Sabtu, 04 Jul 2020
PalasBappeda

Renungan Buddha Dhamma

Jangan Salah Kaprah

* Oleh: Upasaka Pandita RudiyantoTanwijaya
redaksisib Sabtu, 16 Mei 2020 12:21 WIB
dhamma-stream.blogspot.com

Ilustrasi

Dalam biografi Maha Biksu Kuan Ching (1892-1986), seorang guru besar yang terkenal dengan pelatihan samadhi-nya, dikisahkan pada suatu ketika, beliau didatangi oleh seorang biksu muda yang penuh semangat.

Biksu muda ini rupanya berencana untuk melakukan penyunyian diri atau istilah yang sering kita dengar, retret. Dalam perjumpaannya dengan guru besar, ia menyampaikan bahwa untuk retretnya ini, ia membutuhkan sebidang lahan yang luas, dimana ia akan membangun sebuah taman kecil sehingga membuat adem.

Mendengar penuturan biksu muda tersebut, Maha Biksu Kuan Ching tersenyum.

"Ketika kita melakukan retret, sebenarnya yang harus retret itu batin atau jasmani? Jika batin ini yang retret, maka fisik kita yang rapuh ini saja sudah demikian besar dan amat sulit untuk dilayani. Jika jasmani ini mau dimanjakan, saya rasa seluruh alam semesta ini pun tidak cukup untuk memenuhi kebutuhan fisik ini. Sebenarnya retret adalah melatih untuk mengendalikan enam gerbang indriya. Demikian Biksu Kuan Ching memberi penjelasan secara spontan, sehingga biksu muda ini tersipu menahan malu.

Kisah di atas merupakan peristiwa nyata yang pernah terekam dalam sejarah perjalanan hidup Biksu Kuan Ching dan masih relevan dengan kondisi saat ini.

Sebagai siswa Buddha sudah pasti kita dituntut untuk giat berlatih. Berlatih untuk apa? Tentu untuk melepaskan segala kemelakatan yang menghambat pembebasan batin kita. Namun sering dalam kenyataannya, yang kita lakukan justru adalah makin membebani diri ini dengan segala macam tetek bengek yang ujung-ujungnya menebalkan kembali kemelakatan dalam batin ini. Dengan kata lain, tujuan akhir menjadi tak tercapai.

Seorang teman yang melakukan pertapaan di hutan, malah menyibukkan dirinya dengan persiapan membawa kemah, bekal makanan, buku-buku, obat anti serangga, dan sebagainya. Alih-alih ia berlatih, di hutan ia bagaikan piknik. Semuanya tersedia dan nyaman. Maka setelah kembali dari hutan, ia tak membawa kemajuan apa-apa.

Atau rekan lain yang mencoba mendedikasikan hidupnya dengan bergabung dengan sebuah organisasi sosial Buddhis. Namun setelah bergabung di sana, waktunya habis dengan bergosip, merancang siasat untuk menjatuhkan orang lain, mengincar jabatan, mempersiapkan kegiatan yang sifatnya unjuk kekuatan, dan sebagainya. Akibatnya, ia lupa pada tujuan semula. Waktunya habis untuk berbagai hal yang tak bermanfaat bagi kemajuan batinnya.

Juga ada seorang sahabat yang mencoba mendalami Dharma dengan berguru kepada seorang biksu senior. Namun semakin lama, apa yang dipelajarinya malah dipergunakan sebagai 'senjata' untuk menyerang orang lain, seolah-olah dirinya paling benar dan semua orang salah. Malah kedekatannya dengan biksu senior, menjadikan dirinya bagaikan manusia suci. Akibatnya ia juga tak memperoleh manfaat bagi kemajuan batinnya.

Hal-hal demikian menjadi sangat lumrah terjadi apabila kita tidak benar-benar menghayati Dharma. Ibarat berkendaraan tanpa memahami peta lokasi, maka kita menjadi salah jalan dan tersesat. Sungguhlah menyedihkan.

Sebagai siswa Buddha kita harus paham benar, apa yang akan kita cari, apa metode yang kita gunakan, dan siapa yang membimbing kita. Tanpa ini, maka dalam Buddha Dharma, kita hanya seperti orang yang melakukan shopping di pusat perbelanjaan. Sibuk mengitari etalase, namun tak tahu apa yang akan dibeli. Akibatnya kita akan menghabiskan waktu dan energi.

Menjadi siswa Buddha adalah berkah yang tak terkira. Sampai-sampai Ratu Wu Ze Thian (624-705), yang terkenal sebagai Penguasa Buddhis pada zaman Dinasti Tang, pernah menuliskan syair bahwa kesempatan untuk berjumpa dengan Dharma adalah amat langka dalam jutaan kalpa kelahiran. Maka kepada yang berjodoh, sudah pasti harus menghayati dan mengamalkannya semaksimal mungkin.

Jadi amat menyedihkan jika yang sudah berkesempatan berjumpa dengan Dharma, malah menyelewengkannya demi kepentingan nafsu duniawinya.

Ajaran Buddha sungguh luas tak terbatas, bagaikan samudera yang tak bertepi. Namun ingatlah, intinya cuma satu yaitu: pembebasan. Apabila kita mempelajari Buddha Dharma, namun tidak merasakan 'pembebasan' ini, maka kita perlu mengevaluasi apa yang telah kita kerjakan dan lakukan. Jangan-jangan kita sudah salah jalan. (p)
T#gs Renungan Buddha DhammaUpasaka Pandita RudiyantoTanwijaya
Komentar
Komentar
Silakan Login untuk memberikan komentar.
FB Comments