Senin, 28 Sep 2020

Renungan Buddha Dhamma

Kebencian Pencuri Kebersamaan

Oleh Madyamiko Gunarko Hartoyo
redaksisib Sabtu, 18 Januari 2020 18:16 WIB
artikelbuddhist.com
Ilustrasi
Sejak kegiatan pemilihan umum langsung terakhir ini, kita disibukkan dengan banyaknya fenomena ujaran kebencian. Tanpa kita sadari kebencian seperti barang yang pantas diperjualbelikan untuk memenangkan hasil pemilihan umum. Pada akhirnya kehidupan bermasyarakat menjadi sangat tidak memberikan kenyamanan, ketidaksenangan dan kecurigaan karena dibalut kebencian.

Kebencian atau dosa merupakan salah satu bentuk kekotoran batin yang menjadi akar dari kejahatan, selain lobha (keserakahan) dan moha (kegelapan batin). Dengan adanya kebencian yang muncul dalam diri seseorang, maka akan memunculkan kemarahan, iri hati, jengkel, dan dendam. Sehingga perbuatan yang dilakukan lewat tubuh, ucapan, dan pikiran menjadi tidak terkendali dan tidak sesuai dengan Dhamma ajaran Buddha, misalnya ucapannya kasar, dengan tangannya ia memukul, pikirannya menjadi keruh, penuh dendam, dan mengharapkan orang lain celaka.

Bahkan kebencian yang ditimbulkan dari upaya memenangkan pemilihan umum termasuk kamma yang sedemikian buruk dengan menyebarkan kebencian dalam masyarakat dibalut dalam tiga akar kejahatan. Kebencian dihasilkan dengan memanfaatkan kegelapan batin dan keserakahan yang menjadi potret kondisi masyarakat kita. Kebencian dibentuk dengan ramuan kondisi tertentu sedemikian rupa sehingga seseorang merasa pernah dirugikan orang lain, sedang dirugikan orang lain, dan akan dirugikan orang lain. Ataupun seseorang yang kita sayangi pernah dirugikan orang lain, sedang dirugikan orang lain, dan seseorang yang kita sayangi akan dirugikan orang lain. Juga bisa karena orang yang tidak kita sukai pernah dibantu orang lain, sedang dibantu orang lain dan karena orang yang tidak kita sukai akan dibantu orang lain, atau karena iri hati, merasa tidak senang atau tidak suka dengan kebahagiaan makhluk lain, atau karena merasa tersinggung/ terganggu sehingga seseorang menjadi marah dan penuh kebencian. Pada dasarnya, kebencian disebabkan besarnya ego/keakuan di dalam diri seseorang.

Kebencian yang timbul di tengah masyarakat saat ini sangat merugikan, tidak hanya antar kelompok masyarakat bahkan sesama saudara ataupun dalam satu rumah tangga bisa terbius kebencian yang telah disebar sedemikian rupa.

Seseorang yang mempunyai sifat membenci, marah, jengkel atau mempunyai sifat pendendam, ada beberapa kerugian yang akan diterimanya. Dalam kitab suci Anguttara Nikaya, Buddha menjelaskan akibat dan kerugian bagi seseorang yang memiliki sifat membenci, yaitu ia akan kelihatan jelek meskipun berbusana rapi, ia akan terbujur kesakitan (tidak bisa tidur nyenyak meskipun tidur di kasur yang empuk sekalipun), ia hanya akan melakukan perbuatan yang akan membawa pada kerusakan dan penderitaan. Ia akan menghabiskan kekayaan yang diperolehnya dengan susah payah dan bahkan bisa berurusan dengan hukum, ia akan kehilangan nama baiknya, Ia akan dijauhi teman, saudara dan orang-orang yang dikasihinya dan setelah meninggal dan tubuhnya hancur akan terlahir di alam yang menderita.

Dalam kitab suci Anguttara Nikaya V, 161, Buddha menjelaskan ada lima hal yang bisa kita lakukan untuk menghilangkan kebencian, yaitu pengembangn cinta kasih , Karuna/belas kasihan, Upekkha/ keseimbangan batin, berusaha melupakan kebencian itu (asati-amanasikara) dan merenungkan tentang kepemilikan kamma masing-masing (tanggung jawab kamma) serta memancarkan metta di dalam diri kepada semua makhluk, maka kebencian tidak akan masuk ke dalam batin (Kammasakata) .

Diuraikan oleh Sang Buddha dalam Kitab Suci Anguttara Nikaya XI, 16, ada sebelas manfaatnya terhindar dari kebencian, yaitu: tidur nyenyak, tanpa mimpi buruk, dicintai oleh manusia, dicintai oleh makhluk bukan manusia (binatang, makhluk halus, dan lain-lain). Akan dilindungi para dewa, api, racun dan senjata tidak bisa melukainya. Pikirannya mudah terkonsentrasi, kulit wajahnya jernih, akan meninggal dengan tenang (tidak bingung). Jika tidak menembus lebih tinggi, maka akan terlahir kembali di alam brahma.

Jangan biarkan kebahagiaan kita menjadi berkurang bahkan hilang hanya karena kebencian, kemarahan, kejengkelan, dendam atau iri hati muncul dalam batin kita. Selalulah waspada kepada pikiran kebencian yang sangat berbahaya bilamana timbul dalam diri kita. Bahkan saat ini justru dengan mudah pikiran kita di olah dengan kondisi tertentu membenci sesuatu seperti halnya kejadian perpecahaan masyarakat dalam pemilihan umum. (c)
T#gs
Berita Terkait
Komentar
Komentar
Silakan Login untuk memberikan komentar.
FB Comments