Selasa, 22 Okt 2019

Indahnya Bermaaf-maafan

* Oleh : Mina Wongso
Sabtu, 30 Juli 2016 14:41 WIB
"Ia menghina saya, ia memukul saya, ia mengalahkan saya, ia merampas milik saya." Selama seseorang masih menyimpan pikiran seperti itu, maka kebencian tak akan pernah berakhir.

"Ia menghina saya, ia memukul saya, ia mengalahkan saya, ia merampas milik saya." Jika seseorang sudah tidak lagi menyimpan pikiran-pikiran seperti itu, maka kebencian akan berakhir.

Dhammapada - Yamaka Vagga
 
Baru saja kita lewatkan libur panjang untuk merayakan Hari Raya Idul Fitri. Kuliner khas lebaran memang pantang dilewatkan dan sangat menggoda, tetapi yang paling indah dari perayaan Idul Fitri ini  adalah tradisi mohon maaf lahir batin antar sesama keluarga, kerabat dan teman. Memulai kembali perjalanan ke depan dengan hati yang bersih dari ganjalan, meminjam istilah Pertamina, kita  mulai lagi dari nol.  

Meminta maaf dan memaafkan terdengar seperti sepele dan mudah  dilakukan oleh siapa saja, namun ketika meminta dan memberi maaf dilakukan dengan hati yang tulus, maka perbuatan ini memiliki makna yang sangat berbeda. Meminta dan memberi maaf sama sekali tidak mudah dilakukan. Elton John menulis dalam lirik lagunya, "Sorry seems to be the hardest word" maaf adalah kata yang paling berat diucapkan.

Kenapa orang sulit minta maaf? Pertama, minta maaf berarti mengaku salah, sementara ada pepatah yang menyatakan semut di seberang pulau tampak, tapi gajah di pelupuk mata tak nampak. Kita cenderung melihat kesalahan orang lain, namun sulit menemukan kesalahan pada diri sendiri. Kendala yang kedua adalah rasa gengsi, meski sudah mengetahui bahwa kita salah, namun mengakui nya secara terbuka seolah olah menjatuhkan harga diri sehingga berat sekali untuk diucapkan. Kendala ketiga adalah menganggap sepele kesalahan yang dibuat diri sendiri sehingga merasa tak perlu lah minta maaf, hanya salah kecil saja. Atau individu minta maaf, tapi hanya sekedar basa basi saja.

Orang sulit minta maaf, karena mengakui dirinya salah sering kali dianggap mengakui kelemahan. Dan tidak ada seorangpun yang ingin tampak lemah di mata orang.  Terlalu banyak interaksi yang rusak hanya karena keengganan salah satu pihak untuk meminta maaf. Minta maaf berarti menerima kesalahan yang telah diperbuat, atau ketika seseorang memang benar benar tidak bersalah namun bersedia untuk minta maaf demi keharmonisan interaksi dalam hubungan sosial.  Dengan satu kata maaf, kebekuan pun mencair.

Ada anekdot tentang seorang pria yang menyampaikan pada ayahnya, bahwa dia berencana untuk menikah. Ayahnya bilang bahwa dia harus minta maaf terlebih dahulu. Pria itu kaget dan bertanya,  apa salahku? Ayahnya bilang pokoknya kamu minta maaf dulu. Mereka berdua sama sama ngotot, anak ngotot  minta alasan kenapa dia harus minta maaf dan ayah tetap bersikeras bahwa sang anak harus minta maaf. Sampai satu titik tertentu di mana  akhirnya si anak pun mengalah, "ok ayah. Aku minta maaf.". Ayahnya pun tersenyum dan berkata, "Sekarang kamu sudah siap untuk menikah nak"

Moral dari cerita ini adalah lebih penting untuk mempertahankan suatu hubungan dan menjaga keharmonisan rumah tangga daripada menemukan siapa yang benar dan siapa yang salah. Untuk itu harus ada  satu pihak yang harus siap untuk mengalah dan minta maaf meskipun ia tidak tahu sama sekali kesalahan apa yang sudah ia lakukan. Orang minta maaf sama sekali tidak mencerminkan kelemahan diri, malah justru kebesaran jiwa. Bayangkan bagaimana perasaanmu jika ada orang lain minta maaf padamu untuk kesalahan yang kamu lakukan sendiri.

