Senin, 21 Okt 2019

Hantu

* Oleh :Mina Wongso
Sabtu, 20 Agustus 2016 21:36 WIB
Atta hi attano natho Ko hi natho paro siya Attana va sidamtema Natham labhati dullabham

Diri sendiri sesungguhnya adalah pelindung bagi diri sendiri, karena siapa pula yang dapat menjadi pelindung bagi dirinya? setelah dapat mengendalikan dirinya sendiri dengan baik, ia akan memperoleh perlindungan yang sungguh amat sulit dicari.

Kumarakassapamathuttheri Vatthu Dhammapada 160
Berkat film Conjuring 2, sebuah film horor yang diangkat dari kisah nyata, Valak sosok hantu dalam film ini menjadi selebriti yang paling banyak dibicarakan. Popularitasnya jauh lebih tinggi dibandingkan kedua pemeran utama yang seharusnya menjadi sorotan umum. Valak bahkan dijadikan sebagai lelucon bergambar mengundang senyum atau yang lebih dikenal dengan istilah meme, menyimpang dari tujuan utamanya yang datang untuk menakut nakuti para pecandu film horor.

Sosok hantu merupakan sosok misterius yang memancing ingin tahu sekaligus takut pada masyarakat pada umumnya. Gambaran tentang sosok hantu yang begitu beragam, bahkan disesuaikan dengan kebudayaan setempat di mana hantu hantu itu muncul. Hantu dari negeri Barat muncul dalam setelan jas yang ganteng, sementara hantu dari negeri China memakai pakaian tradisional yang tampak mewah.

Indonesia sendiri mengenal beragam mahluk halus dengan berbagai nama, gaya dan penampakan. Bayangan hantu yang samar samar ini justru jadi ajang ekspresi imaginasi yang cukup kreatif. Beberapa tayangan televisi yang sempat popular menceritakan tentang program penangkapan hantu yang berdomisili di tempat tertentu sangat menarik perhatian masyarakat dengan berbagai bumbu dan issue yang menambah penasaran orang. Di sisi lain, tidak sedikit orang yang meragukan keberadaan hantu ini sebagai khayalan manusia belaka. Pro dan kontra mengenai hantu amatlah menarik untuk dibahas. Hantu atau mahluk halus dalam agama Buddha dikenal sebagai mahluk dari alam Peta dan alam Asura. Seseorang dapat terlahir ke alam Peta karena melakukan perbuatan yang didasari oleh Lobha atau keserakahan.

Karena kemelakatannya yang sangat kuat, membuat orang yang sudah meninggal ini tidak dapat meninggalkan dunia ini, akibatnya ia hidup bergentayangan di dalam lingkungan di mana ia hidup dulu dengan batin yang tersiksa karena keinginan kuat yang belum tercapai serta rasa lapar dan dahaga yang tak terpuaskan.

Mahluk peta sering disebut sebagai mahluk yang tak pernah merasakan kesenangan. Mahluk Asura adalah mahluk yang memiliki kekuatan lebih dibandingkan dengan mahluk peta, pada masa hidupnya dulu, para mahluk Asura ini telah melakukan latihan latihan spiritual, namun tidak sempurna karena misalnya belajar aliran sesat, atau belajar dengan niat yang sesat, atau belajar nya sudah benar namun hatinya masih ternodai dengan kebencian maupun ketamakan, sehingga mahluk Asura ini pada umumnya memiliki kesaktian khusus, beberapa memiliki kesaktian yang melebihi manusia bahkan juga dewa -dewa. Seperti halnya mahluk peta, mahluk asura ini juga tergolong sebagai mahluk tak bahagia.

Para rohaniwan yang meskipun telah menempuh jalan kesucian namun perjalanannya ternodai oleh kebencian, iri hati, maupun keinginan egois untuk menjadi sakti, terlahir kembali di alam ini, hal ini menjelaskan fenomena Valak yang berwujud seorang biarawati. Mahluk Asura seperti halnya manusia, ada yang baik dan juga ada yang jahat. Mahluk Asura jahat inilah yang memanfaatkan naluri manusia mencari jalan pintas untuk menjadi kaya ataupun menyerang dan menyakiti orang lain yang dianggap mengganggu dengan cara memberikan bantuan, yang dikenal dengan nama penglaris, dan sebagai balasannya mereka akan meminta imbalan.

Mahluk Asura lain menggunakan badan manusia sebagai medium bagi dirinya untuk berinteraksi dengan manusia menyalurkan pertolongan bagi manusia, baik untuk mendapatkan imbalan yang ia inginkan maupun usaha nya untuk berbuat baik agar dapat terlahir kembali ke alam manusia. Alam manusia merupakan alam yang memiliki kondisi paling sempurna untuk berlatih diri, karena di alam manusia ini ada keseimbangan antara penderitaan dan kebahagiaan yang memungkinkan seseorang untuk melatih diri, orang tak mungkin bisa berlatih di alam neraka maupun alam peta, sebab terlalu menderita untuk itu.

Sebaliknya alam dewa dan alam surga menawarkan kebahagiaan yang begitu berlimpah sehingga tidak mendorong upaya melatih diri. Dalam Nakhasikha Sutta, Buddha mengumpamakan kesempatan terlahir sebagai manusia itu laksana debu yang ada di ujung kuku Buddha dibandingkan dengan debu yang ada di permukaan bumi yang dilambangkan dengan kesempatan terlahir kembali di alam - alam rendah.

Artinya kesempatan untuk dapat terlahir kembali sebagai manusia benar benar sangat kecil, apalagi menjadi manusia yang diberi kesempatan untuk mengenal Dhamma. Dengan kondisi yang lebih baik daripada mahluk Peta maupun mahluk Asura, daripada takut pada mahluk peta lebih cocok mengasihani mereka, dan membantu mereka membebaskan diri dari penderitaanya dan terlahir kembali ke alam yang lebih baik.

Caranya adalah memberikan pelimpahan jasa dari perbuatan perbuatan baik yang telah kita lakukan. Daripada meminta bantuan pada mahluk Asura, lebih baik melatih diri sendiri dengan Sila. Samadhi dan Panna dan menjadikan diri sendiri sebagai tempat untuk berlindung dan minta bantuan. (c)
T#gs
Komentar
Komentar
Silakan Login untuk memberikan komentar.
FB Comments