Jumat, 18 Okt 2019

Guru Sejati Bagi Diri Sendiri

Oleh: Upa. Rudiyanto Tanwijaya
Sabtu, 14 Juni 2014 12:07 WIB
Ada kalimat yang bagus dari Master Thich Nath Hanh, yang bunyinya demikian: "guru yang arif bijaksana adalah mereka yang membantu muridnya menyadari bahwa ada guru dalam dirinya sendiri."

Dalam Buddhisme, Buddha Sakyamuni merupakan Guru Agung yang Sempurna. Selama 40 tahun pelayanan Dharma-Nya di dunia ini, Beliau mengajarkan banyak sekali hal yang luar biasa.

Buddha tidak pernah meng-klaim bahwa diri-Nyalah penyelamat tunggal bagi manusia. Buddha juga tidak pernah menyatakan bahwa diri-Nya lah memegang otoritas atas Dharma yang diajarkan-Nya.

"Para biku, apakah para Tathagata muncul atau tidak, Dharma ini tetap ada, hukum yang kekal, hukum yang mengatur, hubungan terkondisi sebab akibat ini terhadap itu.." (S.II.25).

Demikian yang pernah diucapkan Buddha dengan penuh kerendahan hati.

Secara praktik, Buddha hanya sebagai penunjuk jalan bagi manusia, untuk terbebas dari penderitaan.

Menjadi Pulau bagi Diri Sendiri

Bahwa penderitaan yang dialami oleh manusia secara substansi bersumber dari ketidaktahuan (avidya) dan nafsu keinginan yang kuat (tanha), yang cenderung mengondisikan manusia senantiasa berada dalam ketidakpuasan yang berkelanjutan.

Sumber penderitaan ini timbul dari dalam diri sendiri bukan dari orang/makhluk lain. Selama membabarkan ajaran-Nya, tak sekalipun Buddha pernah menyalahkan orang/makhluk lain atas penderitaan yang kita alami.

Dengan kata lain, hukum tuai berlaku dalam ajaran Buddha. Siapa yang menanam akan menuai hasil. Satu akibat merupakan hasil dari sebab.

Oleh sebab itu, Buddha pernah mengingatkan, jadilah pulau bagi diri kita sendiri. Jangan pernah berharap apalagi menyalahkan orang/makhluk lain. Pernyataan ini, tentu saja bukan dalam konteks pemahaman individualis yang sempit, tetapi lebih kepada pemahaman bahwa atas perbuatan kita, diri sendirilah yang bertanggung jawab.

Diri Sendiri sebagai Guru Sejati

Sesudah Buddha mangkat dengan agung (Maha Parinibbana), Beliau tidak menunjuk penerus-Nya. Berpeganglah kepada Dharma, pesan Buddha kepada para siswa-Nya yang terkasih.

Dharma, yang dimaksud di sini adalah Kebenaran, yang bukan ciptaan Buddha, melainkan Kebenaran yang memang sudah berlaku sebelumnya di alam semesta ini dimana Buddha-lah yang menggalinya kembali untuk kemudian diajarkan kepada manusia.

Manusia atau kita diharapkan melatih diri dengan apa yang telah disampaikan oleh Buddha. Buddha tidak pernah memberi paksaan atau ancaman atas apa yang disampaikan-Nya. Semua keputusan ada di tangan kita sendiri. Dampaknya cuma dua, yaitu kebahagiaan atau penderitaan.

Buddha juga tidak  mengharapkan ketergantungan pada diri-Nya, karena itu bukan hal yang baik. Dharma bukan milik sekelompok orang. Tetapi semua makhluk yang ingin mempelajari dan memahaminya dengan baik.

Dalam kesempatan pelayanan-Nya, Buddha hanya melatih dan memotivasi  kita untuk menjadi manusia yang mandiri yang tekun berlatih. Sehingga pada satu ketika, diri ini menjadi majikan yang sejati, yang mampu menguasai diri kita. Jika sudah demikian, maka penderitaan akan pupus.

Inilah yang disebut Guru Sejati, yaitu guru yang bersemayam dalam diri sendiri, sebagaimana yang disebutkan oleh Master Thich Nath Hanh. (* Penulis adalah Pengurus Majelis Buddhayana Indonesia (MBI) Provinsi Sumatera Utara/f)

T#gs
Komentar
Komentar
Silakan Login untuk memberikan komentar.
FB Comments