Sabtu, 08 Agu 2020

Renungan Buddha Dhamma

Harga Sebuah Rasa Hormat

Oleh Upa. Madyamiko Gunarko Hartoyo
redaksisib Sabtu, 04 Juli 2020 11:14 WIB
bsd.pendidikan.id

Ilustrasi

Diceritakan pada suatu waktu Bodhisatta terlahir sebagai putra dari seorang kaum rendah candala. Ketika dewasa, dia melakukan perjalanan atas tujuan tertentu, dengan membawa sejumlah nasi dan makanan di dalam sebuah keranjang daun sebagai persediaan makanannya. Kala itu terdapat seorang pemuda bernama Satadhamma, putra dari seseorang yang mulia kastanya, seorang brahmana utara. Dia juga melakukan perjalanan atas tujuan tertentu, tetapi tidak ada nasi ataupun makanan yang dibawanya dengan keranjang.

Keduanya bertemu di jalan besar dan memahami masing masing dari kasta mana serta melakukan perjalanan bersama. Waktu sarapan tiba, Bodhisatta duduk di tempat yang ada air jernih, mencuci tangannya, dan membuka keranjangnya. Bodhisatta menawarkan makanan kepada pemuda tersebut namun ditolak karena perbedaan kasta mereka.. Dengan hati-hati agar tidak menghamburkan sedikit pun, dia meletakkan makanan sebanyak yang diinginkannya pada sehelai daun yang terpisah dari yang lainnya, mengikat kembali keranjangnya, dan mulai makan. Kemudian mereka melanjutkan perjalanan kembali.

Seharian mereka berjalan bersama, dan di saat petang hari, mereka berdua mandi di tempat air yang jernih. Setelah mereka keluar, Bodhisatta duduk di sebuah tempat yang menyenangkan, membuka bungkusannya dan mulai makan. Kali ini dia tidak menawarkannya kepada brahmana itu. Brahmana muda itu letih karena telah berjalan seharian dan sangat lapar sekali. Karena tidak ditawarkan makanan tersebut, brahmana muda meminta sedikit darinya dan membuang bagian luarnya yang kotor kemudian memakan sisanya.

Segera setelah selesai makan, dia menyadari telah memalukan statusnya, kasta keluarga dengan memakan sisa-sisa dari seorang candala. Benar-benar sangat kuat penyesalannya. Dia memuntahkan makanannya dan darah keluar besertanya serta meratap betapa buruk perbuatan yang telah dilakukannya. Dia mengasingkan dirinya di dalam hutan dan tidak pernah membiarkan mata mana pun melihatnya lagi, dan di sana dia meninggal dalam kesendirian.

Demikianlah bagaimana cerita ini memberikan inspirasi bagi kita. Seseorang yang menganggap dirinya lebih terhormat dan tidak dapat menghomati orang lain akhirnya tidak mendapat kebahagiaan, walaupun telah mendapat makanan untuk menyokong kehidupannya. Hal ini dikarenakan dirinya membuang waktu dan pikiran menimbun kebencian pada orang yang tidak dihormati. Dikarenakan pikiran tidak menghormati orang lain, seorang yang mulia kadang membutakan pandangan pada sesuatu yang benar. Pikiran negatif tersebut pada akhirnya hanya berujung pada penderitaan dan kesengsaraan.

Dalam Manggala Sutta, memiliki rasa hormat merupakan salah satu berkah utama. Dengan mempraktekkan rasa hormat, maka seseorang menumbuhkan kerendahan hati dan rasa berterima-kasih. Nilai hormat akan memberikan banyak peluang dan kesempatan dengan membuka hati agar seseorang mampu menjalani kehidupan mulia dan seimbang serta bahagia.

Menghormati orang lain adalah sikap yang sangat baik dan bermanfaat. Tak hanya mengurangi musuh, rasa hormat membantu seseorang lebih berkembang, lebih dewasa, dan berpengetahuan. Nilai hormat itu memberi banyak peluang dan kesempatan. Hati orang lain akan terbuka untuk orang-orang yang memperlakukannya secara hormat dan penuh cinta. Menghormati orang lain adalah salah satu nilai kemanusian yang penting dan tak akan pernah tergantikan oleh mata uang apapun di dunia. Bahkan orang-orang biasanya menghabiskan waktu mencari hormat dalam rangka membangun reputasi yang baik dengan menghormati orang lain.

Menghormati adalah salah satu berkah utama dalam hidup kita. Nilai yang berharga ini membantu kita menjalani hidup damai dan seimbang. Menghormati orang lain mendukung tujuan kita untuk membuat hidup lebih mudah. Musuh sekali pun bisa menjadi guru sekaligus inspirasi. Mereka justru bisa memberikan keuntungan bagi kita.

Orang - orang yang dihormati akan memberikan keuntungan bagi seseorang. Karenanya memiliki rasa hormat merupakan salah satu berkah utama sebagaimana diuraikan dalam Manggala Sutta. Memiliki rasa hormat, mendukung tujuan hidup kita menjadi bahagia.

Perlakukan setiap orang dengan hati dan rasa hormat, meski mereka tidak pada nilai yang tepat bagi kita untuk dihormati. Ingatlah bahwa menunjukkan penghargaan pada orang lain bukan karena siapa mereka, tetapi karena siapakah diri kita sendiri. Rasa hormat muncul kalau kita bertingkah laku terhormat. (f)
T#gs Rasa HormatRenungan Buddha DhammaUpa. Madyamiko Gunarko Hartoyomimbar agama buddha
Komentar
Komentar
Silakan Login untuk memberikan komentar.
FB Comments