. Maka setelah mengisi sebuah cangkir dengan air dan membuat pernyataan kebenaran, Sambula menuangkan air tersebut di atas kepala suaminya dan mengucapkan bait berikut: "Semoga kebenaran menjadi pelindungku, seperti saya yang mencintaimu melebihi siapa pun. Semoga dengan kebenaran ini, penyakitmu tersembuhkan hari ini juga."

Ketika ia telah membuat pernyataan kebenaran tersebut, tak lama setelah air dituangkan ke kepala Sotthisena, penyakit lepra itu hilang dari diri suaminya seperti karatan tembaga yang tercuci bersih di dalam larutan asam. Setelah tinggal beberapa hari, mereka kembali ke Benares.

Mendapat kabar tentang kedatangan mereka, raja pergi ke taman. Di sana raja meminta agar payung kerajaan dialihkan kepada Sotthisena dan memberi perintah bahwa Sambula, dengan pemberkatan harus dinaikkan kedudukannya menjadi ratu utama.

Beberapa waktu berlalu, Sotthisena hanyalah sekedar menganugerahkan Sambula kedudukan sebagai ratu utama, tidak ada kehormatan yang diberikan kepada dirinya dan ia mengabaikan keberadaannya, bersenang-senang dengan wanita-wanita lain. Dikarenakan rasa cemburu kepada para saingannya, Sambula menjadi semakin kurus dan pucat, dan urat-uratnya terlihat timbul di badannya.

Suatu hari ketika ayah mertuanya datang melihat Sambula dalam keadaannya yang lemah tersebut, ia mempertanyakan dari mana datangnya masalah yang menyebabkan kecemasan diri Sambula. Ketika mendengar penjelasan Sambula, ayah mertuanya memanggil Sotthisena dan mengingatkan kekuatan dari kebenaran Sambula telah menyembuhkan penyakitnya dan suatu perbuatan pengkhianatan kepada seseorang seperti itu adalah sebuah perbuatan salah, dan memberi nasehat berikut "……Seorang istri yang penuh kasih sayang sulit ditemukan, begitu juga halnya dengan seorang suami yang baik kepada istrinya. Istrimu adalah orang yang bajik dan penuh kasih sayang; Wahai raja, setialah kepada Sambula."

Ketika ayahnya pergi, raja memanggil Sambula dan meminta maaf dan menganugerahkan semua kekuasaan kepada dirinya. Mulai saat itu, pasangan tersebut hidup bahagia bersama dan setelah kehidupan yang dilaluinya dengan berdana dan berbuat kebajikan, mereka pergi menuai hasilnya sesuai dengan perbuatan masing-masing.

Cerita Sambula Jataka tersebut mengingatkan kita bahwa mencintai pasangan hidup dan keluarga merupakan satu dari tigapuluh delapan berkah yang disebutkan dalam Manggala Sutta. Kesetiaan ibarat pancaran energi, aura positif yang berasal dari keluarga harmonis akan memberikan kekuatan dalam berbagai menjalani kehidupan, sehingga setiap hal yang dilakukan dapat membawa kebaikan. Kehadiran Dewa Sakka saat menyelamatkan Sambula yang setia dari godaan Asura mengilustrasikan kepada kita bahwa sebagai pasangan hidup yang setia sejatinya akan mendapat kemudahan untuk menyelesaikan persoalan dalam keluarganya dengan bantuan dari para dewa dan Bodhisattva. Kesempurnaan kebahagiaan sebagian besar merupakan berkah dari keluarga yang dibangun dari kesetiaan dan keharmonisan. Dengan keluarga harmonis, apa pun hal yang kita jalankan, akan selalu memiliki nilai nilai keindahan yang membawa kesejahteraan dan keberkahan. (d)
T#gs Kekuatan PasanganMadyamiko Gunarko HartoyoRenungan Buddha Dhammamimbar agama buddha
Komentar
Komentar
Silakan Login untuk memberikan komentar.
FB Comments