Memaafkan berarti melepaskan, ketika seseorang memendam kesal atas perilaku pihak lain pada dirinya maka pihak pertama yang paling dirugikan oleh rasa kesal itu adalah dirinya sendiri. Laksana membawa sekarung batu kerikil kemana mana, seperti itulah rasa benci membebani hidup orang yang sulit memaafkan. Setiap kali bertemu dengan orang itu,  marah pun timbul, karena pikiran memutar kembali peristiwa yang memicu perasaan negatif tersebut. Ia melakukan ini padaku, ia merebut itu dariku, ia tidak mengerjakan apa yang kuinginkan dan seterusnya. Akibatnya kita bertambah marah, menjadi gelisah dan menimbulkan berbagai efek negatif pada diri  misalnya sulit tidur, tak enak makan dan hilang konsentrasi dan cemas yang berujung pada fisik manusia.  Jika direnungkan, apa yang membuat kita menderita sebenarnya bukan karena pihak lain, melainkan karena reaksi dari diri kita sendiri.  Satu quote dari Nelson Mandela-pemimpin legendaris dari Afrika Selatan- yang sangat disukai "As I Walked out the door to wards the gate that would lead my freedom, I knew if I didn't leave my bitterness and hatred behind, id still be in prison." Saat aku melangkah menuju pintu gerbang kemerdekaan, aku tahu jika aku tidak meninggalkan kepahitan dan kebencianku di belakang, maka aku tetap akan terpenjara.

Buddha Gautama pernah mengkisahkan tentang dendam dan kebencian antara istri tua dan istri muda yang saling membalas dan terus berlanjut dari satu kehidupan ke kehidupan lainnya, sampai mereka bertemu dengan Buddha dan mereka mendapatkan nasehat dalam syair sebagai berikut " Bukan dengan membenci, kebencian dapat lenyap dari dunia ini, Tetapi oleh cinta-kasih kebencian dapat dilenyapkan. Inilah Dhamma yang benar." Ketika mereka dapat menyelesaikan silang sengketa dan dendam kesumat  antara mereka berdua dan hidup damai, maka kehidupan mereka berangsur angsur membaik dan kebahagiaanpun menghampiri.

Direnungkan lagi lebih jauh, apapun yang terjadi pada diri kita, merupakan akibat dari perbuatan kita sendiri. Jadi mengapa membenci orang lain untuk sesuatu yang memang pantas kita terima. Ketika mereka melakukan sesuatu yang menyakitkan, alih alih marah, kita justru berterima kasih, sebab mereka telah menyelesaikan hutang karma kita, sekaligus kasihan, karena orang itu sedang menanam bibit kejahatan untuk dirinya sendiri.

Saat individu memahami fenomena ini dan memilih untuk memaafkan, saat itulah beban berat sekarung kerikil diangkat dari pundaknya. Ia akan merasakan ringannya hidup tanpa memikul kemarahan dan kebencian kemana mana. Ketika itu terjadi ekspresinya menjadi cerah dan bersahabat. Tidur nyenyak, makan enak, membuat kecemasan meninggalkan dirinya. Harmonis dan damai dalam jiwa pasti terpancar dalam raganya, kesehatan yang baik, cantik luar dalam membuat kita jadi individu yang lebih menyenangkan dan bersahabat.  Hidup jadi indah dengan saling memaafkan. (r)

T#gs
Komentar
Komentar
Silakan Login untuk memberikan komentar.
FB Comments